Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
WYS #5


__ADS_3

Ah, empuk sekali. Udaranya dingin. Wanginya sangat enak. Ini sangat menyenangkan.


Eh, tunggu. Apa-apaan? Seingatku, aku tergeletak di atas tanah karena preman-preman tadi memukulku habis-habisan. Aku membuka mataku perlahan. Benar, aku sudah berada di dalam kamar yang sangat besar, bersuhu dingin dan baunya sangat wangi. Bahkan, baju pun sudah terganti. Lah, baju? BAJU!!!


“Aaaaaaaaaaaa….!!!!!”


Jangan-jangan aku sudah dijual ke luar negri! Jangan-jangan seorang laki-laki tua berlemak sudah tidur dan merasakan tubuhku. Ya Tuhan, kenapa hidupku seperti ini?!


“Diam!! Kau ini kenapa?” tanya seorang laki-laki yang datang menghampiriku dengan muka kusut. Tidak bisa, aku yakin dia pasti germo yang akan menjualku!


Aku menggigit tangannya dan berusaha untuk lari. Aku berteriak sekuat mungkin, berharap seseorang mendengarku dari luar. Tapi, laki-laki ini langsung menarik kakiku dan menutup mulutku rapat-rapat. Aku memukul kepalanya, menendang-nendang pahanya, agar aku bisa lepas dari tangannya yang kotor ini.


Namun, dia malah naik ke atas tubuhku lalu mencengkram kedua tangan dan merentangkannya ke atas. Tangannya yang lain, menutup mulutku sangat rapat. Posisi macam apa ini?


Aku melotot melihat matanya. Mata coklat terang itu sekarang menatapku tanpa jarak. Hidung yang mancung dan bibir kemerahan yang sangat seksi. Tampaknya dia bukan germo, karena wajah setampan ini biasanya hanya seorang pelanggan dari seorang germo. Jangan-jangan?!!!


Brak!!


Suara pintu terbuka lebar. Kami langsung melihat siapa yang masuk. Seorang perempuan cantik yang mengenakan dress merah yang menampakkan lekuk tubuhnya yang semampai. Aku melirik pria ini. Wajahnya terkejut ketika melihat perempuan bergaun merah itu masuk. Tanpa berbicara, ia langsung pergi meninggalkan kamar. Pria di atasku ini langsung melepasku dan mengejar perempuan itu. Dia menarik tangannya dan berusaha menjelaskan apa yang sedang terjadi. Namun, sebelum ia menjelaskan, tamparan keras sudah melayang di wajahnya.


Aku mengernyit. Ku duga, itu pacarnya.


Aku melihat sekeliling. Pria ini sudah tidak lagi menahanku. Aku langsung terjun dari tempat tidur dan berlari keluar dari kamar. Tapi, ketika aku melewatinya, dia menarik lenganku kasar dan mengangkat tubuhku dari belakang. Aku berontak, aku menarik rambutnya dari depan. Di lantai bawah, aku melihat seorang perempuan tua sedang  berjalan. Aku berteriak namun pria itu langsung menutup mulutku dan menarikku masuk.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?!”


“Aku? Aku yang harusnya bertanya! Kenapa kau menarikku seperti itu?” jawabku kesal. Dia menggaruk-garuk kepalanya lalu membuka pintu sedikit, mengintip.


“Ah, sial!” ucapnya. Dia menarik tanganku dan memasukkan aku ke dalam sebuah lemari.


“Hei, apa yang kau lakukan? Kau gila ya? Mau membunuhku?”


“Diam lah kalau ingin nyawamu selamat!” katanya menatapku sangat tajam. Mata coklat itu meluruhkan hatiku. Entah kenapa, aku hanya terdiam dan malah mengikuti kemauannya. Dari sela-sela lemari, aku melihat seorang perempuan tua tadi yang ada di lantai bawah sudah masuk ke dalam kamar ini.


“Ada apa dengan Naya? Kenapa dia menangis?” tanya perempuan tua itu.


“Aku tidak tahu,” jawabnya santai.


“Tidak ada. Hanya salah paham saja antara aku dan Naya,” ucapnya menjelaskan.


“Naya tidak pernah bohong sama Mama!” katanya dengan nada marah. Wanita tua itu menelusuri kamar pria ini. Ia membuka pintu kamar mandi lalu mengarah ke depan lemari. Aku menutup mulutku. Apa yang akan terjadi denganku kalau wanita tua ini menemukanku?


“Kenapa ini terkunci?”


Terkunci? Ternyata pria ini pintar juga.


“Kuncinya tertinggal di mobil. Sebentar lagi akan aku ambil,” jawabnya santai. Mata wanita tua itu menyelidik. Dia seakan tidak suka jika pria ini menyimpan sebuah kebohongan.

__ADS_1


“Indra, jangan sekali pun kamu berbohong pada Mama. Mengerti?” katanya memperingatkan pria itu. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya dan memasukkan tangan ke dalam kantung celana. Kemudian, wanita tua itu keluar. Ia menunggu sampai wanita tua itu tidak lagi berada di sekitar kamarnya. Setelah aman, dia langsung mengeluarkanku dari dalam.


“Ah.. sesak sekali!” keluhku.


“Coba aja kalau lo enggak teriak, semuanya enggak akan kacau kayak gini!” ucapnya kesal. Ia duduk di bibir tempat tidur.


“Ya, maaf. Gue kan enggak tahu. Coba kalau lo bilang dari awal, ya, pasti gue enggak kaget.” Jawabku membela diri.


“Gila, enggak menjerit apanya? Baru buka mata aja udah menjerit. Sial!” umpatnya kesal.


“Jangan gitu dong, jaga ucapan lo! Wajar dong gue panik karena ada di dalam kamar cowok asing kayak lo!”


“Ah, sudahlah. Lebih baik gue biarin lo terkapar di sana tadi,” katanya lalu berdiri keluar dari kamar. Ia memanggil seseorang. Tidak lama, seorang laki-laki berjas hitam datang.


“Tolong antar cewek bar-bar ini pulang ke rumahnya,”


“Apa? Bar-bar? Jaga dong ucapannya!”


“Pergilah!”


“Hei, lain kali kalau kita bertemu di jalan, jangan bawa gue lagi ke rumah lo. Gue juga enggak berharap di tolong sama lo!” kataku marah sambil menunjuk-nunjuknya. Namun, pria berjas hitam itu langsung menarik tanganku. Aku pikir, dia ajudan pria ini. “Apa sih? Jangan pegang-pegang!”


“Mari Nona, saya antar,” katanya. Aku kesal melihat pria di depanku ini. Kali pertama aku bertemu dengannya saja sudah membuatku muak, sekarang aku bertemu dengannya kembali. Yang benar saja! Aku langsung pergi keluar dari kamarnya tanpa mengucapkan terima kasih. Aku berharap tidak lagi berjumpa dengan pria ini. Menyebalkan!

__ADS_1


__ADS_2