Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 38


__ADS_3

Juan membawa kan sarapan untuk Aira dan ibu karena masih pagi dan bukan jam besuk, Juan masih tidak di perboleh kan masuk oleh pak satpam.


"Ah aku lupa tidak meminta nomor ponsel Aira yang baru, aku telpon ibu aja deh," batin Juan.


Segera Juan mengeluar kan ponsel dan menghubungi ponsel ibu Siska.


📱"Halo bu, ini aku bawa kan sarapan untuk ibu dan Aira. Aku di depan pintu ruangan bu," ucap Juan.


📱"Iya, nanti Aira yang ambil ya nak," ucap ibu.


📱"Iya bu," jawab Juan singkat dan menutup telponnya.


Tak lama Aira pun keluar dari ruangan rawat inap dan menemui Juan di ruang tunggu.


"Ini sarapan buat kamu sama ibu," ucap Juan memberi kan kantong bawaannya pada Aira.


"Iya terima kasih. Oh iya, hari ini Putra udah boleh pulang," ucap Aira.


"Bagus dong, biar aku yang urus administrasinya. Nanti rinciannya kamu kasih sama aku aja, biar kamu ga repot juga," ucap Juan.


"Iya, terima kasih ya atas tanggung jawab yang kamu beri. Meski pun aku ga pernah kasih kamu kabar apa pun tapi kamu tetap tanggung jawab kasih aku nafkah tiap bulan, ya meski pun aku ga pernah pake," ucap Aira.


"Itu kan udah jadi kewajiban aku sebagai suami dan ayah untuk anak kita, mau di pakai apa pun itu hak kamu," ucap Juan.

__ADS_1


"Oh iya, aku kan belum punya nomor ponsel kamu yang baru, kamu simpan ya di ponsel ku biar aku lebih mudah menghubungi istri ku ini," sambung Juan memberi kan ponselnya pada Aira.


Aira pun menyimpan nomor ponselnya di ponsel Juan.


"Kamu udah sarapan?" tanya Aira.


"Nanti aku cari di bawah aja, gampang," jawab Juan.


"Ya sudah sana masuk, kasian ibu nunggu kamu. Habis kan ya sarapannya, aku ke atm dulu sekalian cari sarapan," sambung Juan.


"Iya," jawab Aira singkat.


Aira pun masuk ke ruangan rawat inap dan Juan pun pergi ke lantai bawah untuk mencari Atm dan sarapan.


"Terima kasih Tuhan engkau sungguh baik, engkau telah membuka kan pintu hati Aira. Tak akan ku sia-sia kan kesempatan ini, akan ku jaga dia sampai kapan pun," batin Juan.


Untungnya Amel tidak melihatnya karna yang keluar dari lift ada beberapa orang sedang kan Amel terlalu fokus pada ponsel yang di pegangnya dan Juan segera melangkah pergi menghindari Amel.


"Untung aja dia ga liat aku tadi," gerutu Juan.


Juan pun pergi ke atm lalu ke kantin rumah sakit untuk sarapan.


"Aku harus lebih hati-hati lagi, kalau ketemu lagi sama Amel bisa bahaya ini. Apa lagi kalau Aira tau, nanti di kira yang macam-macam lagi," batin Juan.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Juan pun kembali ke ruang tunggu.


Juan mengeluar kan ponselnya untuk mengirim pesan pada Aira.


[Sayang, aku tunggu di depan ya. Kalau sudah ada rincian pembayaran kasih tau aku, biar semuanya cepat selesai dan kita cepat pulang]


Aira hanya membaca isi chat WhatsApp dari Juan dan langsung keluar kamar untuk bertanya pada admin ruangan.


"Maaf mba, apa sudah ada rincian pembayaran untuk pasien atas nama Putra Ramadhani?" tanya Aira.


"Sudah bu, sebentar ya saya print dulu rinciannya," jawab admin ruangan dan langsung melakukan apa yang menjadi tugasnya.


"Ini ya bu total yang harus di bayar, ibu bayar ke bagian kasir di lantai dasar gedung ini," sambung admin ruangan menjelas kan.


"Baik, terima kasih ya mba. Saya bayar dulu, biar bisa cepat pulang," ucap Aira tersenyum pada admin ruangan.


Aira pun keluar ruangan dan menemui Juan di ruang tunggu.


"Ini rinciannya," ucap Aira memberi kan selembar kertas pada Juan.


"Oke, aku bayar dulu ya," ucap Juan langsung pergi menunggu pintu lift terbuka.


"Kok perasaan ku ga enak ya, apa aku ikut aja ya," batin Aira.

__ADS_1


"Aku ikut aja deh, temani kamu," ucap Aira.


"Ayo," jawab Juan singkat dan menggenggam erat tangan Aira.


__ADS_2