Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
1


__ADS_3

    "Berhenti lo! Jangan lari lo!"


    Secepat mungkin aku berlari menjauhi para preman itu. Beberapa orang laki-laki bertubuh besar dan berotot mengejarku kemana pun aku berlari. Aku melewati gang-gang kecil agar bisa terhindar dari kejaran mereka. Sekuat tenaga aku berlari. Saat di persimpangan jalan, aku melangkahkan kaki untuk menyebrang tanpa melihat sekeliling. Karena ketakutanku yang menderu, aku tidak melihat sebuah mobil sedan tiba-tiba muncul dan menabrakku. Aku terjungkal dan mencium aspal. Tubuhku lemas, aku tidak sanggup untuk berdiri. Pandangan mataku kabur, aku hanya melihat seseorang keluar dari mobil dan memanggilku. Namun, aku tidak bisa menjawabnya. Lalu, dia menggendongku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya. Aku bersyukur, karena paling tidak, preman itu tidak mengejarku lagi.


    Aku masih lemas tidak sanggup untuk membuka mata. Aku bisa merasakan orang yang membawaku sedang mengendari mobilnya dengan sangat cepat. Berulang kali dia mengumpat, aku tidak tahu kenapa. Perlahan, aku membuka mata. Kepalaku sakit sekali dan tubuhku terasa nyeri. Lalu, aku merasakan mobil telah berhenti. Ku paksa mataku untuk terbuka. Aku terkejut, karena melihat seorang laki-laki duduk di sebelahku di dalam mobil. Ia mengambil air putih dan memberikannya kepadaku. Aku tidak menolak. Ku minum air itu seakan aku tidak menenggak air selama satu minggu. Perlahan, pandanganku membaik. Aku menarik napas untuk menenangkan diri.


    "Lo enggak apa-apa?"


    "Gue dimana?" tanyaku bingung. Kami berhenti di bahu jalan.


    "Di mobil gue, tadi lo gue tabrak. Karena kesalahan lo yang tiba-tiba muncul dari gang," ucapnya sembari menelusuri pakaianku yang lusuh. Aku tahu apa yang dia pikirkan.


    "Makasih sudah menolong gue. Maaf, gue sudah buat lo susah."


    Aku segera keluar dari mobilnya. Sebelum keluar, aku melirik sekeliling, apakah aku masih ada di area mereka. Tapi, aku lega. Ternyata laki-laki ini akan membawaku ke Rumah Sakit karena beberapa meter ke depan aku sudah melihat Rumah Sakit Swasta.


    "Eh, mau kemana?" katanya dan mengejarku keluar dari mobil. "Gue mau pulang," jawabku pelan. Aku harus waspada, karena aku kan tidak mengenal laki-laki ini. Memang, wajahnya tidak menunjukkan kalau dia adalah orang yang jahat. Tapi, siapa sangka orang-orang kaya yang berpakaian bagus malah memiliki niat buruk kepada orang miskin sepertiku. Human Trafficking, misalnya.


    "Rumah lo di mana? Enggak baik cewek jalan sendiri malam-malam begini. Ini sudah jam dua pagi," katanya sembari melirik jam tangan Rolex miliknya.


    "Gue bisa pulang sendiri," jawabku yakin. Padahal, aku masih takut kalau preman itu ternyata menguntitku dari belakang.


    "Jangan begitu. Hari ini aku mau buat kebaikan. Ayo, biar gue antar lo ke rumah."


    "Aku bisa pulang sendiri. Jangan paksa gue!" aku membentaknya kesal. Aku jahat mungkin, karena aku membentak orang yang telah menolongku. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Rumah? Bahkan keluar aku tidak punya.


    Aku adalah perempuan yang tinggal di pinggir jalan, di mana aku menemukan tempat untuk tidur, di situ aku akan tinggal. Jika aku ingin makan, aku akan mengamen atau menjual jasa sebagai pencuci piring di berbagai restauran. Jika aku ingin mandi, aku akan menumpang di mesjid atau gereja.


    Sejak aku umur lima belas tahun sampai aku berumur tujuh belas tahun, aku masih tinggal di jalanan. Kedua orang tuaku meninggal, satu hari sebelum aku ulang tahun yang ke lima belas. Disusul oleh Abangku yang mati di keroyok oleh segerombolan preman.


