Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 65


__ADS_3

Waktu yang di nanti pun tiba, pagi sekali Aira dan keluarga kecilnya pergi ke kota A dengan membawa banyak oleh-oleh untuk para orang tua.


"Semuanya yang mau di bawa sudah di masuk kan ke dalam mobil kan sayang?" tanya Juan.


"Sudah semuanya, tinggal berangkat aja," jawab Aira mengecek kembali barang bawaannya.


"Ga ada yang tertinggal kan?" tanya Juan.


"Emm, kayanya sih ga ada. Oh iya Putra mana?" ucap Aira.


Tanpa menunggu jawaban dari Juan, Aira bergegas mencari Putra ke kamarnya. Aira membuka pintu kamar Putra dan masuk ke dalam kamar Putra.


"Nak, kenapa masih di sini? Kita kan udah mau pergi, kita mau ketemu sama nenek," ucap Aira dengan lembut pada Putra.


"Kan mama masih sibuk berkemas jadi aku tunggu sambil main di kamar," ucap Putra.


"Ya sudah, mama sama papa sudah siap untuk pergi. Putra pakai jaketnya kita pergi sekarang ya," ucap Aira.


Putra menurut dengan apa yang di ucap kan oleh Aira, memakai jaketnya lalu berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari kamarnya bersama sang mama.


Juan sudah menunggu di dalam mobil sambil memanas kan mesin mobilnya, Aira dan Putra pun keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobil.


Juan mengemudi kan mobilnya di jalanan, melewati kota demi kota untuk sampai ke kota tujuan. 6 jam perjalanan dan berkali-kali berhenti untuk beristirahat.


"Kita istirahat dulu di sini ya," ucap Aira setelah satu jam perjalanan.


Juan pun memarkir kan mobil di parkiran minimarket pinggir jalan untuk beristirahat sejenak, setelah 30 menit beristirahat Juan kembali mengajak Aira dan Putra untuk melanjut kan perjalanan.


Selama perjalanan Putra memainkan ponsel miliknya yang di beli kan oleh Juan sebagai kado ulang tahunnya, begitu pun dengan Aira terus membuka setiap aplikasi yang ada di ponselnya.


Saat membuka salah satu aplikasi berbagi berita di ponselnya, Aira menemukan berita seorang bayi yang di buang oleh ibu kandungnya sendiri.


Hal itu membuat hati Aira merasa sakit karna Aira merasa sulit untuk memiliki seorang anak lagi tapi yang sudah memiliki anak malah di buang begitu saja.


"Sayang lihat deh, di sini ada berita. Anak bayi umur satu minggu di buang ibunya ke sungai. Ih aku jadi kesal sama si ibu, kenapa harus di buang? kenapa ga di simpan ke panti asuhan aja atau ga di kasih ke orang yang memang menginginkan anak gitu," ucap Aira dengan pandangan tetap pada ponselnya dan Juan hanya mendengar kan dan fokus pada jalanan yang di laluinya.

__ADS_1


"Kalau seandainya ada yang kasih bayi sama aku dengan suka rela, aku mau merawatnya sampai anak itu besar. Dari pada di buang apa lagi sampai di bunuh, itu lebih kejam rasanya," sambung Aira.


"Kamu yakin mau merawat bayi yang ga jelas asal usulnya?" tanya Juan.


"Sayang, bayi lahir dengan asal usul yang jelas. Yang ga jelas itu orang tuanya, yang salah itu orang tuanya. Kenapa ga mau merawat bayinya, harusnya berani berbuat berani bertanggung jawab bukan memilih jalan pintas," ucap Aira.


Juan hanya terdiam mendengar perkataan sang istri, sementara Putra tertidur setelah puas memain kan ponselnya.


"Kamu masih mau punya anak lagi sayang?" tanya Juan.


"Rasanya udah ga mungkin lagi karna aku udah ga yakin akan diri ku sendiri. Kalau kita memilih untuk program bayi tabung, biayanya sangat mahal lebih baik kita simpan untuk biaya sekolah Putra," jawab Aira merasa pasrah dengan takdir Tuhan.


