Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 82.


__ADS_3

"Sus, saya titip dulu Winda. Saya cari sarapan dulu keluar," ucap Aira.


"Iya boleh bu, di sini banyak yang suster yang menjaga," ucap Suster.


Aira keluar dari ruangan bersalin untuk menemui Juan di luar rumah sakit. Juan menemani Aira sarapan di pinggir jalan di depan rumah sakit.


"Gimana kondisi Winda sekarang?"


"Tadi subuh udah di periksa lagi kata bidan udah pembukaan 5, perkiraan agak siangan lahirannya. Nanti jam 7:30 di periksa lagi pembukaannya," jawab Aira melahap nasi uduk di depannya.


"kamu ga ke kantor sayang?" sambung Aira.


"Aku izin ga masuk dengan alasan kamu mau melahir kan biar nanti ada kado dari kantor, jadi taunya bayinya anak kandung kita,"


"Ayah sama ibu udah di kasih kabar belum?"


"Eh iya belum, aku telpon ibu deh,"


Juan mengeluar kan ponselnya dari saku celananya, bermaksud menghubungi ibunya yang berada di kota A.


📱"Halo bu, ibu lagi sibuk ga?"


📱"Ibu lagi minum teh sama ayah, kenapa nak?"


📱"Aku cuma mau kasih tau, Winda udah mau melahir kan. Sekarang udah pembukaan 5,"


📱"Syukur lah, semoga semuanya lancar ya nak. Nanti ayah dan ibu ke kota S untuk melihat cucu baru,"


📱"Iya, minta di doa kan terus ya bu. Agar bayi dan ibunya selamat dan sehat karna aku dan Aira takut kalau sampai terjadi sesuatu hal yang ga di ingin kan, syukur-syukur semuanya baik-baik aja dan mudah-mudahan semuanya baik-baik aja dan lancar, amin,"


📱"Ibu akan selalu mendoa kan yang terbaik untuk semua niat baik mu nak,"


📱"Terima kasih ya bu untuk doanya,"

__ADS_1


Juan mengakhiri telponnya dan menyimpan ponselnya di saku celananya. Sedang kan Aira mengecek kondisi anaknya dengan menelpon ibunya.


📱"Halo bu, Putra udah mandi?"


📱"Udah nak, lagi sarapan dulu. Gimana kondisi Winda sekarang?"


📱"Udah pembukaan 5 bu, perkiraan siang ini lahiran. Doa kan ya bu agar semuanya lancar,"


📱"Ibu pasti doa kan keselamatan Winda dan bayinya, semoga semuanya lancar ibu dan bayinya sehat. Amin,"


📱"Amin, terima kasih atas doanya ya bu. Oh iya, Putra minta di antar pak Deri aja bu kalau pak Deri ga sibuk. Nanti pulangnya biar Juan yang jemput,"


📱"Iya nak, biar nanti ibu minta tolong sama pak Deri,"


📱"Terima kasih ya bu udah bantu ngurus Putra di rumah, maaf aku sudah merepot kan ibu bukannya buat ibu senang dan bahagia tapi aku malah merepot kan ibu terus,"


📱"Iya ga apa-apa nak, ibu ga merasa repot kok. Kabari ibu kalau bayinya udah lahir ya,"


Aira mengakhiri telponnya lalu menyimpan ponselnya di tas kecil yang ia bawa dan kembali menghabis kan sarapannya.


"Putra di antar pak Deri nanti pulangnya kamu yang jemput ya, sekalian kamu mandi dulu di rumah terus balik lagi ke sini," ucap Aira.


"Iya sayang," ucap Juan singkat.


"Aku masuk ke dalam lagi ya, biar tau kondisi terbaru Winda tadi katanya mau di periksa lagi pembukaannya," ucap Aira berdiri dari tempat duduknya.


"Aku tunggu di ruang tunggu depan ruang bersalin aja deh biar ada apa-apa gampang, aku tinggal masuk ke dalam," ucap Juan ikut berdiri dari tempat duduknya dan berjalan beriringan dengan Aira menuju ruang bersalin.


...***...