    Dulu, Ayah sering bergabung dengan para preman di wilayah ini. Bermain judi setiap hari sampai akhirnya ia tidak membayar hutang judinya. Seluruh perhiasan Ibu habis dijual Ayah hanya untuk bermain judi. Abangku yang cita-citanya bisa kuliah pun tidak tercapai karena ulah Ayah. Kami semakin miskin, tinggal di rumah yang enggak layak pakai. Semenjak itu, Ibu sering sakit-akitan. Kami pun mulai di datangi oleh para preman untuk menagih hutang Ayah yang belum terbayar. Abangku yang waktu itu berumur sembilan belas tahun dan aku masih tiga belas tahun, habis di keroyok oleh preman. Mereka tidak memandang, apakah perempuan atau laki-laki. Bagi mereka, hutang tetap harus dibayar. Karen kejadian itu, Abangku meninggal dunia.

__ADS_1


    Ibu semakin tertekan karena kepergian Abangku. Setahun setelah kepergian Abang, Ibu menyusul. Aku yang waktu itu masih belum mengerti apa-apa, sudah ditinggal oleh orang yang ku sayang.


    Dua bulan kepergian Ibu dan Bang, Ayah-lah yang mengurusku. Dia mulai mencari pekerjaan dan menyesali perbuatannya. Setiap hari dia selalu meminta maaf padaku dan menangis di depan foto Ibu dan Abang.


    Sore hari, aku dan Ayah pergi keluar rumah. Ayah mengajakku untuk shalat di Mesjid. Sepulang dari beribadah, aku mengajak ayah untuk bermain di taman. Aku dan Ayah melepaskan semua kesedihan kami. Kami tertawa bersama di taman yang indah itu. Hari mulai gelap, kami ingin kembali ke Mesjid sebelum akhirnya pulang ke rumah. Di jalan, Ayah mengatakan sesuatu kepadaku.


    "Kia... kalau Ayah tidak lagi bersamamu, maka jadi lah anak yang pemberani, ya. Tolong lah orang-orang di sekitarmu yang membutuhkan pertolonganmu. Makan lah makanan yang halal, jangan pernah tinggalkan shalat lima waktu. Bersikap sopan pada orang lain. Jangan sekali pun kamu berbuat sesuatu yang dibenci oleh Allah. Doakan Ayah, Ibu dan Abang ya, Nak. Jaga dirimu baik-baik."


    Waktu itu, aku tidak menyangka kalau itu adalah hari terakhirku bersama Ayah.


    "Iya Ayah, Kia pasti akan menjadi seperti orang yang Ayah inginkan,"


    "Benar. Itu baru anak Ayah," katanya sembari mengelus kepalaku.


    Ayah menggendongku sambil tertawa bahagia. Senyumnya yang tak pernah aku lupakan. Namun, kebahagiaan itu sangat cepat berlalu ketika segerombolan preman datang menghampiri kami.


    "Kia... cepat sembunyi. Jangan keluar, lari sejauh mungkin," kata Ayah. Raut wajahnya berubah. Ia ketakutan.


    Aku tidak bertanya lagi, aku pun langsung mencari tempat persembunyian. Preman itu mendekati Ayah lalu aku melihatnya bersujud pada beberapa laki-laki berotot besar dihadapannya.


    Tiba-tiba, mereka mengeluarkan sebuah pisau. Lalu, tanpa mendengar permohonan Ayah, mereka menancapkan pisau itu tepat di pertu Ayah. Air mataku jatuh, aku menangis ketakutan waktu itu. Ayah terkapar di tamah dan mengeluarkan banyak darah di perutnya. Mereka tertawa melihat Ayah menahan sakit. Belum puas, mereka menendang kepala Ayah dan pergi meninggalkannya. Aku langsung berlari menemui Ayah.


    "Ayah... jangan tinggalkan Kia!"


    Ayah tidak lagi menjawab perkataanku. Aku mengguncang tubuhnya kuat, berharap bahwa ia akan membuka matanya. Aku menangis sekuat mungkin, mencuri perhatian orang-orang sekitar. Mereka terkejut karena melihat seseorang sudah terbunuh. Aku menangis menatap mereka. Memohon bantuan. Tapi, mereka hanya melihat tanpa membantu Ayahku untuk pergi ke Rumah Sakit.


