
Aira mengakhiri obrolannya dengan Nadia karna Juan sudah memandang Aira sejak tadi dan Aira merasa di awasi jadi Aira tidak leluasa untuk melanjut kan obrolan dengan Nadia.
"Eh Nad, udah dulu ya nanti lain waktu kitu sambung lagi, ada cctv yang liatin aku ngobrol dari tadi," ucap Aira merasa tidak enak dengan Nadia.
"Emang siapa Ra? suami kamu ya," tanya Nadia asal tebak.
"Ya gitu deh, udah ya. Bye Nadia," ucap Aira.
"Bye, padahal aku masih kangen loh sama kamu," ucap Nadia.
Aira memutus kan telepon secara sepihak karna Juan sudah memasang wajah kesalnya.
"Aku kira kamu lagi beres-beres ruangan eh malah asyik ngobrol di telpon, memangnya tadi ngobrol sama siapa sampai lupa sama kerjaan sendiri," tanya Juan sinis.
"Tadi siang aku ketemu temen sekolah ku dulu waktu SD di supermarket, namanya Nadia Mustika. Dia minta nomor ponsel ku, ya aku kasih. Pas aku lagi beres-beres dia telpon akhirnya keasyikan ngobrol deh sampai kamu masuk," ucap Aira menjelas kan.
"Benar dia perempuan, bukan laki-laki kan?" tanya Juan penuh rasa curiga.
Tanpa basa basi dan disertai dengan rasa kesal, Aira melempar ponselnya ke kaki Juan membuat Juan kesakitan.
"Kenapa ga percaya? periksa aja tuh ponselnya, telpon aja langsung sama kamu panggilan masuk barusan," ucap Aira bangkit dari duduknya dan segera mengambil alih Putra dari gendongan Juan.
__ADS_1
"Aw, sakit," ucap Juan merintih kesakitan.
Juan pun mengambil ponsel Aira yang Aira lempar ke kakinya dan segera Juan mengecek isi ponsel Aira.
Sementara Aira pergi keluar rumah dengan membawa Putra dan tas kecil yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Aira pergi tanpa tujuan di kota yang asing untuknya karna Aira memang belum tau seluk beluk daerah tempat tinggalnya saat ini.
Aira terus melangkah pergi jauh dari tempat kost Juan dengan membawa Putra dan rasa kesal di hatinya.
"Jadi begini ya rasanya di tuduh dan di curigai," gerutu Aira.
"Mentang-mentang kamu pernah dekat dengan yang lain tapi jangan sama kan aku dan kamu, yang bisa dengan mudahnya berpaling ke lain hati," batin Aira.
Tanpa sadar Aira semakin jauh dari tempat kost Juan dan ternyata Aira tersesat tidak tau alamat pasti tempat kost Juan, ponselnya tertinggal di lantai tempat kost Juan.
Sementara Juan terus memeriksa ponsel Aira tanpa merasa bersalah Juan menelpon panggilan terakhir.
"Halo Ra, kenapa lagi? tadi katanya ada suami kamu," ucap Nadia tanpa basa basi.
"Halo, saya suaminya Aira. Apa benar ini dengan Nadia, teman sekolah Aira?" tanya Juan.
__ADS_1
"Eh, iya mas. Maaf saya kira tadi Aira yang telpon, saya memang teman sekolah Aira. Kenapa mas, apa ada yang salah mas sampai saya di tanya lagi seperti ini?" jawab Nadia dengan tegas menjelas kan yang awalnya ragu karna malu tiba-tiba di telpon Juan pakai ponsel Aira.
"Ah, tidak apa-apa. Ya sudah, terima kasih atas jawabannya," ucap Juan memutus kan telpon secara sepihak membuat Nadia bingung sendiri.
Juan lekas mencari Aira di luar, Juan kira Aira tak akan pergi jauh dari kamar kostnya tapi ternyata Aira tidak ada dimana pun membuat Juan khawatir.
"Aira," teriak Juan.
Juan mencari Aira di sekitar tempat kostnya tapi tidak di temukan keberadaan Aira dan Putra.
"Dimana kamu sayang? maaf kan aku yang terlalu cemburu dan kurang percaya sama kamu," gerutu Juan.
Juan kembali ke halaman kostnya untuk mengambil mobilnya dan mencari Aira.
"Dimana kamu Aira, aku menyesal. Aku terlalu takut kamu membalas perbuatan ku dulu," batin Juan.
Juan terus mencari Aira di sepanjang jalan yang ia lalui tapi tidak ada sosok Aira di sepanjang penglihatannya.
Sementara Aira duduk termenung di halte bus, menunggu bus dengan tujuan kota A.
"Kita pergi dari sini ya nak, biar kan papa mu terus seperti itu. Lebih baik kita hidup berdua aja tanpa ada papa di hidup kita," gerutu Aira sambil mengusap kepala Putra.
__ADS_1