Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
WYS #8


__ADS_3

Di dapur, nenek sibuk mengajarkan beberapa pelayan bagaimana cara menghidangkan makanan yang baik dan benar. Nenek juga mengajarkan mereka bagaimana cara memasak makanan kesukaan Tuan dan Nyonya mereka. Aku duduk di bar stool dengan menggunakan baju pelayan sama seperti yang lainnya. Membosankan!


Sebelum aku mulai beranjak pergi dari dapur, seseorang menghampiriku. Dia menyuruhku untuk membersihkan kamar Tuan mereka karena bagian yang membersihkan kamar majikan mereka itu sedang sakit dan tidak bisa masuk bekerja. Aku mengkerutkan kening, aku ingin menolaknya. Tapi, ketika melihat nenek yang juga melihatku dengan senyumannya yang manis itu, akhirnya aku mengikutinya.


Pelayan itu menuntunku sampai ke sebuah kamar yang terletak di lantai dua. Saat menuju ke kamarnya, aku takjub dengan luas dan besarnya rumah ini. Di setiap dinding terdapat lukisan-lukisan orang terdahulu bahkan guci mereka terlihat sangat mahal.


Kaki kami berhenti di depan sebuah kamar yang katanya kamar anak Nyonya di rumah ini. Aku langsung membuka pintu itu namun teman pelayan ku ini langsung menahan tanganku.


“Dengar, Tuan sangat tidak suka barang-barangnya dipindahkan. Tugas kita, hanya membersihkan kamarnya. Dan jangan pernah menatap wajah Tuan, mengerti?”


“Memangnya aku wanita genit yang mau merebut majikan sendiri?” kataku.


“Mm.. terserah mu saja. Yang penting, ingat kata-kataku.”

__ADS_1


Aku mengangguk mengiyakan apa yang disampaikannya. Aku masuk ke dalam kamar yang katanya milik Tuan itu. Saat masuk, aku tidak asing dengan suasana kamar ini. Tapi, sepertinya memang semua kamar orang kaya seperti ini kan?


Aku langsung membersihkan kamarnya. Kamar laki-laki memang seberantakan ini ya? Mereka sangat tidak bisa merapikan kamar.


Aku mulai menyusun barang-barang yang berserakan. Di dalam kamar ini sangat kosong, hanya ada tempat tidur, meja kerja yang tidak terlalu besar, televisi dan lemari di sudut.


Di depan televisi, segala sampah sudah berserakan di lantai. Aku mulai memungutnya dan menyapunya. Astaga, kamar ini sangat berantakan sekali. Pinggulku sampai sakit karena harus jongkok dan berdiri lagi hanya untuk mengambil sampah dan barang-barangnya yang berserakan di lantai.


“Mau apa lo di kamar gue?”


Suara itu? Tidak asing. Aku mendongak ke atas dan mataku langsung terbelalak. Aku berdiri tepat di hadapannya. Laki-laki ini hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Tubuhnya yang berotot dan berbidang lebar membuatnya terlihat sangat seksi ditambah air dari kepalanya yang basah berjatuhan ke wajah.


“Lo?” dia menaikkan alisnya. “Lo, ngapain di sini?” tanyaku heran.

__ADS_1


“Ini rumah gue, enggak boleh di rumah sendiri?” jawabnya dan melangkah menuju lemari. Aku masih syok, aku tidak menyangka semua ini. Kenapa aku harus bertemu dia lagi?


“Tapi, kan, lo?”


“Kenapa? Nampaknya lo sekarang kerja di rumah gue ya?” liriknya sinis lalu mengambil baju dari dalam lemari. Tiba-tiba, ia membuka handuknya.


“Eh, mau ngapain?”


“Pakai baju, jadi? Lo mau terus berdiri di situ lihat gue ganti baju?”


“Gila lo ya!” aku melempar kain lap ke badannya lalu keluar.


Apa yang aku lakukan? Kenapa aku harus berada di rumah dia? Astaga! Pantas saja setiap sudut rumah ini tidak asing bagiku. Ternyata rumah cowok kasar itu. Menyebalkan! Bahkan, aku harus bekerja untuknya? Arrghhh!!

__ADS_1


__ADS_2