
"Nak kamu bahagia dengan kehadiran bayi yang akan di lahir kan oleh Winda?" tanya bu Siska.
"Aku bahagia bu, akhirnya Tuhan mengabul kan doa ku. Meski pun anak ini bukan anak ku tapi aku akan tetap menyayanginya seperti anak kandung ku sendiri," ucap Aira.
"Karna aku tau Tuhan sayang sama aku, makanya Tuhan kirim Winda untuk ku. Tuhan percaya kan anak untuk ku rawat lewat rahim Winda, aku bersyukur bisa bertemu dengan Winda," sambung Aira.
"Semoga dengan cara seperti ini kamu bisa hamil lagi," ucap bu Siska.
"Amin, mudah-mudahan ya bu. Sebenarnya dengan hadirnya Winda, aku udah ga berharap bisa hamil dengan cara normal. 2 anak cukup untuk ku," ucap Aira.
"Ayo mba aku udah siap," ucap Winda.
"Nah ini baru keliatan seperti ibu hamil, perutnya buncit," ucap Aira melihat Winda memakai dress pendek selutut.
"Iya mba, kemarin-kemarin aku takut ketauan sama orang rumah kalau aku lagi hamil apa lagi mama bisa kena amuk masa. Bisa berabe mba, makanya aku pake baju over size terus," ucap Winda.
"Ya sudah, kita pergi sekarang. Keburu penuh bidannya," ajak Aira mengambil tasnya samping tempatnya duduk.
"Bu kami pamit pergi ya, pulang dari bidan aku langsung ke sekolah Putra ya," sambung Aira pamit pergi pada bu Siska.
"Iya nak, hati-hati di jalan ya," ucap bu Siska.
Aira dan Winda pergi jalan kaki karna lokasi tempat praktek bidan memang dekat dari rumah Aira.
"Kita jalan kaki aja ya, bidannya ada di ujung jalan sini kok," ucap Aira.
__ADS_1
"Iya mba ga apa-apa, sekalian olahraga pagi biar lebih sehat," ucap Winda.
Sepanjang jalan Winda bercerita tentang kehidupan sehari-harinya dan kebiasaan kalau ada di rumah, bahkan tentang keluarganya.
"Winda, terima kasih ya udah mau kasih aku seorang bayi. Awalnya aku memang udah menyerah akan kehadiran seorang bayi lagi tapi ternyata Tuhan mengirim kamu untuk memberi kan bayi untuk ku," ucap Aira.
"Justru aku yang terima kasih sama mba Aira karna udah menutupi aib ku, kalau bukan ga ketemu sama mba Aira aku ga tau harus gimana dengan kehamilan ku ini," ucap Winda.
Sesampainya di bidan, ternyata belum ada yang datang satu pun jadi Winda langsung di periksa oleh bu bidan.
"Bayinya sehat ya bu, ini suara detak jantungnya ya," ucap bu bidan.
"Alhamdulillah kalau sehat," ucap Winda.
Setelah di periksa, Winda kembali duduk di kursi yang sudah tersedia sedang kan Aira hanya mendengar kan dan duduk di sebelah Winda.
"Suami saya lagi dinas ke luar kota bu bidan," ucap Winda.
"Usia kandungannya udah 20 minggu lebih, mau ke 21 minggu ya bu dengan perkiraan lahir 15 november," ucap bu bidan.
"Masih ada mual ga?" tanya bu bidan.
"Paling kalau pagi aja sih bu bidan," ucap Winda.
"Ini ada obat buat mual ya sama vitamin di minum tiap hari ya bu, semoga ibu sehat selalu ya," ucap bu bidan.
__ADS_1
Aira membayar biaya pemeriksaan Winda dan pamit pulang.
"Terima kasih ya bu bidan, saya permisi pulang," ucap Winda.
Aira dan Winda pun pergi dari tempat praktek bidan, Aira berencana mengajak Winda untuk menjemput Putra ke sekolah tapi Winda menolak karna takut jadi pertanyaan di kalangan orang tua murid lainnya.
"Kamu mau pulang ke rumah atau mau ikut ke sekolah Putra?" ucap Aira memberi tawaran pada Winda.
"Aku pulang aja deh mba, takut jadi omong para ibu-ibu sekolahan," ucap Winda.
"Kamu tau jalan ke rumah ku kan, tinggal lurus aka dari sini. Aku ke sekolah Putra dulu ya, mau nitip apa?" ucap Aira.
"Apa aja mba, kalau ada sih buah-buahan. Aku pasti ingat jalan ke rumah mba Aira," ucap Winda.
"Ya sudah aku pergi dulu ya, kamu hati-hati di jalannya. Awas nyasar," ucap Aira.
Setelah taxi online yang di pesan Aira datang, Aira pun naik ke dalam mobil meninggal kan Winda seorang diri.
Winda berjalan seorang diri melewati rumah-rumah di komplek perumahan tempat tinggal Aira.
...***...
Hari-hari Winda lalui jauh dari keluarganya, menanggung beban seorang diri. Menjalani kehamilan tanpa seorang suami.
Pekerjaan yang di jadi kan alasan Winda untuk menghindar dari keluarganya membuat Winda merasa bersalah pada ibunya sendiri.
__ADS_1
Sebelum tidur Winda selalu duduk termenung di atas ranjangnya, bahkan melamun sampai menangis.
"Ma.. maafin aku ya, aku udah bohong sama mama. Aku udah buat mama kecewa dengan kehamilan ku ini. Kalau papa sampai tau hal ini, yang di salah kan pasti mama. Aku ga mau itu terjadi, makanya aku pilih jalan ini demi kebaikan kita semua. Maaf kan aku ma," batin Winda menetes kan air mata.