Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 69


__ADS_3

"Loh kenapa harus ke kota S, memangnya sekarang kamu tinggal dimana," ucap Ardy.


"Sejak putra berumur 10 bulan, aku memang sudah pindah ke kota S dan membuka usaha sendiri, aku memiliki usaha catering," ucap Aira.


"Iya nak, biar kalian tidak menyewa rumah, jadi uangnya bisa di tabung," ucap bu Siska.


"Kak Ardy dan kak Wulan boleh berdiskusi terlebih dahulu, tapi rencananya besok pagi aku dan ibu akan pergi ke kota S. Jika kakak sudah dapat jawaban untuk semua ini, kakak bisa ambil kunci rumah di rumah tetangga sebelah," ucap Aira.


"Kenapa cepat sekali kalian pergi?" tanya Ardy.


"Hari senin Juan harus kembali masuk kerja kak, perjalanan ke kota S butuh waktu yang lama dan perjalanan yang sangat jauh. Kalau menunggu besok kita baru pergi, nanti bisa kelelahan saat kerja," ucap Aira dengan alasannya.


"Oh gitu, kalau kakak sih gimana kak Wulan aja. Kalau kak Wulan setuju, kakak pun setuju untuk tinggal di sini karna ini kan rumah peninggalan dari almarhum ayah," ucap Ardy.


Wulan pun berpikir bulak balik karna saat ini sewa rumah yang mahal dan biaya hidup yang tetap harus di cukupi tapi sementara Ardy saat ini tidak bekerja.


"Apa lebih baik aku setuju saja ya, sekalian mengurangi pengeluaran juga kan. Jadi tabungan ku bisa di pakai kebutuhan yang lain," batin Wulan.


"Gimana kak, kalau kakak belum bisa menentu kan kakak bisa kembali kemari kapan pun kakak mau," ucap Aira.


"Iya, aku mau. Karna mengingat Ardy yang masih belum bisa kembali bekerja dan biaya sewa kontrak yang lumayan menguras tabungan, bahkan biaya hidup yang tetap harus tercukupi. Aku setuju kita tinggal di sini, nanti aku bisa mulai berjualan untuk tambahan pemasukan kita sehari-hari," ucap Wulan.

__ADS_1


Kesepakatan pun di dapat, Ardy dan Wulan akan tinggal di rumah bu Siska setelah kepergian bu Siksa bersama Aira dan keluarga kecilnya ke kota S esok pagi.


Melihat Putra yang terus menguap, akhirnya Aira meminta izin untuk membawa Putra ke kamar dan menidurkannya.


Sementara di ruang tamu obrolan pun terus berlanjut, Juan mengganti kan Aira ngobrol dengan kakak iparnya.


Ardy bertanya banyak hal pada Juan dari pekerjaan dan hal-hal tentang Aira yang tidak di ketahui oleh Ardy.


Tak lupa bu Siska pun memberi tau pada Wulan untuk memakai barang apa pun sesuka hati Wulan.


"Mas, sudah malam. Kita pulang ya," ajak Wulan.


"Iya ayo," ucap Ardy.


"Iya bu," ucap Wulan singkat.


"Kalau begitu, kami pamit ya bu. Besok kami kemari lagi sebelum ibu dan Aira pergi ke kota S," ucap Ardy mencium punggung tangan bu Siska lalu pergi keluar rumah bu Siska.


...***...


Pagi sekali Bu siska sudah bangun dan berbenah rumah lalu menyiap kan sarapan untuk Aira dan yang lainnya.

__ADS_1


Di susul oleh Aira yang bangun dan langsung mandi untuk bersiap, setelah selesai Aira pun membangun kan Putra dan Juan.


Tok tok tok


"Nak, kita sarapan dulu. Ibu tunggu ya," teriak bu Siska dari balik pintu kamar Aira.


"Iya bu, nanti aku nyusul," sahut Aira yang sibuk memakai kan baju pada Putra.


"Tuh nenek udah panggil untuk kira sarapan," ucap Aira.


"Iya ma, papa juga harus bisa cepat dong. hehehe," ucap Putra.


Aira dan Putra keluar kamar terlebih dahulu dari pada Juan, lalu Juan menyusul dari belakang.


"Bu, kak Ardy ke sini jam berapa?" tanya Aira.


"Semalam sih dia bilang jam 7 pagi tapi masih belum datang juga ya," ucap bu Siska.


"Kalau masih belum datang juga, kita pergi aja yang bu biar ga terlalu panas di jalannya," ucap Aira.


Sarapan pun selesai tapi Arsy dan Wulan masih belum datang juga padahal Aira sudah mau pergi dan meninggal kan kota A dalam waktu yang cukup lama.

__ADS_1


"Ya sudah bu, ibu telpon kak Ardy aja. Jadi ibu ga terus-terusan nunggu kak Ardy," ucap Aira lalu masuk ke dalam mobil dan ibu pun masuk ke dalam mobil lalu duduk dengan Posisi Putra.


__ADS_2