
Semenjak kejadian waktu itu, aku tidak lagi keluar sendirian. Ketika akan ke pasar, nenek akan meminta tolong orang lain atau hanya pergi ke kedai dekat rumah.
Tidak terasa sudah hampir dua bulan aku tinggal di rumah nenek yang nyaman ini. Nenek mengajarkan ku bagaimana cara memasak yang benar. Tangan lembutnya sungguh handal. Kalau dipikir-pikir, nenek tidak terlalu tua. Umurnya belum mencapai enam puluh. Tubuhnya juga masih sangat sehat. Aku yakin, dulu nenek melahirkan di usia sangat muda bahkan begitu juga dengan Ibuku.
Pagi ini, nenek menyuruhku menggunakan pakaian yang rapi. Nenek dan aku akan pergi ke rumah majikannya dulu yang memiliki sebuah restaurant tempat nenek bekerja sebagai kepala juru masak. Mereka memanggil nenek kembali agar nenek bersedia bekerja di rumah majikannya itu.
Aku sudah mengatakan kepada nenek, bahwa umurnya tidak muda lagi. Mereka bisa saja mencari orang lain yang lebih muda, sehat dan lebih handal tentunya. Tapi, entah kenapa, majikannya itu bersih keras mengharapkan nenekku bekerja di rumah mereka sebagai juru masak. Gajinya cuku fantastis. Aku cukup heran dengan orang-orang kaya ini, mereka tidak perduli berapa usia yang bekerja di rumah mereka, selagi bisa membuat mereka merasa nyaman, mereka akan mempertahankan orang itu bahkan memberikannya gaji yang sangat besar.
Nenek membawa beberapa lembar baju ke dalam tas. Aku mengernyit, kenapa nenek membawa baju-baju ini?
“Nek, kita mau pindah?”
“Kita akan tinggal di rumah itu setiap senin sampai sabtu, setelahnya kita pulang. Senin kita kembali lagi, sampai seterusnya,” ucap nenek sambil memasukkan barang-barang penting yang akan dibawa. Yang benar saja? Aku sudah nyaman di rumah nenek, kenapa harus ke rumah orang lain?
“Jadi, kita bekerja di rumah itu?”
“Iya sayang, kita akan bekerja di rumah itu. Kamu akan membantu nenek sekaligus membersihkan tuan muda,”
__ADS_1
“Tuan muda?”
“Iya, nanti sampai sana kamu pasti akan bertemu dengannya.”
Padahal aku hanya ingin bersenang-senang bersama nenek. Kenapa kami harus mengurus orang lain?
Akhirnya, aku dan nenek pergi ke rumah majikannya. Aku penasaran, seperti apa rumah orang itu. Mereka pasti tidak terlalu kaya.
Aku salah, aku sangat salah! Aku sudah sampai ke sebuah rumah megah dengan halaman sepuluh kali lipat luas rumahku. Mulutku ternganga sangat lebar. Mimpi apa aku nenek dipanggil oleh orang kaya seperti ini? Nenek pasti memiliki hubungan baik dengan mereka.
Aku dan nenek masuk melalui pintu belakang khusus untuk pelayan-pelayan rumah di sini. Kami masuk ke dalam sebuah kamar kecil yang cukup untuk dua orang. Tidak jauh dari kamar ini, terdapat pintu yang langsung menuju akses ke dapur. Kamar ini memang disediakan untuk juru masak di rumah ini.
kami untuk menemui Nyonya mereka. Nenek menyuruhku untuk tetap diam dan hanya mengikutinya saja.
Di ruang tamu, aku sudah melihat seorang wanita tua memakai baju dress hingga lutut berwarna biru muda. Pakaian itu tampak membuatnya sangat cantik.
Ketika melihat nenek datang, perempuan itu langsung menutup majalah dan berdiri. Dia memeluk nenek dengan sangat erat.
__ADS_1
“Oh, Mom, akhirnya kamu kembali,” katanya menebar senyuman lembar. Aku mengkerutkan keningku, kenapa majikan ini bersikap seperti ini? Memangnya, apa yang dilakukan nenek sampai ia mau memeluk nenek? Aku pikir, orang kaya seperti dia tidak akan memeluk orang sembarangan.
“Silahkan duduk,”
Aku mengikuti nenek ketika duduk di sofa kulit berbahan kayu jepara. Kursi ini pasti sangat mahal.
“Apa kabar Mom?”
“Saya baik, Nyonya.”
“Maaf aku memanggilmu di saat-saat seperti ini, seharusnya kau sudah beristirahat dengan santai di rumah,” mendengar itu, nenek langsung menggeleng. Aku hanya melempar tatapan kepada mereka berdua sambil menjaga senyumanku tetap aman. Momen seperti apa ini? Aku sama sekali belum merasakannya.
“Tidak apa-apa Nyonya. Aku senang anda memanggil saya,” jawab nenek lalu merunduk memberikan hormat.
Tiba-tiba, perempuan ini melihatku. Nenek langsung mengetahuinya. “Ini adalah cucuku. Dia orang yang akan membantu saya seperti yang saya katakana kepada anda,” ucap nenek menjelaskan. Dia hanya mengangguk-angguk tersenyum. Bahkan, dia tidak ingin menanyakan namaku.
“Dia cantik,” ucapnya tiba-tiba.
__ADS_1
Apa katanya? Aku cantik? Hahaha! Tentu saja aku cantik!
“Baiklah, mulai hari ini kau akan memasak ya Mom. Apa kau sudah tahu kamar kalian?” nenek langsung mengangguk. Setelah itu, dia menyuruh kami untuk kembali ke dapur dan memerintahkan salah seorang pelayan agar memberi tahu kepada nenek dan aku, perubahan menu apa saja yang harus nenek tahu. Ah, orang kaya sangat ribet ya.