Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 92.


__ADS_3

Pov Vino.


Hai nama ku Alvino Ardyansyah, dulu aku mencintai teman sekelas ku yang tak pernah aku ungkap kan sebelumnya. Cinta monyet yang aku pendam selama bertahun-tahun akhirnya bisa ku ungkap kan setelah pertemuan kembali di grup chat yang di buat oleh teman ku.


Rasa cinta yang ku ungkap kan memang tidak tepat karna kini aku sudah memiliki istri dan 2 orang anak, begitu pun dengan dia yang masih berstatus istri orang dan memiliki 2 orang anak.


Andai dulu aku punya keberanian untuk mengungkap kan rasa cinta ini padanya, mungkin sampai saat ini aku bisa rela kan dia bahagia dengan lelaki pilihannya. Kini aku ingin memilikinya tanpa perduli apa yang akan terjadi antara aku dan istri ku.


Karna masa lalu ku yang kelam, aku terlalu takut untuk mendekati Aira. Berkali-kali aku mencoba datang ke rumahnya tapi aku terlalu takut dan malu untuk menemuinya, sampai akhirnya aku memilih menjauh darinya.


Aku mencoba peruntungan di kota C, di sini lah awal mula aku berjuang demi menyambung hidup. Jauh dari orang tua dan tidak ada sanak saudara yang ku kenal. Berbekal tekad dan niat bekerja, aku mulai dari terminal. Di terminal aku bekerja serabutan, mulai dari jadi calo angkutan umum sampai jadi kondektur bis sudah pernah ku jalani.


Berjualan asongan dan apa pun itu asal kan bisa menghasil kan pundi-pundi uang agar aku bisa makan hari itu juga.


Karna pergaulan bebas di terminal, tak jarang uang yang aku dapat kan dari hasil kerja keras ku, aku mengguna kannya untuk membeli minuman beralkohol tinggi. Mabuk-mabukan hampir setiap hari aku laku kan bersama teman-teman ku di terminal, sesekali aku pun mencoba obat-obatan terlarang.


Bertahun-tahun hidup ku berantakan, sampai akhirnya ada teman ku menawar kan kerja tanpa ijazah. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengikuti teman ku bekerja. Tugas ku hanya menjaga gedung di saat malam hari, itu bukan hal berat bagi ku karna aku memang sering bergadang saat di terminal.


Aku bekerja dan mendapat kan gaji, hampir satu tahun aku bekerja. Semakin hari aku bekerja di bawah tekanan dan hinaan dari rekan kerja ku, membuat ku tak tahan dengan semua hinaan itu dan membuat ku gelap mata. Aku mengambil pisau dan menusukan tepat di perut teman kerja ku, walau pun tidak sampai meninggal tapi teman ku masuk rumah sakit dan pihak keluarganya melapor kan ku pada pihak yang berwajib.


Berhari-hari aku berada di sel kapolsek setempat menunggu sidang berlangsung, hingga sidang pun berlangsung dan aku pun di vonis 2 tahun penjara.


Selama aku di dalam penjara, tidak ada satu orang pun yang menjenguk ku karna aku memang tidak memiliki sanak saudara di kota ini. Tapi sesekali aku mendapat kunjungan dari teman lama ku saat di terminal, pihak keluarga ku pun tidak pernah mencari ku.

__ADS_1


"Saat aku keluar nanti, aku harus bisa hidup lebih baik lagi. Aku harus bisa berubah," gerutu ku dengan tekad yang bulat.


Satu tahun berlalu, masa tahanan ku tinggal setengah perjalanan lagi. Seperti biasa setiap pagi aku dan teman-teman ku melaksana kan rutinitas di pagi hari, saat sedang berbenah halaman lapas bersama 3 orang teman seperjuangan ku dengan berbeda kasus. Penjaga lapas memanggil ku dan meminta ku menemui kepala lapas.


"Vino, kamu di panggil untuk menemui kepala lapas,"


"Sekarang pak?"


"Iya, ayo,"


Aku berjalan beriringan dengan petugas penjaga lapas menuju ruangan kepala lapas, dengan perasaan bertanya-tanya aku terus berjalan bersama petugas lapas.


Tok tok tok.


"Permisi pak, Vino siap menghadap," ucap petugas lapas memberi laporan pada kepala lapas.


"Biar kan Vino masuk,"


Aku pun di persilah kan masuk oleh petugas lapas, aku pun membuka pintu ruangan kepala lapas dan masuk ke dalamnya. Sedang kan petugas lapas yang membawa ku ke ruangan kepala lapas, ia menunggu dan berjaga di depan ruangan.


"Permisi pak, bapak panggil saya,"


"Silah kan duduk Vin, ada yang mau saya bicara kan sama kamu,"

__ADS_1


Aku pun duduk tepat di depan kepala lapas, rasa penasaran dengan apa yang akan di bicara kan oleh kepala lapas pada ku.


"Begini Vino, karna perilaku mu selama satu tahun ini baik dan taat peraturan dan mengingat hukuman mu tinggal 11 bulan lagi. Kami dari pihak lapas akan memberi kan mu remisi atau potongan masa tahanan selama 6 bulan, jadi sisa hukuman mu tinggal 5 bulan ke depan. Dan di perkira kan kamu akan bebas di awal bulan juni mendatang,"


"Terima masih pak, atas kebaikan bapak memberi kan potongan masa tahanan pada ku," ucap ku dengan hati senang karna mendapat kabar gembira.


"Pesan dari saya hanya satu, berbuat baik lah terhadap semua orang jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama. Lebih banyak mengguna kan otak dari pada otot, karna penggunaan otot di saat emosi tinggi akan menyengsara kan hidup kita, jadi kan semua yang pernah terjadi dengan mu di masa lalu sebagai pelajaran yang berharga ya," ucap pak kepala memberi nasihat pada ku.


"Siap pak, akan aku ingat terus hal itu. Terima kasih banyak pak, 5 bulan terakhir aku berada di sini. Aku udah ga sabar keluar dari sini pak," ucap ku terus tersenyum bahagia.


Karna obrolan sudah selesai, aku pun pamit keluar dan kembali pada kegiatan ku sebelumnya.


...***...


Masa tahanan pun berakhir, aku kembali ke terminal dan kembali jadi kondektur bis. Sepintas aku melihat penumpang yang mirip dengan Aira tapi mungkin itu hanya mirip, mana mungkin kan Aira ada di terminal sendirian. Memangnya dia mau kemana, aku ga berani menegur orang tersebut karna aku pun takut salah. Dan kalau pun benar kau pasti malu bertemu dengan Aira dalam keadaan ku yang seperti sekarang ini.


"Aku ga ikut dulu ya, hari ini aku mau ke kota A dulu. Aku mau cari pujaan hati ku di sana," ucap ku pada Sarif, partner kerja ku setiap hari.


"Gaya kamu pake punya pujaan hati segala di kota lain,"


"Iya dong, siapa tau dia belum punya pacar. Kan bisa aku ajak nikah sekalian,"


Aku pun pergi ke kota A dan mencari Aira di rumah orang tuanya, dengan penuh keberanian aku terus berjalan di gang menuju rumahnya. Tapi rumahnya kok sepi sekali, karna penasaran aku pun bertanya pada tetangga sebelah rumah Aira.

__ADS_1


"Permisi bu, apa benar ini rumah Aira Yasmin anaknya ibu Siska?" tanya ku menunjuk ke rumah Aira.


__ADS_2