-----


    "Ayah!!" aku berteriak. Napasku tersenggal-senggal, tenggorokanku sangat kering. Aku melihat sekitar, cahaya matahari masuk menembus kaca mobil. Aku masih di mobil? Kenapa aku masih di mobil laki-laki ini? Apa yang terjadi semalam? Aku melihatnya yang sudah menatapku heran.


    "Ada apa? Lo mimpi buruk?" tanyanya.

__ADS_1


    "Enggak,"


    "Buat kaget aja! Ya sudah, gue antar lo pulang. Rumah lo dimana?" tanyanya kesal sembari menghidupkan mobil. Aku masih tidak ingat apa yang terjadi semalam. Seharusnya, aku sudah berada di pinggir jalan bukan di mobil seperti ini.


    "Tunggu! Kenapa gue bisa tidur di sini? Mau lo bawa kemana gue?" tanyaku curiga.


    "Siapa? Ck.. semalam lo tiba-tiba pingsan. Gue enggak mau bawa lo ke rumah gue lah, makanya kita masih di mobil."


    Aku diam, tidak lagi menjawab pernyataannya. "Ya sudah, makasih sudah kasih gue tumpangan tidur. Permisi," ucaku ingin membuka pintu mobil. Tapi, saat ingin membuka pintu, seseorang menarik pintuku dari luar. Aku terkejut, aku langsung menutup pintu itu dan mengunci dari dalam. Aku tidak menyangka ternyata preman itu menungguku di luar. Mereka ingin menarik tanganku. Aku takut, aku bingung harus apa.


    "Cepat, ayo kita pergi dari sini!" perintahku padanya.


    "Kenapa? Siapa mereka?" tanyanya curiga.


    "Nanti aku cerita, cepat pergi dari sini kalau lo mau selamat,"


    Dia terbelalak mendengar ucapanku. Tanpa bertanya lagi, dia langsung menginjak gas dan pergi. Aku melirik dari kaca spion, preman-preman itu tampak kesal. Aku langsung menghela napas. Aku tidak bisa membayangkan, jika kau keluar dari mobil laki-laki ini, apa yang akan terjadi padaku.


    "Siapa mereka?"


    "Bukan urusan lo," jawabku. Laki-laki ini terlalu banyak bertanya.


    "Lo jangan macam-macam ya. Mereka itu siapa?" dia tampak kesal karena aku tidak menjawab pertanyaannya.


    "Gue bilang, bukan urusan lo!" aku tidak mau mengatakan kepadanya. Aku tahu, orang-orang kaya seperti dia akan memilih menyerahkanku atau akan membuangku di pinggir jalan seperti ini daripada nyawanya terancam.


    "Gila lo ya! Sekarang lo di mobil gue, kalau mereka datang dan merusak semuanya, bukan lo aja yang mati, tapi juga gue! Gila, sial banget gue jumpa cewek brandal kayak lo!" umpatnya kesal.


    "Apa lo bilang?" aku tidak terima karena dia mengatakan aku seperti itu. Aku memang tinggal di pingir jalan, tapi bukan berarti aku anak brandalan.


    "Cewek brandal, harusnya gue tinggal aja lo semalam! Gara-gara lo nyawa gue hampir melayang" umpatnya lagi. Aku melihat kalau rahangnya mengeras. Dia mencengkeram setir mobil.

__ADS_1


    "Oh ya, bagus dong kalau gitu," jawabku asal. Aku pun kesal karena dia mengatakan bawah aku adalah perempuan nakal.


    Tiba-tiba, mobil berhenti mendadak. Dia membuka kunci pintu mobil dan menyuruhku untuk keluar. Dia mengataiku bahwa aku orang yang tidak berterima kasih karena dia telah menolongku. Aku tidak perduli. Aku keluar dari mobilnya dan membanting pintu sangat keras. Setelah aku keluar, dia langsung pergi. Mobilnya melaju sangat cepat. Memang, seharusnya, dia tidak menolongku semalam. Seharusnya, dia membiarkan aku terkapar di jalan. Hidup ini membuatku muak.


__ADS_2