
Sebulan berlalu setelah obat yang di beri kan oleh dokter habis, Aira dan Juan kembali ke dokter kandungan yang sama untuk kontrol kesehatan rahimnya.
"Kamu mau cek HSG atau tidak sayang?" tanya Juan.
"Boleh ga mikirin hamilnya nanti dulu setelah aku bener-bener siap, sekarang aku cuma ingin sembuh dulu dan hilang kistanya," jawab Aira ketus.
Semenjak Aira di nyata mempunyai kista ovarium di rahimnya, Aira jadi sensitif kalau ada yang perkataan atau obrolan tentang kehamilan dan apa lagi kalau ada yang bertanya 'kapan Putra punya adik?' wajah Aira seketika langsung berubah.
Juan sudah daftar lewat sambungan telpon dari tadi pagi dan sudah mendapat nomor antrian.
Juan dan Aira sudah menunggu di kursi ruang tunggu, menunggu giliran di panggil untuk pemeriksaan.
"Semoga hasilnya jauh lebih baik ya sayang," ucap Juan menggenggam erat tangan Aira.
"Iya, semoga cepat hilang kistanya," ucap Aira.
Semua hal yang di saran kan oleh dokter telah Aira lakukan bahkan makanan yang di larang di konsumsi oleh Aira sudah di hindari.
"Atas nama ibu Aira Yasmi dengan nomor antrian 3," panggil suster.
Aira dan Juan pun bangkit dari kursi yang mereka duduki di ruang tunggu dan berjalan masuk menuju ruangan dokter yang akan memeriksanya.
Aira langsung berbaring di tempat yang sudah di sedia kan untuk pemeriksaan USG.
__ADS_1
Setelah selesai, Aira bangkit dari tidurnya dan kembali duduk di sebelah Juan.
Dokter pun menjelas kan hasil pemeriksaan USG rahim Aira.
"Ukuran kistanya sudah bertambah menjadi diameter 3,3 cm ya pak, bu," ucap dokter.
"Apa bisa hilang dok?" tanya Aira.
"Bisa bu, obat yang saya kasih kemarin itu obat pelebur. Bisa hancur terbawa saat haid," ucap dokter menjelas kan.
"Kalau untuk operasi gimana dok?" tanya Juan.
"Kalau untuk operasi pengangkatan kista biasanya ukurannya pun sudah mulai besar, kalau ukuran masih kecil bisa hancur dengan sendirinya dan di bantu obat yang kemari saya kasih," ucap dokter menjelas kan.
"Untuk kemungkinan hamil itu hanya sekitar 10% karna kistanya di ovarium sebelah kiri ya, masih ada rahim sebelah kanan yang masih bisa di buahi tapi kemungkinan itu cuma 10%. Kecuali ibu dan bapak mau program bayi tabung tapi tidak semua program bayi tabung itu semua berhasil ada juga yang gagal," jawab dokter menjelas kan panjang lebar dan secara rinci.
"Kalau mau kita lakukan dulu periksaan endoskopi untuk melihat jalur masuk sel telur karna setiap memang berbeda-beda kondisi rahimnya, ada yang kuat saat terjadinya proses pembuahan ada juga yang terhambat karna adanya penebalan dinding rahim itu yang membuat sulit untuk hamil," sambung dokter.
Setelah puas bertanya dan selesai pemeriksaan, Aira dan Juan keluar dari ruang praktek dokter lalu ke bagian farmasi untuk mengambil obat dan berakhir di bagian administrasi.
Aira masih terngiang-ngiang obrolan dengan dokter tadi, sepanjang perjalanan Aira hanya melamun melihat ke jendela kaca mobil.
"Sayang, kita mau makan dulu atau langsung pulang aja?" tanya Juan.
__ADS_1
"Kita langsung pulang aja, kasian Putra pasti nunggu kita pulang," jawab Aira.
Sesampainya di halaman rumah, Aira segera menjemput Putra yang di titip kan di tetangga sebelah rumah.
Tok tok tok
"Permisi," ucap Aira.
"Iya sebentar," ucap bu Salsa membuka kan pintu rumahnya.
"Eh mba Aira, mau jemput Putra ya," ucap bu Salsa.
"Iya bu, maaf sudah merepot kan," ucap Aira.
Mendengar suara Aira, Putra segera berlari dari dalam dan langsung memeluk sang mama.
"Mama... aku kangen mama," ucap Putra.
"Baru di tinggal sebentar udah kangen aja, ayo kita pulang. Salim dulu sama bude Salsa nak," ucap Aira.
"Terima kasih ya bude udah jagain dan ngajakin aku main, aku pulang dulu ya bude," ucap Putra mencium punggung tangan bu Salsa.
"Iya nak sama-sama, lain kali main lagi di rumah bude ya nak biar bude ada teman di rumah," ucap bu Salsa.
__ADS_1
Bu Salsa sudah menikah selama hampir 16 tahun naman belum di karuniai seorang anak, makanya bu Salsa dengan senang hati bila di titipi Putra.