Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 72


__ADS_3

"Kalau memang Tuhan mengizin kan ku memiliki seorang anak kembali, aku merasa bersyukur dan akan merawatnya seperti anak ku sendiri. Meski lewat rahim wanita lain, aku tetap akan menyayangi anak itu," batin Aira.


Keesokan harinya, orang yang di tunggu ternyata hanya menipu Aira dan Juan. Nomor ponsel yang bisa di hubungi ternyata di blokir.


"Gimana ini sayang?" tanya Juan.


"Ya mau gimana lagi, mungkin memang bukan rezeki kita. Belum saatnya kita memiliki seorang anak lagi dan mungkin Tuhan berkehendak lain," jawab Aira tidak memperlihat kan rasa kecewanya.


"Maaf ya," ucap Juan.


"Kenapa harus minta maaf, kamu kan ga salah apa-apa," ucap Aira.


"Kita coba cari lagi ya," ucap Juan.


"Iya tapi harus lebih hati-hati lagi, mungkin di grupnya berisi penipu semua," ucap Aira mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.


2 hari berlalu, Aira menjalan kan usahanya seperti biasa. Memenuhi pesanan catering nya dan di sibuk kan dengan segala urusan rumah tangga.


Sore hari saat Juan pulang bekerja, Juan membawa kabar berita untuk Aira.


"Sayang, aku mau kasih tau kamu. Kalau ada bayi yang baru lahir di rumah sakit yang mau di beri kan pada kita tapi dengan syarat kita harus mau membayar kan biaya melahir kan karna si ibu tidak sanggup membayar biaya rumah sakit dan tidak mampu merawat bayinya," ucap Juan langsung memberi tau Aira saat melihat Aira sedang duduk berias setelah mandi.


"Awas hati-hati, nipu lagi ga," ucap Aira dengan santai menanggapi ucapan Juan.


"Kita datang aja langsung ke rumah sakitnya, ini dekat ko dari sini. Si ibunya tinggal di kota T, gimana kamu setuju ga?" ucap Juan mencoba meyakin kan Aira.


"Boleh, kapan kita mau ke sana," ucap Aira.


"Sekarang juga ayo, tapi jangan dulu bicara apa pun pada ibu dan Putra. Kita pergi berdua aja," ucap Juan.


"Ayo, aku udah siap untuk pergi sekarang," ucap Aira saat selesai dandan.


Juan dan Aira pun pergi ke tempat tujuan yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


"Putra papa sama mama pergi dulu sebentar ya, ada urusan penting. Putra di sini sama nenek dulu ya," ucap Juan pamit pada Putra.


"Memangnya papa sama mama mau ke mana?" tanya Putra.

__ADS_1


"Mama ada urusan dulu sebentar ya, ga akan lama kok," ucap Aira.


"Bu titip Putra sebentar ya, aku sama Juan pergi dulu sebentar," ucap Aira.


"Iya nak, hati-hati di jalannya ya," ucap bu Siska.


Aira menjawab hanya mengangguk kan kepalanya dan bu Siska pun mengerti itu.


Aira dan Juan pun pergi dengan mengguna kan mobil yang sering di pakai oleh Juan untuk pergi bekerja.


Satu jam perjalanan, Aira sudah berharap besar kalau bayi yang akan di ambilnya ada lah bagian dari rencana Tuhan untuknya.


"Aku udah ga sabar ketemu sama bayinya," ucap Air penuh harap.


"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakitnya," ucap Juan.


Di tengah perjalanan tiba-tiba ibu si bayi memberi tau kan kalau anaknya sudah keluar dari rumah sakit dan membatalkan untuk memberi kan anaknya pada Aira dan Juan.


Juan menghentikan mobilnya sesaat setelah menerima pesan dari ibu si bayi dan memberi kan ponselnya pada Aira agar Aira ikut membacanya.


"Betapa bodohnya aku, mau-maunya di bodohi seperti ini. 2 kali di tipu seperti ini," ucap Juan menyalah kan dirinya sendiri.


"Kita putar arah aja ya, kita pulang," sambung Aira menggenggam tangan Juan.


"Maaf kan aku ya sayang, kali ini aku gagal lagi. Aku belum bisa memenuhi keinginan mu," ucap Juan.


"Iya ga apa-apa, ini kan bukan mau mu," ucap Aira.


Juan pun memutar arah mobilnya untuk kembali pulang, meski pun kembali di kecewa kan oleh kenyataan tapi Aira tetap sabar dan yakin pada Tuhan.


Sebelum sampai di rumah, Juan memilih berhenti sejenak untuk menenangkan hati dan pikiran.


"Jangan sampai terlihat sedih oleh Putra, nanti bisa jadi pikiran untuk Putra dan pertanyaan untuk ibu," ucap Aira.


"Iya sayang," ucap Juan singkat dan mulai melaju kan mobilnya kembali.


Sesampainya di rumah, Putra menyambut Aira dan Juan dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


"Papa... mama..." teriak Putra dan segera memeluk Aira.


"Mama udah selesai urusannya?" tanya Putra.


"Sudah sayang, makanya mama sama papa pulang," ucap Aira.


"Rasanya jauh lebih tenang saat di peluk Putra," batin Aira.


...***...


Seminggu berlalu Aira masih dengan kesibukannya mengurus catering dan melupakan masalah adopsi anak.


Ponsel Aira berdering mendapat kan notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal, Aira membukanya dan membaca perlahan.


💌Selamat siang mba/bu, apa mba/ibu masih berminat adopsi anak?


"Loh kok tiba-tiba ada pesan masuk kaya gini ya," gerutu Aira.


💌Maaf ini dengan siapa ya? Jika memang saya berminat apa ada orang yang dengan suka rela dan ikhlas memberi kan bayinya untuk ku rawat.


💌Saya Winda bumil dari kota D usia kandungan 18 minggu, saya tidak minta apa pun. saya hanya ingin di tampung selama kehamilan saya dan saya dengan ikhlas akan memberi kan bayi saya pada mba.


💌Serius mba Winda akan memberi kan bayinya pada saya?


💌Iya serius mba, keluarga saya ga ada yang tau kalau saya lagi hamil. Jadi saya butuh tempat tinggal selama saya hamil, setelah melahir kan saya akan pergi dan tidak akan menuntut apa pun.


💌Ya sudah kalau mba Winda serius, saya pasti akan memberi kan tempat tinggal untuk mba tinggal selama mba di rumah saya. Rencananya kapan mba mau ke kota S?


💌Besok atau lusa saya berangkat ke kota S.


💌Apa mau di jemput?


💌Tidak usah, saya masih ada uang untuk ongkos ke kota S.


Obrolan pun terus berlanjut, saling memberi kabar dan bertukar cerita terus Aira lakukan meski lewat chatting di whatsapp.


Tak lupa Aira bercerita pada Juan soal Winda yang akan memberi kan bayinya tanpa meminta uang sedikit pun dan meminta uang di awal untuk sekedar ongkos.

__ADS_1


"Mudah-mudahan ini memang jodoh kita ya sayang dan bukan sekedar tipuan belakang," ucap Juan.


"Iya sayang, oh iya kita juga harus menyiap kan kamar untuk Winda selama dia tinggal di rumah kita," ucap Aira.


__ADS_2