Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 71


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Juan segera memarkir kan mobilnya di garasi rumahnya. Aira dan yang lainnya turun dari mobil dan membawa turun barang-barang bawaan dari kota A.


"Haaahhh .. cape sekali," ucap Aira merebah kan badannya di kursi ruang tamu.


"Apa lagi aku yang mengemudi, kamu yang cuma duduk aja cape. Gimana dengan ku?" ucap Juan membawa koper-koper dari garasi mobil.


"Nanti aku pijit deh," ucap Aira.


"Beneran ya," ucap Juan ikut duduk di kursi ruang tamu sedang kan Putra langsung masuk kamarnya dan berbaring di ranjangnya.


"Kalau ibu mau istirahat di kamar tamu dulu aja, biar sekalian jadi kamar ibu. Nanti kita berbenah lagi," ucap Aira.


"Iya nak, ibu istirahat dulu ya," ucap ibu masuk ke dalam kamar tamu yang di maksud Aira.


...***...


Malam hari Juan masih memain kan ponselnya di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi yang Aira buat.


Juan menemukan hal yang mengaget kan di media sosial, ternyata ada grup adopsi yang ga sengaja Juan buka.


"Wah ini pasti ilegal," gerutunya Juan terus menelusuri halaman grup tersebut sampai Aira pun tiba menghampiri Juan.


"Kenapa sayang, mukanya serius amat," ucap Aira.


"Ini loh sayang, ternyata ada grup adopsi anak. coba kamu lihat ini," ucap Juan memberi kan ponselnya pada Aira.


"Ini benar apa ga sih, masa anak di kasih gitu aja. Kaya anak ayam aja," ucap Aira.


"Aku juga belum tau sayang, tadi aku ga sengaja nemu grup itu pas lagi buka sosial media," ucap Juan.


"Kaya ini nih, katanya sih orang sebrang aku udah liat semua komentar. Terus istrinya lari sama mantan kekasihnya, ninggalin anaknya yang masih bayi jadi bapaknya mau kasih ke orang yang memang amanah mengurus anak bukan yang cuma mau di jadi kan alat untuk mencari uang," sambung Juan menjelas kan.


"Apa kita coba cari anak adopsi di sini ya, siapa tau memang benar ada. Kalau ada ya syukur kalau ga ya ga apa-apa," ucap Aira.


"Kamu serius dengan semua ini sayang?" tanya Juan.


"Iya, dari pada nunggu aku bisa hamil. Itu masih belum pasti kapan bisa terjadi," ucap Aira dengan santai dan tanpa beban apa pun.


"Asal kan tidak merugi kan dan tidak meminta apa pun yang macam-macam, aku mau. Asal kan ada orang yang suka rela memberi kan bayinya untuk kita, aku mau merawatnya sampai anak itu besar," sambung Aira.

__ADS_1


"Ya sudah kalau itu mau mu, mudah-mudahan memang ada orang yang mau anaknya kita rawat tanpa syarat apa pun," ucap Juan.


Juan masih sibuk dengan ponselnya dan Aira masuk kembali ke dalam rumah untuk beristirahat.


"Sayang, aku masuk duluan ya. Jangan terlalu lama di luar, angin malam tidak baik untuk kesehatan badan mu," ucap Aira.


"Iya sayang, sebentar lagi aku nyusul kamu ke dalam," ucap Juan.


Aira pun masuk ke dalam rumah meninggal kan Juan seorang diri di teras rumahnya.


Minggu pagi di kota S, Aira sudah menyiap kan sarapan untuk anggota keluarganya yang bertambah sejak ibu Siska ikut bersama Aira ke kota S.


"Putra sayang, kamu belum mandi nak?" tanya Aira saat Putra duduk di kursi meja makan dan masih memakai baju tidurnya.


"Belum ma, nanti aja agak siang. Ini kan hari minggu jadi nanti aja mandinya, sekarang aku mau sarapan aja. Aku lapar ma," ucap Putra.


"Nenek mana sayang?" tanya Aira memberi kan sepiring nasi goreng dengan telor mata sapi kesukaan Putra.


"Mungkin nenek masih tidur, aku belum lihat nenek keluar dari kamarnya," ucap Putra menyantap makanan di depannya dengan lahap.


"Coba kamu lihat dulu, takut ibu kenapa-kenapa," ucap Juan.


Tok tok tok.


"Bu, sarapan dulu. Aku udah buat kan nasi goreng," ucap Aira dari balik pintu kamar bu Siska.


Karna tidak ada jawaban Aira pun masuk ke dalam kamar untuk memasti kan keadaan ibunya di dalam.


"Bu," panggil Aira melihat sekeliling kamar yang memang kosong.


"Mungkin ibu lagi mandi," gerutu Aira segera berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi.


Tok tok tok.


"Bu, ibu di dalam," ucap Aira mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Iya nak, ibu lagi mandi," teriak bu Siska.


"Aku tunggu di meja makan ya, sarapannya sudah siap," ucap Aira.

__ADS_1


"Iya nak, sebentar lagi ibu selesai," ucap bu Siska.


Aira pergi dari kamar bu Siska dan kembali ke ruang makan untuk melanjut kan sarapannya.


"Ibunya mana sayang?" tanya Juan.


"Ibu masih mandi, kata ibu nanti nyusul," jawab Aira.


Tak lama bu Siska pun keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapih tapi santai, bu Siska langsung ke ruang makan untuk sarapan bersama anak dan cucunya.


Selesai sarapan Aira memberes kan dapur dan mencuci semua peralatan makan yang telah di pakai, sedang kan Juan duduk santai di teras rumahnya dan Putra di temani sang nenek bermain di kamar Putra.


Aira melanjut kan pekerjaannya membersih kan rumah yang telah lama di tinggal kan, meski pun tidak berantakan tapi debu yang menjadi masalah bagi Aira karna Aira tidak bisa melihat rumahnya penuh dengan debu.


Hingga siang menjelang, Aira baru selesai dengan pekerjaannya dan beristirahat di ruang keluarga bersama Juan.


"Cape ya sayang?" tanya Juan.


"Iya," ucap Aira menyandar kan kepalanya di bahu Juan.


"Oh iya, aku udah dapet nih ada bayi umur 4 bulan. Ibunya ga sanggup merawat bayinya tapi dia ga punya uang buat ongkos ke sini, dia minta uang untuk ongkos 200 ribu," ucap Juan bercerita dan memberi kan ponselnya pada Aira agar Aira bisa melihat foto bayinya dan isi chat dengan ibu si bayi.


"Bayinya lucu sayang," ucap Aira memberi pujian.


"Memangnya jauh dari sini, kok ongkosnya gede amat," sambung Aira heran.


"Katanya sih rumahnya di luar pulau tepatnya di kota L," ucap Juan.


"Ya udah kalau benar mau di kasih kan anaknya dengan suka rela, kamu transfer aja," ucap Aira.


Lalu Juan pun transfer sejumlah uang untuk orang tersebut.


"Katanya besok dia mau kemari," ucap Juan.


"Ya udah kita tunggu aja benar apa ga dia akan memberi kan anaknya untuk kita" ucap Aira merasa tidak yakin.


Aira mengambil ponselnya dan mengikuti Juan masuk ke dalam grup tersebut hanya untuk melihat-lihat isi grup tersebut.


"Kalau memang Tuhan mengizin kan ku memiliki seorang anak kembali, aku merasa bersyukur dan akan merawatnya seperti anak ku sendiri. Meski lewat rahim wanita lain, aku tetap akan menyayangi anak itu," batin Aira.

__ADS_1


__ADS_2