Hal yang di tunggu pun datang, Winda melahir kan seorang bayi laki-laki dengan sehat dan tak ada yang kurang apa pun. Bayi laki-laki dengan berat 3500 gram dan panjang 52 cm di jam 14:40, badan putih dan mata sipit dengan rambut yang lebat.


"Selamat ya bu, anaknya laki-laki. Lahir dengan sehat dan tidak ada kurang satu apa pun," ucap bu bidan meletak kan bayi di dekat Winda untuk di beri asi.

__ADS_1


Winda hanya menatap dalam-dalam wajah anak lelakinya, semua rasa yang Winda rasa tidak bisa di ungkap kan dengan kata-kata. Rasa bahagia karna anak yang ia pertahan kan bisa lahir dengan sempurna, rasa kecewa karna ia tidak bisa merawatnya sampai anaknya tumbuh besar dan marah karna kecerobohan mencintai orang yang salah membawa Winda pada kesengsaraan. Menjalani kehamilan tanpa seorang suami dan tak ada seorang pun yang mengetahui kehamilannya bahkan merusak kepercayaan dari orang tuanya, terutama dari ibunya.


"Maaf kan aku ya ma, aku udah membuat mama kecewa. Aku udah bohong sama mama, setelah ini aku janji hal ini ga akan pernah terulang lagi. Maaf kan mama ya nak, bukan mau mama berpisah dengan mu. Semoga kamu bisa bahagia dengan keluarga baru mu, sehat selalu ya nak. Tumbuh lah jadi anak yang pintar dan jadi anak yang penurut pada kedua orang tua baru mu. Kelak jika kamu tau hal ini, mama harap kamu tidak membenci mama. Mama harap kamu mengerti," batin Winda menetes kan air mata.


Winda di pindah kan ke ruang rawat inap untuk memulih kan kondisi badannya, Aira dan Juan menyambut bayi Winda dengan penuh kebahagiaan karna hadir anggota baru di tengah-tengah keluarganya.


"Sudah ada nama untuk bayinya bu?" tanya bu bidan saat mengganti popok bayi.


"Belum bu, biar nanti di rumah cari nama bayi yang bagus," jawab Winda.


"Saya bisa pulang kapan ya bu bidan?" tanya Winda tidak sabar untuk cepat keluar dari rumah sakit.


"Lihat besok ya, kalau kondisi badannya udah pulih ibu dan bayi boleh pulang," jawab bu bidan.


Aira dan Juan masuk ke dalam ruangan rawat Winda dan bayinya, bu bidan keluar setelah selesai mengganti popok bayi.


"Terima kasih ya bu bidan sudah membantu," ucap Juan saat bertemu di pintu keluar ruangan.


"Sama-sama pak, ini sudah menjadi tugas saya," ucap bu bidan.


"Gimana kondisi kamu saat ini Win," tanya Aira duduk di sisi kiri ranjang Winda dan mengusap tubuh bayi di sisi Winda.


"Sudah mulai membaik mba, tidak terlalu lemas seperti sebelumnya," jawab Winda.


"Boleh aku gendong bayinya?" tanya Aira yang memang sudah mendamba kan bayi sejak Winda datang.


"Silah kan mba, tadi bu bidan menyuruh ku memberi ASI tapi aku belum memberinya ASI. Aku menunggu sampai mba Aira datang, biar aku tau harus berbuat apa setelah ini," ucap Winda saat Aira mengambil bayinya dari dekapan Winda.


"Kalau kamu mau memberi kan ASI mu pada bayi mu, aku ga apa-apa. Setelah kamu pulang, aku pasti memberi kan susu formula untuk bayi mu," ucap Aira.


"Apa tidak akan apa-apa jika aku memberinya ASI? Tidak akan rewel saat aku tinggal nanti," tanya Winda.


"Tidak apa-apa itu resiko, ASI bisa mempererat ikatan darah antara kamu dan bayi mu. Jika suatu saat nanti anak mu mau mencari mu, ikatan batin yang akan mempertemukan kamu dan anak mu. Sampai kapan pun anak ini tetap anak mu, aku hanya ibu pengganti untuk anak ini," ucap Aira menjelas kan.

__ADS_1


__ADS_2