
5 tahun kemudian.
Di rumah yang sederhana yang Juan beli dari hasil kerja kerasnya, Aira menjalani hubungan dengan penuh cinta kasih tanpa ada rasa curiga sedikit pun.
Rasa percaya yang sempat hilang kini kembali lagi, Aira dan Juan saling percaya dan terbuka satu sama lain.
Aira memulai usaha kecil-kecilan di rumah membuka catering yang di dikerjakannya sendiri tapi jika pesanan sedang banyak, Aira meminta bantuan pada tetangganya.
Kini Putra sudah memasuki sekolah taman kanak-kanak, Putra sering meminta kehadiran seorang adik tapi Aira belum siap untuk itu.
Sepulang sekolah Putra mengajak mamanya ke minimarket, Aira pun menuruti apa yang di ingin kan anaknya.
"Mama, ayo kita cari adik bayi, kita beli adik bayi di sini," ucap Putra dengan polosnya.
"Nak, adik bayi itu ga di jual di minimarket sayang. Adik bayi adanya di perut mama dan keluar bila sudah waktunya tiba, begitu sayang," ucap Aira menjelas kan perlahan.
"Pokoknya aku mau adik bayi," ucap Putra merengek.
"Kita jajan aja ya, beli ice cream sama kue aja ya. Putra mau," ucap Aira mencoba membujuk Putra agar tidak rewel lagi.
"Iya ma, aku mau. Tapi nanti ajak papa ya beli adik bayi," ucap Putra dengan segala kekonyolannya.
"Iya sayang nanti kita bicara sama papa ya," ucap Aira.
Putra hanya mengangguk kan kepalanya dan berjalan mengikuti Aira ke lorong makanan ringan tak lupa Ice cream menjadi jajanan utama bagi Putra.
__ADS_1
...***...
Sesampainya di rumah, Putra segera mencari papanya ke setiap ruangan tapi Putra tidak menemukan sang papa karna Juan masih di kantor.
"Pa, papa," panggil Putra membuka pintu kamar Aira dan Juan.
"Kok ga ada ya, apa di kamar mandi ya?" gerutu Putra melihat kamar yang memang kosong.
"pa, papa," teriak Putra membuka pintu kamar mandi dan ternyata tidak ada siapa pun di kamar mandi.
"Sayang, papa masih di kantor. Baru nanti sore pulang, kita telpon papa aja ya," ucap Aira membujuk Putra.
"Iya ma," ucap Putra.
Aira mengajak Putra duduk di ruang tamu untuk menelpon Juan, Aira mengeluar kan ponsel dari dalam tas yang di bawanya.
"Iya ma, cepat ma video call papa," ucap Putra penuh semangat.
📱"Halo pa, kamu sibuk ga?" sapa Aira memulai obrolan.
📱"Aku baru selesai meeting, memangnya kenapa?" tanya Juan.
Putra pun merebut ponsel yang Aira pegang untuk bisa bicara dengan papa Juan.
📱"Halo papa, nanti pulang kerja papa kita beli adik bayi ya pa," ucap Putra dengan yakin.
__ADS_1
📱"Loh memangnya Putra tau dari mana kalau adik bayi bisa di beli," ucap Juan tersenyum menahan tawa mendengar perkataan anaknya.
📱"Teman-teman ku udah punya adik bayi papa, cuma aku yang ga punya adik bayi," ucap Putra mulai merengek.
📱"Ya sudah, nanti kita bicara lagi di rumah ya. Putra main dulu sama mama, papa mau kerja dulu ya," ucap Juan.
📱"Iya pa, tapi nanti papa langsung pulang ya biar bisa cepat beli adik bayinya," ucap Putra.
📱"Iya, papa tutup telponnya ya," ucap Juan mengakhiri telponnya.
Aira tersenyum kecil mendengar percakapan antara papa dan anaknya.
"Sepertinya aku udah harus memikir kan permintaan Putra, nanti aku coba bicara kan dengan Juan deh," batin Aira.
"Sudah ya, sekarang kamu ganti baju terus kita makan jajanan yang tadi kita beli di minimarket," ucap Aira.
Putra menurut dengan apa yang di kata kan oleh sang mama, Putra masuk ke dalam kamarnya untuk ganti baju.
Sementara Aira mengecek pesanan catering yang sudah masuk.
"Hari ini hanya 1 tapi jumlahnya cukup banyak. Aku kerjain sendiri aja kali ya, Putra biar main aja di kamarnya," gerutu Aira.
Aira pun pergi ke kamar Putra untuk memastikan Putra sudah mengganti bajunya.
"Eh anak mama pintar ya, udah bisa ganti baju sendiri," ucap Aira melihat Putra sudah ganti baju tapi lemari memang berantakan.
__ADS_1
Putra yang sedang duduk di lantai yang beralas kan karpet bulu dan memakan jajanan yang di belinya di minimarket.
"Nak, main dulu di kamar ya. Mama mau masak dulu untuk pesanan catering, Putra jangan kemana-mana ya," ucap Aira.