
"Mudah-mudahan ini memang jodoh kita ya sayang dan bukan sekedar tipuan belakang," ucap Juan.
"Iya sayang, oh iya kita juga harus menyiap kan kamar untuk Winda selama dia tinggal di rumah kita," ucap Aira.
"Memangnya kapan pastinya Winda ke sini?" tanya Juan.
"Katanya sih besok atau lusa, kan aku tawarin dia ongkos buat ke sini. Tapi dia ga mau, katanya masih ada sisa uang gaji," ucap Aira.
"Loh memangnya dia kerja apa?" tanya Juan.
"Dia kepala toko di butik yang ga jauh dari rumahnya, katanya sih dia belum nikah," ucap Aira bercerita.
"Loh, terus bapak si jabang bayi tau kalau anaknya mau di adopsi sama kita? Orang rumahnya gimana udah tau tentang ini semua?" tanya Juan.
"Sayang coba tanyanya satu-satu, nih aku jawab ya. Jadi Winda itu ibarat korban pemerkosaan, dia di paksa oleh pacarnya yang baru 6 bulan ini dia pacari. Winda ga mau melakukan hal yang di luar batas karna Winda maunya nanti setelah menikah, setelah kejadian itu Winda putus kan untuk berpisah dari pacarnya semua akses Winda blokir karna Winda ga mau terjadi lagi hal yang serupa," ucap Aira bercerita.
"Terus Winda sakit, ibunya bawa dia ke dokter katanya sakit lambung sampai ga makan nasi berminggu-minggu. Sampai bosnya ikut bawa Winda ke dokter yang paling bagus dan diagnosanya sama, lambung karna kan gejala ngidam hampir sama kaya sakit lambung ya kan. Pusing, mual, muntah ke muka juga pucat," sambung Aira.
"Terus keluarganya ga ada yang curiga gitu, rasanya aneh aja. Kok bisa ga sampai ketauan gitu," tanya Juan merasa heran.
"Nah Winda sadar belum datang bulan lagi, pas Winda cium bau parfum kok mual. Di situ Winda sadar kalau dia hamil," ucap Aira terus bercerita.
"Malang juga ya nasibnya," ucap Juan.
"Tanpa sepengetahuan keluarganya, Winda pergi ke dokter kandungan untuk memasti kan. Apa benar hamil apa cuma perasaan aja dan ternyata memang hamil sudah masuk 18 minggu," ucap Aira.
"Tapi si cowok yang berbuat tau dia hamil?" tanya Juan.
"Ga ada yang tau dia hamil, teman-temannya, saudara-saudara bahkan ibunya pun ga tau kalau dia lagi hamil. Taunya ya sakit lambung yang cukup parah, gitu taunya," jawab Aira.
"Pas aku komen postingan orang, dia juga komen. Aku kira ga akan ada menghubungi aku, berapa hari kemudian ada chat masuk. Ya... mungkin ini memang udah jalan takdir kita, punya anak dari rahim wanita lain. Maaf kan aku ya sayang, aku ga sesempurna dulu," sambung Aira.
__ADS_1
Juan segera memeluk Aira untuk sekedar menguat kan hatinya yang rapuh.
"Jangan seperti itu, aku terima kamu apa adanya. Apa pun keadaannya aku ga akan pernah meninggal kan kamu karna aku sayang sama kamu," ucap Juan.
"Mungkin ini suratan takdir kalau kalau kita memang harus menolong Winda yang sedang di landa kesusahan setelah menjadi korban pemerkosaan, mungkin ini jalan kita mencari ladang amal untuk bekal kita kelak," sambung Juan.
...***...
Ke esokan harinya, memberes kan kamar tamu untuk Winda tidur dan beristirahat selama Winda tinggal di rumah Aira dan Juan.
Aira belum memberi tau bu Siska tentang niat Aira ini, saking sibuknya ponsel Aira berdering tanpa pesan masuk tidak di hirau kan oleh Aira.
Setelah selesai, baru lah Aira membuka ponselnya.
"Eh ada pesan masuk dari Winda," gerutu Aira.
💌Mba Aira, aku berangkat ke kota S sekarang. Aku udah di dalam travel menuju kota S dan kemungkinan 4 jam perjalanan.
💌Ga usah, uang ku udah lebih dari cukup. Asal kan bisa sampai ke kota S aja.
💌Ya sudan hati-hati di jalannya ya, kalau udah sampai di tempat pemberhentian travelnya. Kasih kabar lagi ya, biar nanti di jemput si sana.
Setelah berbagi kabar dengan Winda, Aira berniat mencerita kan hal ini pada ibunya. Aira menghampiri bu Siska yang sedang menonton tv di ruang keluarga sedang kan Putra sedang tidur di kamarnya.
"Bu boleh aku bicara sama ibu?" tanya Aira lalu duduk di samping ibunya.
"Boleh, bicara apa nak. Kok kaya yang serius gitu," ucap bu Siska.
"Begini bu, aku berniat mengadopsi anak. Apa ibu setuju dengan keputusan ku kali ini," ucap Aira.
"Kalau itu sudah menjadi keputusan mu dan suami mu, ibu pasti setuju. Memangnya mau adopsi di panti asuhan mana?" tanya bu Siska.
__ADS_1
"Bukan bu, orang yang mau kasih bayinya sama aku lagi di jalan mau ke sini," ucap Aira bu Siska mengerut kan dahinya merasa heran dengan ucapan Aira.
"Dia hamil di luar nikah dan ga ada yang tau dia hamil, usia kandungannya udah mau 20 minggu," sambung Aira.
"Ada orang yang dengan rela memberi kan anak kandungnya pada orang lain?" tanya bu Siska.
"Ya ada, ini orangnya lagi di jalan," ucap Aira.
Aira pun bercerita asal usul bertemu dengan Winda dan segala sesuatu tentang Winda.
"Ibu doa kan yang terbaik untuk mu nak, semoga menjadi ladang pahala untuk mu dan suami mu karna mengurus anak orang itu besar pahalanya nak. Apa lagi ini ibarat kata kamu menolong orang dengan cara menutupi aib dia," ucap bu Siska.
Bu Siska memeluk Aira karna merasa bangga dengan anaknya, memiliki rasa kemanusiaan yang sangat besar.
"Di balik kesulitan yang kamu alami, Tuhan memberi kan kemudahan dengan cara apa pun itu. Jangan pernah menganggap anak itu sebagai anak haram, karna tidak ada istilah anak haram anak itu anugrah Tuhan. Semoga di lancar kan segala urusan mu nak," ucap bu Siska mendoa kan yang terbaik untuk Aira dan di amin kan oleh Aira.
Setelah obrolan selesai, Aira kembali ke ruang catering untuk mengecek pesanan.
"Aku kerja lagi ya bu," ucap Aira.
"Iya nak," ucap bu Siska singkat.
Aira berdiri dari tempat duduknya lalu pergi ke ruang catering, ponsel pun di bawa kemana Aira pergi karna takut Winda memberi kabar tapi Aira tidak tau.
"Mba Sri, semua pesanan sudah selesai belum?" tanya Aira.
"Tinggal 1 lagi bu, yang 2 sedang di kirim ke alamat yang sudah ada di buku," jawab Mba Sri.
"Yang ini tinggal apa yang belum selesai?" tanya Aira.
"Tinggal snack nya bu, lagi di kerja kan sama mba Sari," ucap mba Sri.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau sudah selesai kalian boleh istirahat," ucap Aira.