
Aku berlari menuju dapur dan menemui nenek yang masih sibuk dengan piring-piring. Nenek kaget karena melihatku menemuinya secara tiba-tiba. Aku tidak mau! Pokoknya aku harus pulang sekarang juga.
“Nek, dia di sini,” bisikku.
“Siapa?”
“Cowok itu!”
“Bagus dong, dia bertamu ke sini?”
Apa? Yang benar saja! Dia anak dari majikan nenek!
“Dia anak Nyonya,” jawabku kesal. Nenek berhenti. Dia langsung menatapku dalam diam. Nah, apa aku bilang? Nenek juga pasti kaget.
Tiba-tiba nenek langsung menarik tanganku dan menjauh dari pelayan lain yang sibuk mengambil piring-piring. Dia membawaku sampai masuk ke dalam kamar.
“Apa yang kamu bilang sama dia?”
“Seperti biasa kalau kami ketemu,”
Nenek langsung menutup matanya, dia tampak kesal. Ada apa dengan nenek?
__ADS_1
“Nenek mohon, jaga sikapmu sama Tuan muda. Nyonya paling enggak suka kalau ada orang seperti kita yang mendekati anaknya,”
“Ha? Nenek pikir aku mau dekat sama dia?”
“Bukan itu maksud nenek, percayalah. Kalau kamu bertemu dengannya, tolong jangan bicara sedikitpun. Kalau Nyonya tahu, kita selesai.”
Aku terdiam menatap nenek. Aku tahu, dia sangat senang karena bisa kembali memasak untuk di usianya yang sekarang ini. Tapi, yang benar saja. Kenapa aku harus berada satu rumah dengan cowok bodoh itu? Majikan ku pula?!
Aku menghela napas panjang dan meyakinkan nenek bahwa aku tidak akan berbicara lagi dengannya. Bahkan, nenek menyuruhku untuk menahan emosi jika aku bertemu dengannya. Yang benar saja! Tapi, baiklah, demi nenek. Aku akan menahan amarahku kalau cowok itu memancingnya.
Aku dan nenek kembali ke luar dari kamar. Aku memilih untuk membantu nenek di dapur. Aku tidak sudi untuk kembali ke kamar itu lagi.
“Ada apa?”
“Kenapa kamu belum membersihkan kamar Tuan Muda?”
Ah, ya! Tuan muda sombong itu. Tentu saja aku harus keluar dari kamarnya saat dia memakai baju. Memangnya, aku harus tetap di dalam saat dia mengganti baju?
“Cepat bersihkan kamar Tuan,” katanya mengingatkan.
“Sekarang? Kenapa bukan orang lain?”
__ADS_1
“Semua sudah punya tugas masing-masing, Kia.” Sambungnya.
Aku melirik nenek lalu nenek menganggukkan kepalanya. Dasar cowok itu! Tidak mungkin seperti ini, pasti dia yang menyuruh pelayan ini memanggilku ke sini.
Dengan langkah gusar, aku masuk ke dalam kamarnya. Di dalam, ia sedang duduk di atas kursi dan membalik-balik beberapa kertas di atas meja. Aku menghela napas panjang. Mataku menelusuri kamarnya, dan, apa yang aku lihat sekarang ini? Dia membuatnya kembali berantakan bahkan lebih parah sebelum aku membersihkannya.
Aku menatapnya lalu dia melihatku. Cowok itu hanya memandangku datar dan menaikkan alisnya. Aku mengkerutkan kening. Ku hentakkan kaki agar ia tahu bahwa aku sedang kesal sekarang ini. Dasar cowok ini! Dia sengaja membuatku kesusahan.
Aku mengambil beberapa barang yang berserakan di lantai, merapikan tempat tidur dan mengelap seluruh perabot di kamarnya. Dia masih sangat serius dengan kertas-kertas yang ada di atas meja.
“Halo sayang, aku sedang memeriksa beberapa dokumen,” katanya kepada orang yang ia panggil ‘sayang’ dari balik telepon.
“Benarkah? Kamu akan datang nanti malam? Ohya? Sabar, nanti kalau kamu mau ke rumah kabari aku ya biar aku bisa mandi dulu sebelum kita main,”
Mandi? Main? Dasar cowok mesum!
“Iya sayang, kamu pasti akan puas malam ini.” Katanya kepada si ‘sayang’ dari balik telepon. Telingaku sangat panas. Aku yakin dia sangat sengaja mengeraskan suaranya agar aku mendengar kata-kata mesumnya itu.
Aku tidak mau terlalu lama di sini, cepat-cepat aku membersihkan kamarnya. Aku tidak perduli apakah dia sedang duduk di kursi atau tidak, aku tetap membersihkan kamarnya. Dia sempat melirikku sekilas dengan wajah kesal. Aku tidak perduli. Setelah menurutku selesai, aku langsung keluar.
“Tolong, tutup pintunya,” ucapnya memerintah. Aku menatapnya lalu pergi keluar dari kamar sambil membanting pintu. Sial! Padahal aku berharap untuk tidak lagi bertemu dengannya!
__ADS_1