
Grup chat whatsapp pun telah di buat, tali silaturahmi yang sempat terputus kembali terjalin. Saling bertukar kabar satu sama lain dan bertukar cerita hidup.
Aira melihat di anggota grup masih banyak teman yang belum masuk, hanya ada satu orang yang selalu di tunggu oleh Aira. Cinta pertamanya dan cinta masa kecilnya yaitu Alvino, lelaki pertama yang Aira sukai semasa sekolah.
Dari sekian banyak teman yang memberi kabar, hanya kabar dari Vino yang Aira tunggu.
"Kamu kemana sih vin, aku kangen sama kamu. Andai dulu kamu ga pergi mungkin kita bisa bersama meski pun hanya sesaat tapi rasa ini tersampai kan," batin Aira menatap layar ponselnya berharap yang tak pasti kapan datangnya.
Dari sekian banyak temannya yang bermacam-macam cerita hidupnya, ada pula yang sudah menjanda dan menduda dan berbagai cerita yang baru Aira ketahui.
"Ternyata setiap orang memang ada dengan cerita hidup yang berbeda-beda dan aku pun sama ada dengan cerita dan jalan hidup ku sendiri," batin Aira.
...***...
Rencana untuk reuni hanya lah rencana, semua orang ada kesibukan masing-masing. Ada yang bisa hari dan tanggal yang di tentu kan tapi yang lain ada yang berhalangan. Begitu pun dengan Aira hanya bisa mengikuti suara terbanyak, kalau banyak yang ikut hadir Aira pun akan ikut hadir.
Aira terus dengan kesibukannya mengurus pesanan catering yang semakin ramai dengan pesanan dalam jumlah sedikit mau pun banyak.
Setiap ramadhan Aira selalu kebanjiran pesanan untuk acara santunan dan acara buka bersama, hanya di hari raya Aira bisa istirahat.
Aira sudah berjanji bertemu teman-temannya di akhir ramadhan untuk acara buka bersama dan halal bihalal setelah hari raya.
Untuk saat ini hal yang di nanti saat pulang ke kota as adalah bisa bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya.
"Mba Sri, mau mudik ga taun ini?" tanya Aira.
"Kayanya ga bu, taun ini giliran keluarga saya yang kemari," jawab mba Sri.
"Kalau saya tinggal ke kota A ga apa-apa mba? Mba ajak keluarga mba tinggal di sini aja selama saya di kota A," ucap Aira.
__ADS_1
"Nanti saya bilang sama suami saya, kalau untuk pesanan paling saya terima sampai 3 hari sebelum hari raya karan besoknya saya pergi ke kota A. Mba kalau mau di sini boleh sekalian saya nitip rumah," sambung Aira.
"Kalau ibu pergi saya juga pergi aja bu, saya takut ada kehilangan di rumah kalau ibu tidak ada. Biar saya mudik aja bu," ucap mba Sri.
"Ya sudah kalau maunya mba Sri begitu," ucap Aira.
Di sore hari seperti biasa Juan pulang dengan rasa lelah setelah seharian bekerja dan Aira menyambutnya dengan senyuman.
"Sayang aku pulang," ucap Juan.
Juan berdampingan bersama Aira duduk di ruang tamu untuk memulai obrolan kecil.
"Iya, oh iya kamu kapan mulai cuti?" tanya Aira.
"Sabtu aku mulai libur sampai satu minggu ke depan, kapan kita mau mudik ke kota A?" jawab Juan lalu kembali bertanya.
"Aku masih ada pesanan sampai 3 hari sebelum hari raya, setelah selesai kita pergi ke kota A. Oh iya tadinya mba Sri ga akan mudik dan keluarganya mau datang ke sini tapi aku udah bilang sama mba Sri selama keluarganya ada di sini boleh tinggal di rumah ini aja sekalian aku titip rumah tapi mba Sri ga mau dan lebih memilih untuk mudik," ucap Aira bercerita singkat.
"Oh iya, Putra kemana. Kok ga keliatan?" tanya Juan melihat sekeliling rumah yang sepi dan terlihat rapih.
"Tadi pamit mau ke warung depan, katanya sih mau jajan sekalian main sama temannya," ucap Aira.
"Ya udah aku mandi dulu ya, badan ku udah lengket banget," ucap Juan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar.
Sementara Aira ikut berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur untuk menyiap kan makan untuk Juan.
Putra pun pulang dengan membawa jajanan di tangannya, Putra masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Aira.
"Ma... mama," panggil Putra.
__ADS_1
"Iya sayang, mama di dapur nak," teriak Aira lalu Putra pun segera menghampiri Aira.
"Ma, papa udah pulang belum?" tanya Putra.
"Udah, papa lagi mandi. Kamu juga mandi sana, udah jam segini masih belum mandi," ucap Aira yang sibuk dengan penggorengan.
"Iya ma," ucap Putra melangkah pergi dari dapur menuju kamarnya.
Saat ini Putra berusia 8 tahun dan duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Semenjak Aira masuk rumah sakit, Putra tidak pernah meminta adik atau membicara kan soal adik pada Aira karna Putra tau itu akan membuat mamanya sedih.
Setelah selesai makan, Juan berniat berbicara dengan mba Sri. Membahas apa yang di cerita kan oleh Aira.
Juan dan Aira menghampiri mba Sri yang sedang menyiap kan pesanan untuk besok pagi.
"Mba, boleh saya ngobrol sebentar?" tanya Juan.
"Boleh pak, ada apa pak?" jawab mba Sri.
"Begini mba, tadi Aira bilang sama saya kalau mba Sri ga akan mudik. Kalau saya yang minta mba Sri tetap di sini gimana? Saya ga apa-apa kalau keluarga mba Sri meraya kan hari raya di sini, nanti biar kita sedia kan makanan untuk menjamu keluarga mba Sri selama di sini," ucap Juan.
"Saya cuma takut pak, takut ada kehilangan di rumah ini terus yang di salah kan saya dan keluarga saya. Saya masih butuh pekerjaan pak, lebih baik saya pulang dan masih bisa kembali ke sini untuk bekerja dari pada saya kehilangan pekerjaan saya," ucap mba Sri beralasan.
"Oh, jadi itu yang menjadi alasan mba Sri. Begini mba Sri, saya percaya sama mba Sri karna selama mba Sri kerja di sini mba Sri kerja dengan rajin dan jujur tapi jika itu sudah menjadi keputusan mba Sri saya tidak bisa memaksa," ucap Juan.
Juan pun mengakhiri obrolannya dengan mba Sri dan pergi ke kamar untuk istirahat, sementara Aira membantu mba Sri dan 2 pegawainya menyelesai kan pesanan untuk di kirim besok pagi.
"Semua sudah selesai semua kan ya, besok tinggal bungkus nasi sama goreng ayamnya kan ya," ucap Air.
"Sudah bu," ucap mba Sri.
__ADS_1
"Ya sudah kalian semua istirahat ya, terima kasih atas bantuannya hari ini," ucap Aira setelah semua selesai dan ruangan kembali rapih.