
Waktu menunjukkan pukul dua pagi. Aku tidak bisa tertidur hari ini. Ku tatap langit-langit kamar yang kecil ini namun bisa memberi kenyamanan untukku dan nenek. Sekilas, aku melirik wajah nenek yang tertidur sangat lelap. Aku tahu, dia sangat lelah. Aku tahu dia sengaja mencari pekerjaan lain agar bisa menghidupiku dan bukan karena dia rindu dengan pekerjaannya.
Kasian nenek, dia hidup sendiri belasan tahun tanpa anak dan cucunya dulu. Aku sendiri tidak bisa membayangkan, betapa kesepiannya nenek waktu itu. Dia memang sibuk karena pekerjaan, tapi tempat istirahat terbaik adalah rumah dan berjumpa dengan keluarga, kan?
Refleks, aku mengelus pipi nenek yang sudah memiliki garis-garis halus di wajahnya. Aku akui, dia memang masih terlihat cantik meski sudah berusia tua. Dia pasti sangat lelah.
Ah, yang benar saja. Semakin aku memejamkan mata, semakin aku susah untuk tertidur.
Aku langsung bangun, keluar dari kamar. Mengambil segelas air hangat lalu menyandar di meja bar. Setiap kali aku ke sini, aku selalu teringat ketika mereka berdua saling berciuman. Wajah mereka terngiang-ngiang di kepalaku sampai membuatku pusing.
Merasa bosan, aku keluar dari pintu belakang yang langsung menuju taman disamping istana ini. Taman yang sangat luas ini memiliki kolam ikan yang cukup besar. Aku berdiri di atas jembatan tepat berada di tengah-tengah kolam ikan. Menikmati desiran air yang mengalir. Aku menghirup udara segar pagi ini dan merasakan sensasi dingin masuk ke dalam tubuh.
Aku menggosok-gosok lenganku. Rumah sebesar ini hanya ditempati oleh tiga orang saja. Nyonya Elena hanya memiliki si cowok itu, setahuku. Tapi, aku memang melihat bahwa mereka memang hanya bertiga.
Rumah sebesar ini hanya di isi dengan belasan pelayan yang setiap harinya selalu membersihkan istana mereka. Beberapa bodyguard juga turut menjaga istana ini. Aku mendongak ke atas, menatap betapa indahnya pahatan-pahatan yang dihasilkan dari istana ini.
Merasa dingin sudah menusuk tulangku, aku masuk kembali ke dalam. Saat aku ingin mengambil air putih hangat, tiba-tiba temanku datang.
__ADS_1
“Kia, cepat. Tolong bantu aku,” katanya buru-buru lalu pergi ke depan. Aku segera mengikutinya tanpa memakai baju pelayanku. Aku hanya memakai kaos abu-abu dan celana jins seponggol. Aku berlari mengejarnya, memangnya ada apa? Apa dia tidak bisa memanggil pelayan lain yang sedang berjaga?
Aku langsung menghentikan langkahku ketika aku melihat seorang laki-laki sedang dibopong oleh dua orang bodyguardnya. Oh, Tuan muda. Apalagi yang kau lakukan malam ini?
Kepalanya tertunduk lesu sambil menyanyi tidak jelas. Temanku yang memanggil tadi kembali menyuruhku mendekat. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Hanya menyambut si pemabuk ini?
Tiba-tiba, cowok itu tertawa. Dia menampar-nampar bodyguardnya sambil berbicara sesuatu yang sangat tidak jelas. Aku hanya berdiri disampingnya dan melihat betapa bodohnya dia sekarang.
“Hei, nona muda,” katanya tiba-tiba. Aku terbelalak, mau apa dia?
Dia melepaskan pegangan dari bodyguardnya dan langsung jatuh memelukku. Ya Tuhan, apa dia tidak tahu diri? Tubuhnya bahkan lebih besar dari tubuhku, tapi mengapa dia sengaja menjatuhkan tubuhnya padaku?!
“Ayo, antar aku ke kamar,” katanya dengan mata tertutup dan mulut yang bau karena alkohol. Mendengar itu, bodyguard yang tadi kembali mengambil tangan Tuan mereka, tapi cowok ini langsung marah.
“Ei.. siapa yang menyuruh kalian menyentuhku? Biar… biar dia.. yang.. membawaku.. oke?” katanya lalu menepuk-nepuk pipiku.
Kalau saja hanya ada aku dan dia, aku pasti sudah melemparnya dari tubuhku.
__ADS_1
Aku melirik teman pelayan dan dua bodyguard itu, seakan meminta izin. Lalu, mereka mengangguk. Tapi tetap saja aku tidak mau membopongnya sendiri. Aku meminta bantuan temanku dan dua bodyguard itu mengikuti kami dari belakang. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba pemabuk ini tumbang sebelum sampai di kamar?
Setelah aku mengangkutnya penuh kekuatan, aku melemparnya asal di atas tempat tidur. Temanku terkejut karena aku melempar Tuannya, tapi aku langsung menyuruhnya untuk diam saja. Seakan tidak melihat sesuatu.
Aku merapikan posisi tidurnya, ku buka sepatu cowok ini dan membuka kemeja hitamnya yang sangat bau rokok, menyisakan singlet. Otot-otot besarnya sangat kelihatan, wajahnya yang bersih pun tetap memikat meski ia sedang teler.
“Kak, tolong buatkan jahe. Biar aku yang menjaganya di sini,” kataku. Temanku itu langsung turun ke bawah.
“Apa kau bisa mengaturnya?” tanya salah seorang bodyguard.
“Tenang saja, aku bisa mengatasinya.” Jawabku santai sembari membuka tali pinggangnya.
Setelah memastikan bahwa Tuan mereka aman, dua bodyguard itu langsung pergi dan menutup pintu. Dan ya, hanya ada aku dan si pemabuk ini di dalam kamar. Sungguh, dia sangat bau!
“Argh.. lo emang nyusahin ya. Semalam bawa cewek, sekarang mabuk, besok apa lagi?” omelku kesal sambil membentangkan selimut ke tubuhnya.
“Hei, cowok mesum. Jangan tidur dulu, aku membuatkan jahe untukmu. Oi, bangun!” aku menepuk-nepuk lengannya yang berotot itu. Tiba-tiba, dia membalikkan badan dan merangkul pinggulku. Apa-apaan dia?
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan? Sialan!” aku mendorong kasar tubuhnya dan tanpa sengaja menumbuk perutnya. Ia sampai meringkuk kesakitan. Matanya masih saja tetap terpejam. Lalu, tanpa ku duga, dia muntah mengeluarkan seluruh isi perutnya ke lantai. Aku mundur beberapa langkah. Astaga, dia memang sangat menyusahkan!