Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 67


__ADS_3

Seminggu di kota A, Aira sudah datang berkunjung ke sana kemari mengunjungi saudara-saudara yang memang telah lama tidak berjumpa dengannya.


Saat sedang kumpul di ruang keluarga di rumah bu Siska, Aira izin pamit pulang pada ibunya.


"Besok kita akan pulang bu karna Juan sudah mulai masuk kerja jadi besok kita mau pulang biar Juan bisa istirahat sebelum pergi bekerja," ucap Aira pamit untuk pulang ke kota S esok hari.


"Iya nak, pasti ibu kesepian lagi di rumah," ucap bu Siska.


"Kalau ibu mau, ibu bisa tinggal dengan kami di kota S. Dari pada ibu sendirian di sini, biar rumahnya di kontrak kan aja bu," ucap Juan memberi saran.


"Gimana sayang, ibu kan bisa bantu ajak main Putra di kamarnya selagi kamu sibuk di tempat catering. Ibu ga usah kerja atau beres-beres rumah karna itu sudah ada yang membantu membersih kan, cukup temani Putra main di kamarnya," sambung Juan meyakin kan Aira.


"Iya kalau ibu mau, aku lebih senang malah. Jadi aku ga merasa khawatir dengan kondisi ibu di sini, kalau ibu di dekat ku kan aku tau kegiatan ibu apa aja. Ibu mau ya,, please...." ucap Aira membujuk ibu Siska.


"Ya udh kalau menurut kalian itu baik, ibu nurut aja apa kata kalian," ucap bu Siska setuju dengan usul yang di beri kan Juan.


"Kalian udah bersiap untuk pergi besok?" tanya bu Siska.


"Udah bu, semua barang-barang sudah kami masuk kan ke dalam koper. Tinggal baju yang akan di pakai besok aja," jawab Aira.


"Pergi jam berapa? Biar ibu minta tetangga untuk mengurus rumah sebelum ada yang mengisi lagi," ucap bu Siska.


"Kayanya sih dari sini kita berangkat pagi biar kita sampai masih sore, jadi ada waktu untuk bersantai sore hari dan hari minggunya sebelum senin aku kembali bekerja. Belum lagi pamit ke rumah ayah dan ibu," ucap Juan.


"Ya sudah, ibu beres-beres barang yang mau di bawa ya. Nanti ibu bisa titip rumah pada tetangga sebelah," ucap bu Siska.


Bu Siska berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya untuk mengemasi barang-barang yang akan di bawa ke kota S.


"Apa sebaiknya aku suruh Ardy untuk tinggal di sini ya? Terakhir yang ku dengar kabar darinya, dia tidak bekerja dan rumah pun masih sewa. Nanti aku bicara kan lagi setelah aku selesai berbenah barang-barang," batin bu Siska.


Bu Siska terus memasuk kan semua baju ke dalam tas besar dan surat-surat penting miliknya, termasuk sertifikat rumah yang akan bu Siska akan tinggal kan karna bu Siska takut akan terjadi sesuatu yang tidak di ingin kan dengan rumah peninggalan suaminya.

__ADS_1


Segala peninggalan dari suaminya sudah di masuk kan ke dalam tas, termasuk foto-foto kebersamaan sesama hidup sampai saat terakhir di akhir hayatnya.


Setelah selesai bu Siska kembali keluar kamarnya dan kembali duduk di tempatnya semula untuk membicara kan apa yang sempat terpikir di benaknya.


"Nak, gimana kalau rumah ini Ardy yang menempati? Kabar yang terakhir ibu dengar, Ardy sewa rumah jauh dari sini dan saat ini dia lagi ga kerja. Gimana kamu setuju ga?" ucap bu Siska bercerita tentang kakak pertama Aira.


"Boleh bu, kalau mas Ardy dan istrinya mau tinggal di rumah ini. Aku ga keberatan sama sekali, dari pada mereka sewa rumah kan sayang uangnya bisa di tabung," ucap Aira.


"Kalau gitu ibu suruh Ardy kemari ya biar kita bisa bicara kan semuanya," ucap bu Siska langsung menghubungi Ardy karna ponsel sudah di tangan sejak keluar dari kamarnya.


📱"Halo nak, apa kamu sedang sibuk?" tanya bu Siska.


📱"Iya bu, aku sibuk apanya bu. Aku cuma bisa duduk diam menunggu panggilan kerja dari pagi sampai malam cuma gini-gini aja," jawab Ardy pasrah


📱"Kamu bisa ke rumah ibu sebentar, sekalian ajak istri mu kemari," ucap bu Siska.


Ardy yang bertahun-tahun menikah belum juga di karuniai seorang anak karna Tuhan belum berkehendak untuk Wulan mengandung anak Ardy.


📱"Ada apa bu?" tanya Ardy.


📱"Iya bu, aku akan segera ke rumah ibu sekarang juga," ucap Ardy.


📱"Iya nak ibu tunggu ya," ucap bu Siska menutup telponnya dan meletakkannya di atas meja.


"Ardy mau ke sini sekarang," ucap bu Siska.


"Iya, ya sudah aku cek Putra dulu. Dari tadi dia ga ada suaranya," ucap Aira berdiri dari duduknya lalu mencari keberadaan Putra di kamarnya.


Tok tok tok


Aira mengetuk pintu tapi tidak ada suara apa pun di dalam kamar, Aira segera masuk ke dalam karna khawatir dengan anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Putra," panggil Aira ternyata Putra ada di dalam sedang memain kan ponselnya dan memakai earphone di telinganya.


"Nak, mama panggil dari tadi kok diam aja sih," ucap Aira melepas kan earphone di telinga Putra.


"Maaf ma, aku lagi serius main game. Jadi ga fokus dan ga tau ada yang panggil aku," ucap Putra.


"Mama kira kamu kemana, dari tadi ga kedengaran suaranya," ucap Aira.


"Ada apa ma?" tanya Putra.


"Mama cuma mastiin kamu baik-baik aja, oh iya kamu udah makan belum?" tanya Aira.


"Belum ma, boleh ga ma aku mau makan ayam teriyaki? Aku lagi pengen makan sama ayam teriyaki," ucap Putra.


"Boleh, tapi di kulkas nenek ga ada ayam. Kita ajak papa beli ke toko depan yu," ajak Aira.


"Ayo ma," ucap Putra langsung berdiri di atas kasur dengan semangat karna akan makan di laut dengan mama papanya.


Aira dan Putra keluar dari kamar dan langsung mengajak Juan untuk pergi mencari makanan yang ia mau.


"Papa,, nenek," panggil Putra lalu duduk di pangkuan Juan.


"Papa boleh ga aku minta makan sama chicken teriyaki tapi kata mama di kulkas nenek ga ada ayam, kita cari di luar yu pa. Aku janji ga minta yang lain lagi," sambung Putra merayu Juan agar mau mengajaknya pergi makan di luar.


"Emmm, boleh ga ya," ucap Juan sedikit menggoda Putra.


"Iiii ayo lah papa, aku janji ga akan jajan yang lain lagi," ucap Putra.


"Iya, ayo sayang. Kita beli apa yang kamu mau tapi dengan syarat ga jajan yang lain-lain lagi selain chicken teriyaki," ucap Juan.


"Iya pa, aku janji. yeeee kita pergi sekarang ya," ucap Putra kegirangan.

__ADS_1


"Iya," ucap Juan singkat.


Mereka pun pamit pada bu Siska lalu pergi mencari apa yang di ingin kan oleh Putra.


__ADS_2