
Aku sedikit menyesal karena semalam aku memilih keluar dari kamar. Jika saja aku tahu laki-laki ini akan pulang dalam keadaan mabuk, aku pasti sudah berpura-pura tidur. Hasilnya, aku sama sekali tidak tidur. Aku menjaganya karena dia terus muntah dan mengigau hal-hal aneh yang tidak bisa aku cerna.
Temanku yang membantu pun menyerah pada jam empat pagi, dia memilih untuk tidur. Aku tidak bisa melakukan itu, karena setiap kali aku ingin keluar, dia selalu berteriak dan menarik tanganku. Anehnya, dia akan tenang kalau aku duduk disampingnya.
Entah bagaimana mataku sekarang. Aku sangat ngantuk.
Di dapur, nenek menyiapkan sup kaldu dan roti gandum untuk Tuan Muda. Nenek menyuruhku untuk mengantarkan sarapan ke kamarnya. Dengan langkah kaki yang malas, aku pergi menuju kamarnya. Di kepalaku ini, aku masih sangat ingat dengan jelas ketika dia memuntahiku berulang kali, mengigau seperti anak bayi dan berguling-guling menyerakkan seluruh tempat tidur. Memangnya, orang mabuk seperti itu ya?
Aku mengetuk kamarnya dan masuk ke dalam. Di dalam, dia masih terlelap tanpa baju. Aku sengaja membuka bajunya semalam karena setiap kali aku memakaikan baju yang baru, dia selalu melepaskannya bahkan menumpahkan isi perutnya ke baju itu.
Aku meletakkan sarapan itu di nakas samping tempat tidur. Tiba-tiba, tubuhnya yang sedang meringkuk itu bergerak. Mengucek-ngucek matanya lalu duduk. Ia menarik napas dalam dan menguap selebar mungkin. Mm.. dia menguap seperti kudanil.
“Oi…” dia terkejut hingga terhentak dari duduknya ketika melihatku sudah berdiri dengan senyuman disamping tempat tidur.
“Sejak kapan lo di situ?”
__ADS_1
“Sejak lo lahir. Ya, sejak lo pulang semalam lah!” jawabku kesal.
“Maksudnya?”
“Yah, memang kalau orang mabuk itu susah sadarnya,” jawabku asal lalu pergi untuk meninggalkannya.
Tapi, dia langsung menarik tanganku. “Tadi malam aku mabuk?” tanyanya lagi dengan tatapan menyelidik ketika menatapku.
“Iya Tuan Muda yang terhormat, anda tadi malam mabuk dan membuat saya sangat kewalahan karena tingkah anda yang kekanakan itu,” jawabku geram sambil memaksa tersenyum untuknya.
Seharusnya, tadi malam aku merekam tingkahnya yang menyebalkan itu.
“Dengar apa?”
“Jawab!”
__ADS_1
“Memangnya apa yang ku dengar?” aku mengkerutkan kening. Kenapa cowok ini ketakutan sekali? Padahal, kalau pun dia berbicara, aku juga tida mengerti apa yang dibicarakannya.
“Kau berbohong!” dia tiba-tiba bangun dan berdiri di depanku.
Aku terkejut setengah mati ketika melihat dia tidak menggunakan celana sehelai pun. Mataku melotot dan aku langsung berbalik badan.
“Kenapa? Hei, lo belum jawab pertanyaan gue. Lihat gue!” katanya memaksaku untuk menghadap di depannya. Gila nih cowok, nafsu nya setiap hari selalu meningkat ya?
“Lo enggak pake celana, ****!” kataku kesal.
Dia tersadar, dia langsung melompat ke atas tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya, menyisakan kepala. Aku masih syok. Kesialan apa lagi yang ku alami pagi ini? Kenapa aku harus melihat sesuatu yang menjijikkan?
“Apa lo masih mau berdiri di situ?”
Mendengar itu, aku meliriknya ke belakang lalu melotot padanya. “Dasar bodoh!” umpatku padanya lalu pergi dan membanting pintu kamarnya.
__ADS_1
“Sial! Oi, gue majikan lo! Enggak sopan!” teriaknya dari dalam.
Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Kenapa bisa dia tidak memakai celana? Seingatku, aku hanya membuka bajunya bukan celana. Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan cowok bodoh ini?