Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 93


__ADS_3

Pov Vino.


Aku pun pergi ke kota A dan mencari Aira di rumah orang tuanya, dengan penuh keberanian aku terus berjalan di gang menuju rumahnya. Tapi rumahnya kok sepi sekali, karna penasaran aku pun bertanya pada tetangga sebelah rumah Aira.


"Permisi bu, apa benar ini rumah Aira Yasmin anaknya ibu Siska?" tanya ku menunjuk ke rumah Aira.


"Benar mas, ada perlu apa ya? Biar nanti saya sampai kan saat bertemu Aira atau ibunya,"


"Rumahnya kok sepi ya, pada kemana ya bu?"


"Aira memang jarang ada di rumah, setau saya Aira bekerja di 2 tempat. Pagi di toko dan sore sampai malam di cafe, dan ibu Siska tadi saya liat lagi keluar, mungkin ke tempat kakaknya Aira,"


"Saya mau nanya boleh bu? Apa Aira udah menikah?" tanya langsung tanpa basa basi.


"Setau saya sih belum, tapi Aira udah di lamar seorang pria dan berencana menikah 2 bulan ke depan,"


Ucapan ibu ini membuat hati ku hancur dan dunia ku runtuh seketika, wanita yang selalu aku rindu kan ternyata sudah mau menikah dengan lelaki pilihannya.


"Oh kapan itu bu?"


"Kalau ga salah sih akhir bulan Juli atau awal bulan Agustus, mas ini siapanya Aira ya?"


"Emm, saya cuma teman sekolahnya Aira dulu. Tolong sampai kan salam saya pada Aira ya bu, bilang aja dari Vino. Alvino Ardiansyah, Aira pasti mengenal saya,"


"Baik mas, Alvino Ardiansyah ya mas. Nanti saya sampai kan pada Aira, saat saya bertemu dengan Aira,"

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, aku pun kembali ke kota C dan meninggal kan rasa kecewa saat tau kenyataan pahit bahwa Aira akan segera menikah.


Aku kembali ke terminal menjadi kondektur, mencoba melupakan Aira yang akan menjadi milik orang lain. Tapi sekeras apa pun aku melupakan Aira tapi bayangan Aira tetap selalu hadir di kala aku sendirian. Aku selalu mencoba menepis rasa yang pernah aku punya untuk Aira tapi semakin aku coba rasa itu semakin kuat rasa cinta ku untuknya tetap tak mau pergi dari relung hati ku yang paling dalam.


Tahun berikutnya aku di tawari kerja oleh teman ku di perusahaan ternama sebagai office boy, tanpa berpikir panjang aku pun menerima tawaran tersebut.


Aku melamar dengan ijazah yang ku punya, aku hanya lulusan sekolah menengah pertama dan hanya itu modal ku.


"Mulai besok kamu boleh kerja di sini,"


Sejak saat itu lah hidup ku mulai berubah, aku bekerja lebih giat demi masa depan ku yang cerah. Aku membersih kan kantor dan sesekali jadi pesuruh, aku membeli kan apa yang di ingin kan oleh karyawan dan aku mendapat imbalan upah. Itu lah uang lebih yang ku punya.


Setahun bekerja pihak kantor rekomendasi kan aku untuk jadi staf dengan catatan harus memiliki ijazah minimal diploma 3, aku kejar paket c lalu lanjut kuliah.


Dan di sini lah aku sekarang, menjadi staf kantor dengan penghasilan cukup besar untuk ku menata masa depan yang cerah.


6 bulan dekat tanpa ada ikatan pacaran, akhirnya aku putus kan untuk meminangnya menjadi kannya ratu di hati ku.


Setelah sekian lama aku pergi dari rumah, akhirnya aku pulang ke kota asal ku. Kota yang sama dengan pujaan hati ku, kota yang memberi ku banyak kenangan indah meski tak bertahan lama.


Aku pulang hanya untuk memberi tau kedua orang tua ku kalau aku akan menikah dengan pilihan hati ku, tapi apa yang ku dapat sikap ayah yang masih sama seperti dulu saat beliau mengusir ku dari rumah.


Aku pun bertengkar hebat dengan ayah ku dan memilih untuk pergi dengan meninggal kan ibu yang sedang menangisi kepergian ku.


Tanpa ku sadari aku melangkah pergi menuju rumah Aira, wanita yang selalu ada di hati ku. Ternyata kini Aira sudah memiliki anak lelaki yang mirip dengannya.

__ADS_1


"Tuhan kenapa rasa ini tak kunjung hilang dalam sanu bari ku, jaga dia untuk ku Tuhan. Beri kan dia kebahagiaan dalam semua hal, di hati ini mungkin akan ada istri ku nanti tapi kamu tetap tak akan terganti kan Aira," batin ku saat sekilas melihat mu dengan anak lelaki mu tapi aku tak mau menyapa mu.


...***...


Hari pernikahan ku semakin dekat, semua biaya pernikahan aku yang tanggung karna tabungan ku selama bekerja cukup untuk ku menikahi wanita pujaan ku.


"Saya terima nikah dan kawinnya Adriani Dewi binti bapak Rasyid dengan mas kawin satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap ku lantang dan di sah kan oleh para saksi.


Di awal pernikahan, aku dan istri ku memilih untuk menyewa rumah di dekat kantor dan menabung untuk membeli rumah. Istri ku pun masih bekerja karna niat kami ingin memiliki rumah sendiri.


Satu tahun pernikahan, akhirnya aku bisa membeli rumah untuk ku tinggal bersama istri ku dan tak lama istri ku di nyata kan hamil.


"Selamat ya pak, istri bapak hamil dengan usia kandungan 6 minggu," ucap dokter saat aku membawa istri ku di periksa karna sudah hampir seminggu ia sadar terlambat datang bulan.


"Alhamdulillah, akhirnya aku akan jadi ayah," ucap ku bersyukur dengan apa yang di titip kan oleh Tuhan.


Saat perut istri ku mulai membesar, aku pun memintanya untuk berhenti bekerja agar dia fokus mengurus anak di rumah.


Usaha ku pun terbilang bagus, aku memiliki beberapa kios dengan membayar pegawai di setiap kios. Dari hasil usaha yang ku dapat, aku bisa membeli mobil dan motor untuk istri ku.


Bertahun-tahun hidup ku bahagia bersama istri dan anak ku sampai anak ke 2 ku pun lahir menambah rasa bahagia ku bersama istri ku.


Sampai akhirnya aku bertemu teman sekolah ku yang meminta nomor ponsel ku dan di masuk kan di grup alumni sekolah tapi yang ku cari ternyata tidak ada.


[Vin apa kabar? kemana aja kamu ga pernah ada kabar sedikit pun] tanya Dinda saat aku masuk di grup alumni.

__ADS_1


[Aku ada, habis tapa di gua hiro😂😂] jawab ku asal.


Aku melihat anggota grup tapi Aira ga ada di daftar anggota, meski pun aku udah beristri tapi aku masih berharap bisa memiliki mu Aira.


__ADS_2