Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 61.


__ADS_3

Tok tok tok


Aira mengetuk pintu kamar Putra dengan pelan karna tak kunjung di buka kan oleh Putra, Aira pun membuka pintu kamar Putra.


"Putra sayang, mama pulang," ucap Aira.


Putra yang sibuk dengan mainan yang ia main kan di atas meja belajarnya segera menoleh kan wajahnya ke arah sumber suara.


"Mama....," teriak Putra segera berlari memeluk tubuh Aira.


"Aku kangen mama," sambung Putra.


"Sama, mama juga kangennnnn banget sama anak mama yang ganteng ini," Aira terus memeluk Putra karna ingin melepas rindunya pada anak semata wayangnya.


Aira melepas rasa rindunya pada Putra dengan menemani Putra bermain di kamarnya sampai Putra tertidur dan Aira pun ikut tertidur di samping Putra.


Sampai Juan pun pulang dan langsung mendatangi kamar Putra, ternyata Juan melihat Aira tidur sambul memeluk Putra dengan mata agak sembab.


"Segitu rindunya kamu sama Putra," batin Juan lalu pergi dari kamar Putra dan kembali ke ruang tamu dimana para orang tua berkumpul.


"Gimana Aira nak?" tanya bu Ika.

__ADS_1


"Dia masih tidur bu, aku ga berani bangunin dia," ucap Juan lalu duduk di kursi kosong.


"Sejak pulang dari rumah sakit, Aira belum makan apa pun. Aira terus di dalam kamar Putra, katanya sih kangen sama Putra," ucap Bu Siska.


"Hasil pemeriksaan dokter kemarin gimana?" tanya pak Dedi.


Pak Dedi lebih banyak di rumah menemani Putra dan para ibu bergantian menjaga Aira di rumah sakit.


"Hasil pemeriksaan dari dokter, kistanya udah bersih. Hancur saat pendarahan kemarin tapi kemungkinan untuk hamil masih kecil, hanya itu yang membuat Aira sedih dan ga mau jauh dari Putra," ucap Juan menjelas kan.


"Oh gitu ya nak, mudah-mudahan ada jalan keluar untuk semua masalah yang kalian hadapi saat ini," ucap pak Dedi penuh harapan.


...***...


Semua pesanan catering masih di urus oleh mba Sri dan Juan mencari pegawai baru untuk membantu mba Sri.


Sepulang bekerja, Juan langsung masuk ke kamar yang di dalamnya ada Aira yang sedang duduk melamun di atas tempat tidur.


Juan terus masuk ke dalam kamar dan duduk di dekat Aira.


"Sayang, mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Juan.

__ADS_1


"Aku udah ga bisa hamil lagi, aku ga bisa kasih kamu keturunan lagi. Aku cuma punya Putra," ucap Aira lirih dan mulai menitikan air mata.


"Aku merasa gagal jadi seorang wanita dan gagal menjadi seorang istri bahkan gagal menjadi seorang ibu, aku ga bisa sempurna seperti yang lain," sambung Aira menangis tanpa henti.


"Sudah lah sayang jangan pernah merasa sendiri, aku akan selalu ada untuk mu. Apa pun yang terjadi aku pasti ada untuk mu dan aku ga akan pernah meninggal kan mu," ucap juan memeluk Aira dengan erat dan mencoba meyakin kan hatinya bahwa Juan sangat menyayangi Aira.


"Aku sayang sama kamu Aira, apa pun yang terjadi pada mu ga akan pernah merubah rasa sayang ku pada mu. Dan aku tidak masalah kalau hanya ada Putra, kita tidak usah mencoba program hamil lagi. Aku ga masalah untuk semua itu asal kan kamu ga kaya gini terus, usaha catering yang kamu rintis dari nol sekarang kamu tinggal gitu aja. Putra pun masih butuh kamu Aira," sambung Juan.


"Iya maaf kan aku," ucap Aira menenggelamkan kepalanya di dada bidang Juan.


"Iya, menangis lah sepuas mu tapi setelah ini kamu harus semangat lagi ya. Kami semua membutuh kan mu, aku dan Putra sangat menyayangi mu," ucap Juan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Dukung terus karya othor ya... jangan lupa tinggal kan jejak like, komen, vote, dan beri hadiah biar othor semangat terus nulisnya.. terima kasih semuanya ...


__ADS_2