Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 51


__ADS_3

"Aku mencari mu kemana-mana ternyata kamu ada di sini, kenapa kamu pergi dari ku Aira? Apa kita tidak bisa selesai kan masalah tanpa kamu harus pergi seperti ini?" ucap Juan.


Dari sekian banyak pertanyaan yang Juan lontar kan hanya satu jawaban yang ada di benak Aira, "Terlalu sakit jika terus bersama," batin Aira.


Saat ingin menjawab tiba-tiba Putra menangis tanpa sebab, lalu Aira segera berlari di ikuti oleh Juan mendatangi Putra yang sedang bermain.


"Kamu kenapa nak?" ucap Aira panik.


"Sini nak biar papa gendong, biar sakitnya hilang," ucap Juan dengan tenang menggendong Putra.


Seketika Putra langsung terdiam dalam gendongan Juan, Aira hanya terdiam membisu melihat Juan mendekap erat tubuh mungil Putra.


"Sekuat apa pun aku mencoba menjauh dari mu tapi takdir selalu menyatu kan kita kembali, mungkin kamu memang jodoh ku yang di kirim Tuhan dengan cara seperti ini," batin Aira.


Setelah Putra merasa tenang, Juan menurun kan Putra di tempat semula Putra bermain dan mencoba mengajak bicara Aira dari hati ke hati.


Aira duduk di lantai yang memang belum beralas kan apa pun, di ikuti oleh Juan duduk di depan Aira.


"Aira, sekarang kata kan apa mau mu?" tanya Juan.

__ADS_1


"Aku ga mau apa-apa, aku hanya ingin ketenangan tanpa ada pertengkaran. Aku cape," ucap Aira lirih.


"Aku janji, aku ga akan mengulangi kesalahan ku lagi. Kalau ada apa-apa kita bicara kan sama-sama ya, jangan pergi kaya gini lagi," ucap Juan memegang erat tangan Aira.


"Maaf," ucap Aira di ikuti dengan keluarnya air mata di ujung matanya.


"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, gara-gara ketakutan ku kamu sampai semarah ini pada ku. Aku hanya takut kehilangan kamu sayang, janji ya jangan pernah pergi dari ku," ucap Juan memeluk tubuh Aira dan Aira membalas pelukan Juan.


"Kamu ga kerja?" ucap Aira melepas pelukannya dan mengusap air mata di pipinya.


"Aku izin ga masuk kantor hari ini karna dari pulang kantor kemarin aku mencari mu sampai larut malam, paginya aku coba cari kamu lagi sampai ketemu tukang ojek yang antar kamu kemarin," ucap Juan menjelas kan.


"Aku ikut pindah ke sini boleh?" sambung Juan.


"Iya, aku janji. Nanti aku bawa barang-barang yang ada di kamar kost ke sini, minta bantuan mas ojek yang tadi kira-kira dia mau ga ya," ucap Juan.


"Pasti mau, asal di kasih upah," ucap Aira.


"Kamu masih ada uang ga?" tanya Juan.

__ADS_1


"Ada, buat apa? Kamu ga punya uang untuk bayar jasa tukang ojek?" ucap Aira dengan pertanyaan yang menyindir Juan dengan sedikit senyuman.


"Kata mas tukang ojek tadi, kamu beli kasur terus belanja ke minimarket makanya aku nanya uang kamu masih ada apa ga, gitu loh maksud aku," ucap Juan mencubit hidung mancung Aira.


"Udah berkurang sih, aku pake buat belanja waktu di kostan kamu terus bayar kontrakan rumah ini 2 bulan ke depan terus aku beli kasur sama keperluan di sini. Kamu ganti ya uangnya," ucap Aira.


"Nanti aku transfer ke rek kamu, kemari aku dapat bonus dari kantor," ucap Juan.


"Jangan pernah pergi dari ku ya Aira Yasmin," sambung Juan memeluk kembali tubuh Aira dan mencium pipi, kening dan bibir Aira.


"Ish kamu ga malu apa, kalau ada yang lewat gimana," ucap Aira melepas pelukan Juan.


"Kamu udah sarapan belum sayang?" tanya Juan.


"Udah tadi beli bubur yang lewat depan rumah, kamu sendiri udah sarapan?" jawab Aira kembali bertanya.


"Udah tadi beli nasi uduk, terus aku tanya kamu sama ibu penjual nasi uduknya. Ternyata kamu juga pernah bertanya kontrakan kosong dimana, ya kan," ucap Juan.


"Kamu sih pindah ga jauh dari kostan, jadi kan aku bisa dengan mudah nemuin kamu," sambung Juan.

__ADS_1


"Aku bingung mau kemana, apa lagi di sini tempat yang asing buat aku," ucap Aira nyengir.


Juan dan Aira berdamai dengan mudah dan kembali hidup bersama dalam satu atap.


__ADS_2