Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 42


__ADS_3

Aira hanya bisa tersenyum melihat kedatangan ayah dan ibu mertuanya.


Begitu melihat Putra yang di gendong Juan, ibu Ika segera mengambil alih Putra dari gendongan Juan.


"Oma kangen banget sama kamu," ucap ibu Ika terus menciumi pipi Putra.


Aira dan Juan pun duduk bersebelahan di kursi depan orang tua Juan, tak lupa Aira mencium punggung tangan ayah dan ibu mertuanya.


"Apa kabar nak?" tanya ayah.


"Seperti yang ayah lihat, aku sehat hari ini. Ayah dan ibu apa kabar? sudah lama ga datang berkunjung ke sini," jawab Aira dan kembali bertanya.


"Ayah dan ibu sehat nak," ucap ayah.


"Maaf kan kami ya nak, beberapa bulan ini tidak datang menjenguk kamu dan Putra karna kami merasa malu pada mu dan ibu mu," ucap ibu Ika.


"Ga apa-apa bu, aku pun sudah memaaf kan semua kesalahan yang pernah Juan lakukan. Kita akan memulai semuanya dari awal lagi," ucap Aira.


"Iya bu, rencananya aku akan membawa Aira dan Putra pindah ke kota S dan memulai semua dari awal lagi. Aku akan menjaga dan melindungi istri dan anak ku," ucap Juan.


"Kalau itu sudah jadi keputusan kalian, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoa kan yang terbaik untuk kalian berdua," ucap pak Dedi.


"Iya terima kasih yah untuk doanya," ucap Aira.


"Kapan rencana untuk pindahannya?" tanya ibu Ika.

__ADS_1


"Hari sabtu bu, karna hari minggu aku udah mulai kerja lagi. Biar bisa istirahat dulu," jawab Juan.


Ibu Siska pun datang dengan membawa nampan yang berisi minuman untuk besannya.


"Maaf ya besan cuma bisa ngasih suguhan seadanya," ucap ibu Siska menaruh cangkir berisi teh hangat di depan pak Dedi dan bu Siska.


"Iya ga apa-apa bu, maaf sudah merepot kan," ucap pak Dedi sungkan.


Obrolan pun berlangsung cukup lama, canda tawa pun ada di saat Putra menunjukkan perkembangan pertumbuhannya.


Di usia 9 bulan Putra sudah mulai bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun membuat Aira dan Juan bangga dengan apa yang Putra tunjukan.


...***...


Hari sabtu pagi.


Aira pun sudah mengajukan resign dari cafe tempatnya bekerja, kini Aira ingin fokus pada keluarga kecilnya.


Aira dan Juan pamit pada ibu Siska dan kedua orang tua Juan di kediamannya.


"Aku pamit ya bu, jaga kesehatan ibu ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Aira.


"Aku juga pamit ya bu, nanti setiap bulan aku akan mengirim uang untuk kebutuhan ibu di sini," ucap Juan.


"Iya nak, kalian hati-hati di jalannya ya. Yang akur kalau ada masalah itu di bicara kan baik-baik ya biar ada jalan keluarnya," ucap ibu Siska.

__ADS_1


"Ibu titip Aira dan Putra ya, jangan pernah sia-sia kan kesempatan yang kamu dapat kan dengan susah payah," sambung ibu.


Aira dan Juan pun pergi menuju rumah orang tua Juan untuk berpamitan.


Sepanjang perjalanan, Juan terus tersenyum bahagia karna akhirnya Juan bisa mendapat kan cinta Aira kembali dan pulang ke kota S membawa istri dan anaknya.


Sesampainya di rumah orang tua Juan, ternyata tidak ada seorang pun yang berada di rumah.


Juan mengambil ponselnya untuk memastikan keberadaan ibu dan ayahnya.


📱"Halo bu, lagi dimana bu?" tanya Juan tanpa basa basi.


📱"Ibu lagi di rumah sakit, antar ayah cek kesehatan. Kenapa? Kamu ada di rumah?" jawab Ibu Ika dan kembali bertanya pada Juan.


📱"Iya bu, tadinya aku mau pamit. Aku dan Aira mau berangkat ke kota S sekarang," jawab Juan.


📱"Oh, gitu. Ya sudah kalian hati-hati di jalannya ya," ucap Ibu Ika.


📱"Kalau begitu aku langsung pergi aja ga bu, maaf ga nunggu sampai ibu dan ayah pulang," ucap Juan.


📱"Iya ga apa-apa nak, yang akur ya di sana," ucap ibu Ika.


Juan pun menutup telpon dan segera mengajak Aira menaiki mobil kembali.


"Ibu dan ayah lagi di rumah sakit, kita langsung berangkat aja. Ga usah nunggu mereka pulang, tadi aku sekalian pamit sama ibu," ucap Juan.

__ADS_1


Tanpa menjawab Aira menutur apa kata Juan, naik ke mobil duduk manis sampai tiba nanti di kota tujuan.


__ADS_2