
Siang hari ini aku hanya berjalan tanpa arah, tidak menentu. Aku sudah berusaha untuk mencari pekerjaan, meski hanya mencuci piring. Bahkan, aku sudah mencoba untuk membantu para Ibu-Ibu untuk membawa barang belanjaan mereka, tetapi, tetap saja mereka tidak memberiku bantuan.
Aku sama sekali belum makan, bibirku kering. Aku tidak tahu lagi harus pergi ke mana. Mencopet? Lupakan! Aku tidak akan melakukan hal keji itu.
Ah, menyedihkan sekali ya. Orang-orang seperti ku sangat sulit mencari pekerjaan. Tapi, orang-orang di luar sana malah menganggap kami orang yang hina. Susah sekali hidup sebatang kara di kehidupan yang jahat ini.
Aku hanya berjalan tanpa arah, tidak tahu harus kemana. Mengemis? Aku masih bisa kerja! Kaki tanganku masih sempurna, tidak mungkin aku mengemis dari orang lain.
“Hahahaha….”
Tawaan jelek itu terdengar di telingaku. Dari jauh, aku sudah melihat beberapa preman pasar sedang mendekati seorang Nenek tua dan ingin merampas uangnya. Aku mengernyit, dasar manusia-manusia pemalas. Aku langsung bergegas menolong nenek itu.
“Woi.. kembalikan barang nenek ini!” ucapku menantang. Ah, melawan empat orang itu cukup berat. Tapi, mereka tidak terlalu besar, jadi aku bisa mengatasinya.
“Siapa nih anak? Jangan ikut campur urusan orang! Pergi sana!” katanya kesal karena kesenangannya telah aku usik.
Enak saja suruh pergi, dasar preman enggak punya hati!
“Sekarang, gue minta lo kembalikan dompet nenek ini atau gue teriak supaya lo semua di gebukin, pilih mana?” aku melotot pada mereka meski apa yang kulakukan ini memancing peperangan preman daerah sini. Ah, tapi biarkan saja. Siapa yang perduli. Yang penting nenek ini bisa selamat.
__ADS_1
“Cari mati ya lo sama kita?”
“Cepat balikin!” teriakku menantang mereka.
Ah, yang benar saja! Aku mulai menyesal sekarang, seharusnya aku teriak saja. Jadi, aku juga selamat dari preman-preman ini.
“Awas ya, ketemu lain waktu, habis lo!”
Ya, ya, ya. Tanpa kalian mengatakan itu pun, aku sudah tahu. Preman yang lebih ganas dari kalian sudah lebih dulu menjadi langgananku. Dasar bocah!
Aku merampas dompet itu dari tangannya dan menyuruh mereka pergi. Nenek di sebelahku tak berkutik, dia ketakutan. Memangnya, apa yang bisa dilakukan wanita tua renta di saat seperti ini, kalau bukan hanya diam dan menyerahkan semuanya?
Sesaat aku menyerahkan dompet itu, ia melihatku penuh rasa takut.
Aku langsung memegang tangannya yang dingin dan menenangkannya. “Iya Nek, enggak apa-apa. Sekarang Nenek mau kemana?” tanyaku. Aku akan memastikan bahwa Nenek ini pulang dalam keadaan baik-baik saja. Bisa repot kan, kalau tiba-tiba ditengah jalan dia terserang jantung?
“Nenek mau pulang,”
“Rumah Nenek di mana? Biar Kia antar,” kataku lalu mengambil barang belanjaannya. Biar ku tebak, Nenek ini pasti tinggal sendiri. Atau, dia tinggal bersama anaknya yang durhaka. Jika tidak, mengapa mereka membiarkan orang tua renta seperti ini ke pasar sendirian?
__ADS_1
“Kamu Azkia?” tanyanya tiba-tiba. Wah, benar sekali. Apa nenek ini peramal? Kenapa dia bisa tahu namaku?
“Kenapa Nenek bisa tahu namaku?” tanyaku bingung. Aku sedang tidak menggunakan papan nama di dadaku, kenapa dia bisa tahu namaku?
Aku lihat, dia buru-buru mengambil foto di dalam dompetnya dan menunjukkan sebuah foto anak kecil yang sangat menggemaskan. “Ini kamu kan, Nak?” ucapnya lagi. Aku menyipitkan mataku, berusaha mengingat-ingat wajah yang ada di dalam foto.
Benar saja, itu memang fotoku waktu kecil. Kenapa bisa ada sama Nenek ini? Aku tiba-tiba merinding.
“Azkia cucuku!” ucapnya tiba-tiba.
Cucu?
Dia langsung melepaskan semua belanjaan dari tangannya dan memelukku sangat erat. Aku terdiam, tidak bisa bergerak. Seorang Nenek tua asing yang ku tolong sedang mengaku menjadi Nenekku yang sesungguhnya. Sangat menggelikkan. Mungkin Nenek ini sudah pikun, pikirku.
“Nenek… aku bukan cucumu. Aku enggak punya keluarga,” jawabku lagi sambil melepaskan pelukannya. Dia menolak, dia langsung mengambil foto lain. Yang benar saja, nenek ini membawa album kemana-mana.
Dia menunjukkan foto seorang suami istri kepadaku. Mataku terbelalak. Itu orang tuaku, bagaimana bisa?
“Nenek?”
__ADS_1
“Aku ibu dari ayahmu. Aku nenekmu, Nak.” Katanya meyakinkan dan memelukku lagi. Aku terkejut setengah mati. Bertahun-tahun aku hidup sendirian dan sekarang aku menemukan seorang nenek tua yang mengaku adalah ibu dari ayahku.
“Ayo kita pulang. Ya ampun, kamu berantakan sekali,” katanya mengelus-elus wajah dan merapikan bajuku yang kotor. Aku hanya terdiam. Tiba-tiba aku menurut apa yang ia katakana dan aku mengikutinya sampai ke rumahnya.