
Pria berjas hitam itu memang mengantarku sampai ke rumah. Ternyata nenek sudah menungguku dengan cemas. Dia langsung memelukku dan menelusuri setiap tubuhku. Nenek terkejut ketika melihat wajahku cukup banyak lebam-lebam. Lalu, nenek berterima kasih kepada pria berjas hitam yang sudah mengantarku. Laki-laki itu langsug pergi dan meninggalkan kami di halaman.
Aku kembali memeluk nenek, sangat erat. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di rumah laki-laki itu. Yang jelas, sekarang aku sudah bersama dengan nenek.
Nenek langsung menuntunku masuk dan menyuruhku untuk berbaring di kamar. Buru-buru ia pergi ke dapur untuk mengambil teh dan memberikannya kepadaku.
“Kamu dari mana? Sampai siang begini baru pulang? Dan, siapa laki-laki berjas itu?”
Aku menghela napas panjang. Aku menceritakan semuanya kepada nenek. Bahkan, ketika aku bertemu dengan laki-laki itu hingga untuk kedua kalinya hari ini. Nenek mendengarkan ceritaku kalimat demi kalimat. Dia senyum-senyum sendiri ketika mendengar aku mengoceh tentang pria yang aku temui.
“Kenapa nenek tersenyum?”
“Harusnya kamu berterima kasih sama laki-laki itu karena sudah menolong kamu,”
“Untuk apa nek? Kata-katanya kasar, untuk apa aku berterima kasih padanya?”
“Bagaimana kalau tadi enggak ada dia? Kamu mau melakukan apa?”
Aku terdiam, benar juga apa yang dikatakan oleh nenek. Jika saja laki-laki itu tidak datang, apa yang akan terjadi denganku? Bisa saja mereka memperkosaku dan membuang mayatku ke sungai lalu ketika aku ditemukan, aku sudah tidak bernyawa. Tapi, ketika mengingat kata-kata kasar laki-laki, membuatku muak.
__ADS_1
“Seharusnya, kamu juga jangan asal teriak. Makanya dia marah,”
“Gimana enggak marah nek, aku ada di kamarnya. Bagaimana kalau dia menyentuhku?”
“Enggak akan. Melihat orang yang mengantarmu tadi, nenek yakin, orang itu berpendidikan. Dia enggak akan memperlakukan perempuan seperti itu,” ucap nenek mengelus pipiku.
Memang, tapi tetap saja. Aku tidak terima dengan kata-kata kasarnya.
Nenek meninggalkanku di kamar. Dia menyuruhku untuk beristirahat lagi. Aku merebahkan tubuhku dan menarik selimut. Kalau di pikir-pikir, aku memang terlalu berlebihan. Aku tahu laki-laki itu berniat baik untuk menolongku, tapi, aku tetap saja takut. Maraknya penculikan sekarang ini, membuatku harus waspada. Apalagi, wanita sepertiku.
Mataku berhenti kepada pohon mangga yang berada di sebelah kamar. Beberapa anak-anak sedang memanjat pohon mangga di halaman nenek. Aku langsung bergegas keluar dari kamar dan menemui mereka.
“Oi, mau apa kalian?” teriakku dari bibir pintu rumah.
“Turun enggak lo?!”
“Enggak!”
Aku marah. Aku menolak pinggang dan masuk ke dalam rumah. Aku mengambil sapu dan membawanya ke arah mereka. Mereka kaget aku kembali dengan membawa sapu. Enak saja mereka, nenek pasti sudah menunggu untuk bisa memanen mangga ini. Tapi bocah-bocah rakus ini malah mencurinya dari halaman orang.
__ADS_1
“Pergi sana! Kalian ini, masih kecil sudah berani mencuri! Pergi sana!” teriakku sambil menggoyang-goyangkan sapu agar mereka takut. Beberapa warga yang lewat sempat berhenti melihat aku berteriak-teriak kepada bocah.
“Siapa yang mencuri?” teriak seorang bocah di atas pohon yang sulit turun karena ada aku di bawah.
“Lo bilang siapa mencuri? Dasar bocah! Cepat turun atau gue kejar lo ke atas! Cepat, dasar bocah tengil!” aku berteriak-teriak kepada bocah yang sudah ketakutan melihatku. Dia berusaha untuk turun.
“Kia, kenapa?” nenek keluar dari rumah.
“Nek, bocah-bocah ini mau mencuri mangga nenek. Cepat turun lo, nunggu apa? Lha, oi cepat!” teriakku lagi. Anak-anak pencuri seperti ini harus diberi pelajaran. Mau jadi apa mereka bisa mencuri sudah dibiasakan sejak kecil?
Tiba-tiba nenek menggelengkan kepala. Aku bingung, harusnya dia juga mendukungku bukan malah menggeleng seperti itu.
“Mereka sudah meminta izin sama nenek,” kata nenek santai.
“Benarkah?” nenek mengangguk mengiyakan. Aku menoleh kepada bocah yang menggantung di atas pohon karena ketakutan. Ah, memalukan.
Aku tersenyum lebar kepadanya dan melihat sekeliling. Tatapan menyelidik tumpah untukku.
“Ha… hahahaha.. ya sudah, ambil saja. Ambil saja sebanyak yang kamu mau,” aku benar-benar bingung. Situasi macam apa ini.
__ADS_1
“Aduh, sakit perut. Aku ke belakang dulu ya,”
Cepat-cepat aku pergi masuk ke dalam rumah karena alasan sakit perut. Ini sangat memalukan! Aku menyebalkan!