Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
WYS #3


__ADS_3

Nenek ini sangat antusias ketika melihatku. Di perjalanan menuju rumahnya, dia terus memegang tanganku seakan aku tidak boleh pergi dari pandangannya. Aku mulai sadar. Kenapa aku harus mengikuti Nenek ini? Bagaimana kalau dia utusan dari preman-preman yang mengejar Ayah dulu? Bagaimana kalau ini penipuan baru mereka. Astaga, aku ini kenapa? Seharusnya aku tidak mengikuti Nenek ini pulang ke rumahnya!


Tapi, setelah beberapa waktu di perjalanan, kami sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Rumah itu memiliki taman kecil yang ditumbuhi oleh bunga-bunga cantik warna-warni. Aku terpukau. Rumah ini sangat manis.


Nenek mempersilahkan aku masuk dan mataku semakin berbinar ketika melihat isinya. Perabot-perabot tua yang masih terlihat kokoh, lantai bersih sangat licin dan udara ruangan yang dingin. Aku memejamkan mata. Ini pertama kalinya bagiku merasakan kenyamanan yang luar biasa.

__ADS_1


“Duduk, Kia. Nenek ambil minum dulu,” kata Nenek dan pergi ke dapur. Aku tertegun dengan rumah ini. Tidak lama, Nenek datang membawa sebuah gelas lalu duduk disampingku. Di sebelah kursi, terdapat sebuah meja yang tergeletak sebuah album. Ia mengambilnya dan membukanya untukku. Aku kebingungan tapi aku tidak bisa pergi dari situasi sekarang ini.


Aku terkejut setengah mati ketika Nenek ini memperlihatkan kepadaku foto pernikahan orang tuaku dulu. Aku masih ingat, balutan pakaian adat Jawa yang membuat mereka sangat tampan dan cantik. Bagaimana bisa semua ini terjadi?


Beberapa tahun yang lalu, ketika aku berumur satu tahun dan abangku berumur tujuh tahun, kami sudah berpisah dari nenek. Waktu itu, kedua orang tuaku ingin merantau ke negri orang. Dulu, suasana di sini sangat sulit untuk menghidupi sebuah keluarga. Maka dari itu, ayah dan ibu memilih untuk merantau. Mereka takut kalau aku dan Ryan tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup. Belum lagi, waktu itu aku sering sakit-sakitan tak menentu. Ayah yang hanya pekerja lading, sangat susah mendapatkan penghasilan. Sedangkan Ibu yang hanya pembantu rumah tangga, belum cukup menutupi semua kekurangan. Akhirnya, Ayah dan Ibu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Nenek sendirian di sini.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, kata Nenek, kedua orang tuaku sangat jarang menghubungi Nenek. Tapi, mereka sering mengirim Nenek uang. Lama kelamaan, kedua orang tuaku tidak lagi menghubungi Nenek. Mereka hilang kontak dengan Nenek sedangkan waktu itu Nenek belum tahu di mana alamat kami. Sampai akhirnya seluruh keluarga meninggal dan tersisa hanya aku, Nenek sangat terkejut. Bahkan kematian anaknya pun, dia tidak tahu. Nenek menangis sesunggukan sedangkan aku hanya terdiam melamun membayangkan wajah Ayah, Ibu dan Ryan.


“Nenek bersyukur, Allah mempertemukan kita. Nenek sangat senang,” katanya dan menggenggam kedua tanganku.


Aku tersenyum. Terlebih aku Nek, sekian lama aku tidak merasakan nyamannya rumah dan perlindungan dari keluarga, akhirnya kini aku berjumpa dengan Nenek. Aku memeluknya sangat erat, aku membiarkan rasa lelahku terbang begitu saja. Ketika aku memeluk Nenek, aku merasa kalau Ayah, Ibu dan Ryan sedang tersenyum padaku. Sekarang, aku sudah menemukan rumah dan keluargaku yang sesungguhnya. Sejak saat itu, aku dan Nenek tinggal bersama dan kami selalu bercerita, mengenang masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2