
Pagi sekali Aira sudah memandi kan Putra dan memberes kan barang bawaannya, tak lupa Aira membantu memberes kan rumah mertuanya.
Setelah selesai pekerjaan rumahnya, Aira kembali ke kamar. Melihat Juan sudah rapih padahal hari ini hari libur.
"Mau kemana kamu? Ini kan hari libur, kenapa udah rapih," tanya Aira penuh rasa curiga.
"Aku ada janji dengan teman," jawab Juan.
"Oh, teman apa selingkuhan. Bukannya semalam wanita itu ingin ketemu sama kamu ya, dia kesepian ga ada kamu," ucap Aira dengan nada ketus.
Aira tetap tenang menahan emosinya, walau dengan nada kesalnya pada Juan.
"Dia hanya teman tidak lebih," ucap Juan membela diri.
"Lebih pun tak apa itu hak kamu, tapi mulai saat ini aku sudah tidak mau tau lagi. Terserah kamu mau melalukan apa pun dengan siapa pun, terserah!!!" ucap Aira.
Aira menggendong Putra yang sedang tidur dan membawa tas bawaannya.
"Aku pulang, aku tunggu surat gugatan cerai dari kamu kalau tidak aku yang akan menggugat cerai kamu," sambung Aira.
Juan menahan tangan Aira agar Aira tetap tinggal.
"Aira jangan pergi, kita bisa bicara kan ini baik-baik," ucap Juan mencoba membujuk Aira.
"Kamu dengar kan baik-baik, aku sudah lama mengetahui perselingkuhan yang kamu lakukan di belakang ku. Apa kurang ku? Dimana salah ku pada mu?" ucap Aira akhirnya tangisnya pun tak terbendung lagi.
__ADS_1
"Aku kurang cantik, kurang menarik buat kamu? Kamu ga ingat gimana dulu kamu memperjuang kan agar aku mau bersama mu tapi setelah kita menikah dan ada Putra kamu selingkuh sama perempuan lain," sambung Aira.
"Kamu salah paham sayang," ucap Juan.
"Sayang kamu bilang, setelah kamu menghianati pernikahan kita itu yang kamu bilang sayang," ucap Aira.
"Beri aku kesempatan sekali lagi Aira, demi Putra anak kita," ucap Juan terus membujuk Aira agar Aira bisa memaaf kannya.
"Berkali-kali aku menemukan chat mesra dengan wanita itu bahkan kamu membawa wanita itu ke hadapan ku, apa kamu ga mikirin perasaan ku?" ucap Aira menangis sejadi-jadinya.
"Saat aku mau melahir kan kamu kemana, apa jangan-jangan kamu lagi berduaan sama wanita itu," sambung Aira.
Melihat Juan yang hanya diam Aira sudah mengerti dengan diamnya Juan.
"Jawab Juan jangan diam aja, hati ku sudah terlanjur sakit bahkan hancur karna kamu," sambung Aira.
Tangisan Aira terdengar oleh ibu Juan yang kebetulan melintas di depan pintu kamar Juan.
Tok tok tok
"Aira, kamu di dalam?" tanya ibu.
"Sudah ya, nanti ibu tau dan jadi pikiran. Aku ga mau ibu ku sakit gara-gara ini," ucap Juan.
"Oke, kalau itu mau mu. Keputusan ku tetap sama, kamu atau aku yang urus surat cerai kita," ucap Aira.
__ADS_1
Aira mengusap air mata di pipinya dan membuka pintu kamar sekalian pamit pada ibu mertuanya.
"Bu, aku pamit pulang ya. Maaf kalau aku banyak salah pada keluarga ini," ucap Aira sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Loh ada apa ini, katanya kalian seminggu menginap di sininya," tanya ibu.
"Ga ada apa-apa bu, aku ada urusan lain di luar," ucap Aira beralasan.
"Jangan bohong Aira, mata mu sembab seperti habis nangis dan ibu mendengar tadi kamu menangis," ucap ibu kebingungan dengan apa yang terjadi antara Aira dan Juan.
"Kalau untuk itu, silah kan ibu tanya kan pada Juan. Kalau aku yang jawab aku takut salah berucap dan aku yang di salah kan," jawab Aira.
"Tunggu Aira, kalau ada masalah kita selesai kan dulu pakai kepala dingin jangan pakai emosi. Nanti kamu menyesal," ucap ibu.
"Maaf bu, aku pamit dulu. Silah kan ibu tanya pada Juan," ucap Aira.
Aira pun pergi membawa Putra dan luka di hatinya, dengan langkah gontai Aira meninggal kan rumah orang tua Juan.
"Juan kenapa kamu diam aja, kamu susul Aira," ucap ibu.
"Aira sudah minta aku mengurus surat cerai bu, apa yang bisa ku lakukan untuk mengejarnya," ucap Juan.
"Apa yang kamu lakukan sehingga Aira meminta pisah dari kamu?" tanya ibu dengan nada tinggi karna mendengar Aira mint cerai dari Juan.
Juan hanya diam dan tak bisa menjelas kan apa pun pada ibunya.
__ADS_1