Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
WYS #12


__ADS_3

Aku keluar dari kamarnya dan langsung pergi mengambil alih pekerjaan dapur. Aku membantu beberapa pelayan lain yang sedang menyusun beberapa lauk di atas meja. Di atas meja, sudah ada terletak roti croissant diisi dengan krim lalu kacang almond, sepiring omelette, daging bacon , roti panggang dengan selai, hash brown, panekuk, dan sereal serta jus buah sayur. Ah, makanan orang kaya selalu bergizi ya.


Setelah semua siap dihidangkan, aku berdiri dengan beberapa pelayan disamping meja. Menunggu bila ada yang diinginkan oleh Tuan rumah. Tidak lama, dia datang. Aku sebisa mungkin bersikap tidak terjadi apa-apa. Tapi, ketika dia berjalan menuju meja makan, aku perhatikan kalau dia sedikit sulit saat berjalan bahkan sedikit meringis. Apa mungkin tendanganku terlalu kuat? Jangan-jangan ‘itu’nya berdarah?


Aku tidak berani melihatnya. Tatapannya yang marah itu sudah dipastikan tertuju padaku. Lalu, Elena, Ibu cowok itu, datang. Dia mengernyit saat melihat anaknya menggigit bibir ketika duduk di kursi. Ayolah, dia tidak mungkin kan memberitahu kepada Nyonya besar kalau aku memukulnya?


“Ada apa?”


“Tidak ada,” jawabnya tanpa melihat Ibunya sendiri.


Wah, selain mesum, dia juga tidak punya akhlak yang baik ya.


Selama mereka sarapan, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi, aku tahu kalau cowok ini bekerja di bidang konstruksi. Ibu dan anak ini saling berbicara tentang kerja sama dan teman-teman bisnis mereka yang menguntungkan.


Setelah mereka selesai makan, aku dan beberapa pelayan lain masih berdiri sampai mereka benar-benar pergi dari tempat itu. Kakiku sudah mulai sakit, belum lagi cowok ini lamban sekali memakan sarapannya. Dia pikir aku juga tidak lapar? Memangnya hanya dia saja yang mau makan? Astaga, apa orang-orang ini tidak memikirkan kami sebagai pelayan rumah mereka, apakah kami sudah sarapan atau belum? Menyedihkan.

__ADS_1


Puluhan menit kemudian, Nyonya Elena beranjak dari kursinya lalu mencium anak laki-lakinya itu. Beberapa pelayan mengikutinya untuk membawa tasnya yang kelihatan sangat mahal itu. Tapi, tetap saja laki-laki ini masih duduk berlama-lama di meja makan.


“Aku ingin bicara dengannya,” katanya tiba-tiba. Bicara dengan siapa?


Loh, kenapa dia menatapku? Dan, teman-teman pelayanku juga ikut menatapku. Kenapa mereka ini?


“Apa kalian tidak dengar?” katanya lagi lalu melipat kedua tangan di dada. Mendengar perintah dari Tuan mereka, teman-temanku pergi meninggalkanku. Wah, mereka main tunggal juga. Aku juga harus pergi dari sini. Mungkin cowok ini mau sendirian.


“Hei, kau!” aku terhentak. Aku yang dia panggil?


“Siapa yang menyuruhmu pergi?”


“Berdiri di situ,”


Ya, aku tahu kau mau membalas dendam denganku. Tidak apa, aku akan menerima balas dendammu yang kekanakan ini. Harusnya, kau suruh saja aku pulang kembali ke rumah bukan menyuruhku berdiri di sini dan hanya mematung menatapmu sarapan dengan makanan-makanan yang enak itu. Ah, aku jadi lapar.

__ADS_1


“Kau belum sarapan ya?” tanyanya tiba-tiba. Aku langsung mendongakkan kepala untuk melihatnya lalu menggeleng datar. Tiba-tiba dia tersenyum licik. Kenapa cowok ini?


“Kasian sekali,” katanya lalu sengaja memakan sarapannya dengan ekspresi sangat menikmati. Mengejekku karena aku belum sarapan.


Ya ampun, cowok ini masih umur berapa sih? Kenapa dia sangat kekanakan sekali. Padahal wajahnya itu sudah menunjukkan kalau dia berusia tua.


“Maaf, kalau anda mengejek saya karena belum sarapan, asal anda tahu, saya sudah terbiasa tidak makan berhari-hari.”


Aku tidak memberikan ekspresi apapun. Aku hanya melihatnya dengan tatapan datar. Tiba-tiba aku mengingat betapa sakitnya dulu sewaktu aku mencari makan, mengemis pekerjaan kepada beberapa took agar aku bisa makan bahkan minum. Orang-orang kaya seperti dia, tidak akan pernah merasakan sakitnya ketika tidak makan.


“Benarkah?”


Yang benar saja, dia tetap tidak berhenti mengejekku. Cowok ini benar-benar memiliki kelainan.


Tidak lama, dia beranjak dari kursinya lalu memasukkan tangan ke dalam kantong. Aku masih terdiam melihatnya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

__ADS_1


“Bersihkan,” katanya lalu pergi.


Ya, tidak perlu kau katakan pun, itu memang sudah tugasku di istana mu ini.


__ADS_2