Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 33


__ADS_3

Juan pun akhirnya menyerah dan pasrah pada jalan takdir yang ada untuknya.


Juan kembali ke kota S untuk kembali bekerja dan tujuannya kali ini hanya untuk Putra.


Hari demi hari, minggu demi minggu Juan lalui dengan rasa sepi di hati. Juan pun melarang sang ibu pergi ke rumah Aira walaupun dengan alasan menjenguk Putra.


Walaupun Juan sudah pasrah dengan hubungannya dengan Aira tapi Juan enggan mengurus surat cerai, biar Aira yang selesai kan semuanya karna memang Aira yang mengingin kan perpisahan terjadi.


"Bodohnya aku sampai begitu tega mengkhianati cinta tulus Aira dan sekarang aku jadi seperti ini karna perbuatan ku sendiri. Tuhan jika aku masih bisa meminta, aku hanya ingin Aira kembali pada ku. Aku janji Tuhan tak akan menyakitinya lagi dan menyia-nyiakan dia lagi. Tolong aku Tuhan," batin Juan penuh penyesalan.


...***...


6 bulan kemudian.


Saat ini Putra berusia 9 bulan, Putra sedang belajar berdiri sendiri karna Putra anak yang aktif makanya tumbuh kembangnya berbeda dari anak yang lainnya.


Karna cuaca memang sedang tidak menentu, Putra pun mengalami demam.


Dengan sigap, Aira segera mengambil obat dan kompres untuk Putra.


Aira melihat jam di dinding, ternyata masih pukul 01.30 dini hari sehingga Aira tidak tega membangun kan ibunya.


Aira terus menggendong Putra yang tidak mau tidur di atas kasur, mau tidur di pangkuan Aira saja.


Tak terasa sampai subuh pun Putra masih di pangkuan Aira dan tertidur di kursi bersama Aira.


Sampai ibu pun bangun dan melihat Aira yang tidur sambil duduk dan Putra di pangkuan Aira.


"Nak, bangun. Kenapa kalian tidur di sini?" tanya ibu.

__ADS_1


"Ah ibu, semalam Putra panas tinggi bu dan ga mau tidur di kasur makanya aku gendong lalu aku ketiduran di sini," jawab Aira.


"Kenapa ga bangun kan ibu aja, jadi kan ada teman gantian untuk gendong Putra?" tanya ibu.


"Aku ga enak bangun kan ibu, aku liat ibu lagi nyenyak banget tidurnya. Jadi aku sendiri aja yang temani Putra," jawab Aira.


"Coba aja ada Juan, kamu ga akan repot seperti ini ngurus Putra. Mau sampai kapan kamu seperti ini sama Juan?" tanya ibu.


"Aku masih bisa urus Putra sendiri tanpa harus ada Juan di sini, aku juga masih masih bisa mencukupi kebutuhan Putra meski pun seadanya. Aku lagi nabung dulu untuk mengurus surat cerai, kalau uangnya sudah terkumpul baru aku urus-urus semuanya ke kantor urusan agama," jawab Aira merasa yakin dengan keputusannya.


"Ibu cuma kasih saran aja, lebih baik kamu pikir kan baik-baik keputusan yang akan kamu ambil itu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari, ingat Putra masih membutuh kan kasih sayang dari seorang ayah bukan cuma kasih sayang dari ibunya aja," ucap ibu memberi nasihat lalu pergi menuju dapur.


"Mimpi apa aku semalam, subuh-subuh udah dapat pencerahan dari ibu. udah kultum tuh si ibu jam segini," gerutu Aira.


Aira pun membawa Putra ke kamarnya dan membaring kan Putra di atas kasur.


"Maaf kan mama ya nak karna kesalahan yang papa perbuat dan keegoisan mama, kamu yang jadi korban. Tapi apa pun yang terjadi kasih sayang mama untuk mu akan selalu ada, mama akan selalu berusaha menjadi mama dan sekaligus papa untuk mu," batin Aira sambil mengusap-usap kepala Putra lalu mencium keningnya.


"Tuhan, jika jodoh ku dan Juan cukup sampai di sini berikan lah kelancaran dalam proses kami berpisah tapi jika jodoh ku dan Juan masih panjang maka dekat kan lah dan beri kan lah jalan terbaik untuk kami berdua, amin," doa Aira dalam diamnya.


Karna sudah mulai pagi, Aira pun memilih untuk mandi dan meninggal kan Putra yang sedang tidur pulas.


Setelah selesai mandi dan berpakaian rapih, Putra pun bangun lalu segera Aira menggendongnya.


Ternyata panas badan Putra makin tinggi membuat Aira semakin khawatir, akhirnya Aira memutus kan membawanya ke rumah sakit di temani ibu siska.


Sepanjang perjalanan Aira terus memeluk tubuh Putra dan terus berdoa agar Putra baik-baik saja.


Sesampainya di rumah sakit, Aira segera membawa Putra menuju IGD. Putra pun mendapat kan pertolongan dari dokter.

__ADS_1


"Demamnya sudah berapa lama bu?" tanya dokter.


"Baru dari semalam dok," jawab Aira.


"Ini panasnya tinggi sekali bu sampai 40⁰c, saya kasih obat penurun demam dulu ya. Kalau masih demam saya saran kan untuk rawat inap," ucap dokter.


"Iya dok," jawab Aira singkat.


"Saya tinggal dulu ya, nanti ada suster yang memberi obat untuk anak ibu," ucap dokter.


"Terima kasih dokter," ucap ibu.


Dokter pun pergi meninggal kan Aira dan ibunya, lalu tak berselang lama suster pun datang untuk memberi kan obat penurun demam untuk Putra.


.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa dukungannya teman² tinggal kan like, komen dan votenya. beri hadiah juga ya teman agar othor lebih semangat lagi nulisnya....


...terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2