
Pagi-pagi Aira sudah mengantar Putra sekolah, setelah Putra benar-benar masuk kelas Aira pun pulang untuk mengecek pesanan masuk.
Sementara Juan masih tertidur nyenyak karena memang hari ini Juan sengaja cuti. Aira masuk ke dalam kamar untuk membangun kan Juan.
"Sayang bangun, ini udah siang," ucap Aira menggoyang kan tubuh Juan.
"Emm, aku masih ngantuk sayang. Temani aku tidur biar Putra cepat punya adik," ucap Juan masih memejam kan matanya.
"ish kamu ini, ayo cepat bangun ah. Udah siang," ucap Aira mukul ringan tangan Juan.
"Katanya semalam kamu setuju mau program hamil lagi, ayo kita program sekarang mumpung Putra sekolah dan di rumah hanya ada kita berdua," ucap Juan menggoda Aira.
"Aku udah mandi masa harus mandi lagi, jangan macem-macem sekarang kamu bangun terus mandi. Nanti kita sarapan, aku udah masak nasi goreng untuk juga kita sarapan pagi ini," ucap Aira berdiri dari tempat duduknya agar Juan ikut bangun dari tempat tidurnya.
Juan menahan kepergian Aira dengan menarik tangannya membuat Aira terjatuh di atas pelukan Juan.
"Apaan sih kamu ini, cepat bangun ini sudah siang," ucap Aira kembali bangkit dari pelukan Juan dan segera pergi dari kamar.
"Aku tunggu kamu di ruang makan ya, cepat bangun terus mandi," ucap Aira sambil melangkah kan kakinya menuju pintu keluar.
...***...
Setelah menjemput Putra di sekolah, Juan dan Aira langsung pergi ke dokter kandungan. Karena datang lebih awal jadi Aira mendapat nomor antrian pertama.
__ADS_1
Aira pun masuk dan mulai di periksa oleh dokter, awalnya ingin program hamil tapi ada hal lain yang di ketahui lebih awal.
"Selama ini, apa ada keluhan bu?" tanya dokter.
"Iya dok ada, kalau haid saya sering kesakitan dan darah haid juga warnanya aga gelap," jawab Aira.
"Dari hasil USG ternyata ada kista di ovarium, berukuran 2,5 cm. Masih bisa di hilang kan dengan minum obat, nanti saya kasih resep untuk obatnya," ucap dokter.
Dokter pun menjelas kan segala hal tentang terjadinya kista dan penyebab tumbuhnya kista, sampai makanan yang harus tetap di jaga oleh Aira.
Seketika hati Aira sakit seperti tersambar petir di panas terik, Aira terus memendam rasa sedihnya dan manahan air mata yang hendak keluar.
"Ternyata selama ini aku terlalu lalai menjaga diri ku sendiri sampai ada kista dalam rahim ku, Tuhan maaf kan segala kelalaian ku," batin Aira terasa sesak di dada.
"Kalau bapak sama ibu masih mau melanjut kan program hamilnya, ibu dan bapak coba cek HSG terlebih dahulu nanti hasilnya di bawa lagi kemari ya," ucap dokter.
"Saya buat kan surat rujukan ya buat pemeriksaan HSG," sambung dokter menulis kan surat rujukan lalu memberi kan pada Aira.
Aira hanya membaca surat rujukan yang di beri kan oleh dokter dan merenungi setiap perkataan yang dokter jelas kan.
"Setelah HSG ibu bisa kemari lagi, nanti kita lihat hasilnya ya. Apa bisa di barengi program hamil atau harus hilang dulu kistanya karena ada juga yang hilang kistanya setelah melahir kan tapi ada juga yang sulit untuk hamil. Semua itu hanya tinggal bagaimana Tuhan yang menentukan," ucap dokter.
Dokter pun menjelas kan apa itu HSG dan bagaimana proses HSG dengan secara jelas pada Juan dan Aira.
__ADS_1
"Baik dok, setelah ini kami akan melakukan pemeriksaan HSG," ucap Juan dengan yakin.
Setelah semua selesai, Aira dan Juan keluar dari ruang pemeriksaan. Tak lupa Juan mengambil obat di farmasi.
"Kamu dan Putra tunggu di sini ya, aku ambil obat dulu di farmasi," ucap Juan menduduk kan Putra di kursi ruang tunggu di ikuti oleh Aira duduk di samping Putra.
"Apa aku masih bisa hamil dan melahir kan? Maaf kan mama ya nak, mama belum bisa jadi ibu yang baik untuk mu nak. Mama ga bisa penuhi keinginan kamu kali ini," batin Aira membelai rambut Putra.
Sementara Juan masih antri menunggu obat dari farmasi rumah sakit.
"Apa pun yang terjadi pada mu Aira, aku ga akan pernah pergi dari mu. Aku akan tetap sayang pada mu," batin Juan.
15 menit berlalu Juan baru selesai mengambil obat dan membayar semua biaya administrasi, lalu berjalan mendatangi Aira dan Putra duduk untuk mengajak mereka pulang.
"Ayo sayang kita pulang," ajak Juan.
Aira yang melamun dengan tatapan kosong tidak merespon apa yang di kata kan oleh Juan.
"Sayang, Aira ayo kita pulang," ucap Juan membelai lembut pipi Aira dan menyadar kan Aira dari lamunannya.
"Ah, kamu sudah selesai?" tanya Aira.
"Sudah, ayo kita pulang," ajak Juan.
__ADS_1
Aira pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti langkah Juan menuju parkiran.