"Aku sih terserah kamu aja yang penting kamu ga sedih dan merasa sendiri karna aku dan Putra yang selalu ada untuk mu," ucap Juan.


"Atau kita mau adopsi dari panti asuhan? Kita cari yang masih bayi, gimana kamu mau ga?" sambung Juan memberi pilihan pada Aira.


"Aku sih lebih memilih dari seorang ibu langsung dari pada dari panti asuhan kayanya prosesnya bakalan lama dan pasti lebih ribet juga," jawab Aira dengan yakin tanpa rasa tersinggung sedikit pun.


Aira sudah bisa terima kenyataan kalau dia sendiri memang sulit untuk hamil kembali.


"Tapi jangan bilang kamu mau nikah lagi ya," ucap Aira.


"Ya ga lah, cukup sekali aku terpisah dari kamu dan Putra. Aku ga akan mengulangi kesalahan ku yang dulu, aku janji," ucap Juan menggenggam tangan Aira dan Aira membalasnya dengan senyuman.


6 jam perjalanan berlalu, akhirnya Aira sampai di kota A.


"Kita ke rumah orang tua ku atau ke rumah ibu mu dulu?" tanya Juan saat sampai di perbatasan kota.


"Kita nginep di rumah ibu ku aja, ibu kan tinggal sendiri. Besok kita berkunjung ke rumah ibu, sekalian kasih oleh-oleh buat ayah dan ibu," ucap Aira.


"Oke, jadi kita langsung ke rumah ibu aja?" tanya Juan.


"Iya," jawab Aira singkat.


Juan pun terus melaju kan mobilnya menuju kediaman ibu Siska.

__ADS_1


Sesampainya di parkiran depan gang menuju rumah bu Siska, Juan memarkir kan mobilnya dengan rapih dan Aira pun keluar dari mobil dengan membawa sebagian barang bawaannya.


"Ayo sayang, kita ketemu nenek," ucap Aira.


"Iya ma," ucap Putra singkat mengikuti langkah Aira tanpa membawa apa pun.


"Sayang koper yang berisi baju-baju aja yang di bawa, oleh-oleh untuk ayah dan ibu simpan di dalam mobil aja biar nanti kita tinggal pergi ke rumah ibu," ucap Aira memberi arahan untuk Juan dan Juan menuruti apa yang di kata kan oleh Aira.


Keluar dari gang, Aira sudah melihat rumah yang selalu ia rindu kan. Rumah yang penuh dengan kenangan dan tempat Aira di besar kan.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum bu," teriak Aira terdengar sepi dan tak terlihat sosok ibunya di dalam.


Sampai Juan pun datang membawa koper yang Aira minta dan meletakkannya di dekat pintu.


"Loh, kok masih belum masuk? memangnya ibu ga ada di rumah," tanya Juan.


"Kayanya sih ibu ga ada di rumah, rumahnya sepi," jawab Aira.


"Coba kamu telpon, tanya kan ibu lagi dimana," ucap Juan memberi saran.


Aira pun mencari ponselnya di dalam tas kecil yang di bawanya dan segera menghubungi ibu Siska.


📱"Halo bu, ibu lagi dimana?" tanya Aira.


📱"Ibu lagi di apotek nak, beli obat. Memangnya kenapa nak," jawab bu Siska.


📱"Aku di depan rumah bu, aku panggil ibu tapi ga ada jawaban jadi aku telpon ibu," ucap Aira.


📱"Loh kok ga kasih kabar dulu sih nak, ibu kan ga ada persiapan apa-apa. Ya sudah ibu pulang sekarang, tunggu ya nak," ucap bu Siska.


📱"Iya bu, hati-hati ya di jalannya," ucap Aira menutup telponnya.


Bu Siska segera meninggal kan apotek dan langsung menaiki angkutan umum yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2