Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 78.


__ADS_3

"Laki-laki atau perempuan sama aja, yang penting bayinya sehat dan kamu kembali sehat setelah melahir kan," ucap Juan.


"Ayo kita pulang, hari minggu kita belanja peralatan bayi ya. Kamu juga harus ikut," ucap Aira.


Juan segera mengemudi kan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.


"Sayang kita ke minimarket dulu sebentar, susu Putra sama susu hamil untuk Winda tinggal sedikit lagi," ucap Aira.


Juan membelok kan mobilnya lalu memarkir kan mobilnya di depan minimarket lalu Aira dan Winda turun untuk belanja keperluan yang di butuh kan.


"Sayang, aku titip kopi kasan ya yang biasa aku minum," ucap Juan menunggu di dalam mobil sambil memain kan ponselnya.


"Itu aja, ada yang lainnya ga?" tanya Aira.


"Itu aja, sekalian beli kan cemilan untuk Putra ya," ucap Juan," ucap Juan.


"Iya, ya sudah aku masuk ke dalam dulu ya," ucap Aira menutup pintu mobil dan berjalan bersamaan dengan Winda.


Aira dan Winda berkeliling di minimarket mencari susu dan kebutuhan yang lainnya.


"Pulsa mu masih ada?" tanya Aira.


"Ada mba, kemarin teman ku ngisi pulsa punya ku," ucap Winda.


"Loh kenapa ga minta sama saya, ya sudah m


nanti sekalian isi di sini aja," ucap Aira terus memasuk kan makanan ke dalam keranjang belanjaannya.


"Parfum sama sampo, apa yang habis. Sekalian aja beli keperluan kamu," sambung Aira.


"Ia mba," ucap Winda lalu mencari apa uang menjadi keperluannya.


"Sudah mba, yang habis cuma ini aja," ucap Winda.


"Ya sudah kita bayar dulu terus kita pulang," ucap Aira membawa keranjang belanjaannya ke kasir dan membayar semua belanjaannya.


Setelah selesai Aira membawa 2 kantong belanjaan keluar dari minimarket.

__ADS_1


"Ayo kita pulang sayang, aku sama Winda udah selesai belanjanya," ucap Aira menyimpan barang belanjaannya di jok belakang di dekat tempat duduk Winda.


Juan kembali melaju kan mobilnya di jalanan menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah ternyata Putra sudah menunggu Aira pulang di teras rumah.


Juan memarkir kan mobilnya di garasi mobil lalu Aira dan Winda pun turun di sambut oleh Putra dari arah teras rumah.


"Mama.. tante Winda.." teriak Putra.


"Udah cek adik bayinya ma?" tanya Putra.


"Udah sayang, kata dokter calon adik bayinya laki-laki. Nanti kamu ada teman untuk main," ucap Aira terus berjalan masuk ke dalam rumah.


"Aku bersyukur menitip kan anak ku di keluarga ini yang memang menunggu kehadiran mu nak, kamu baik-baik di sini ya nak. Yang pinter, sehat selalu dan jadi anak yang membangga kan keluarga baru mu, mama juga pasti bangga sama kamu dan pasti mendoa kan kebahagiaan mu meski dari kejauhan," batin Winda mengusap perutnya.


"Ini foto calon adik bayinya, nanti mau kamu kasih nama siapa nak," tanya Aira yang duduk di kursi ruang tamu bersama Putra dan Winda sedang kan Juan duduk di teras rumah sambil minum kopi yang di beli di minimarket tadi.


"Semoga semuanya di beri kan kelancaran, ibu dan bayi sehat. Terutama ibunya harus sehat dan bisa kembali pada keluarganya dalam keadaan sehat seperi awal pergi dari rumahnya," batin Juan.


"Ichi aja ma, kaya di game aku😀," ucap Putra.


"Ya udah gimana mama aja deh, aku pusing. Cemilan aku mana ma, aku mau main di kamar aja," ucap Putra, mengambil makanan yang di beri kan oleh Aira lalu pergi ke kamarnya.


"Aku juga mau ke kamar dulu ya mba, mau istirahat dulu," ucap Winda berdiri dari duduknya dan membawa belanjaannya ke kamar.


...***...


Pagi sekali Winda sudah bangun dan langsung jalan-jalan keliling komplek perumahan. Aira sibuk dengan segala pekerjaannya, menyiap kan sarapan untuk semua orang yang ada di rumah.


Putra dan Juan sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi sebelum pergi ke kantor dan Putra pergi ke sekolah.


"Mama hari ini aku ada acara di sekolah, jadi nanti mama jemput aku agak sore sekitar jam 3 sore," ucap Putra.


"Acara apa? Mau di bawain bekal makan ga?" tanya Aira.


"Acara pentas seni dari kelas 5 sama kelas 6, ada bazar makanan juga ma. Jadi bekel uang aja, aku mau jajan di sana," ucap Putra tersenyum kecil.

__ADS_1


"Boleh, nanti papa kasih bekel uang buat Putra ya," ucap Juan.


"Kamu selalu aja manjain Putra dengan materi," ucap Aira.


"Selagi aku mampu, aku pasti melaku kan apa pun untuk anak dan istri ku. Oh iya Winda kemana, belum keliatan dari pagi," ucap Juan.


"Tadi jam 6 izin jalan-jalan keliling komplek sini, katanya kemarin di suruh dokter banyak jalan-jalan biar lancar pas melahir kan," ucap Aira.


"Oh gitu, semoga lahirannya lancar ya. Aku takut kenapa-kenapa dengan Winda nya, maksud aku bukan apa-apa. Kan orang tua Winda taunya di sini Winda kerja, misalnya kalau ada apa-apa dengan Winda setelah melahir kan gimana," ucap Juan.


"Pait nya kalau terjadi pendarahan saat melahir kan terus Winda meninggal, apa yang harus di jelas kan pada keluarganya," sambung Juan.


"Iya juga sih, mudah-mudahan sih lancar semuanya dan Winda bisa sehat lagi," ucap Aira.


"Kalau kita tiba-tiba bawa Winda dalam keadaan tidak bernyawa, apa yang harus kita cerita kan pada keluarganya sedang keluarga Winda taunya Winda di sini untuk kerja bukan untuk melahir kan," ucap Juan.


"Kita doa kan aja mudah-mudahan semuanya baik-baik aja, karna kita tulus menolong Winda menutupi aibnya dari keluarga dan teman-temannya," ucap Aira


Setelah pembahasan dan selesai sarapan, Juan pergi mengantar Putra ke sekolah setelah itu Juan pergi ke kantor untuk bekerja.


Tak lama Juan pergi, Winda pun pulang setelah jalan-jalan pagi mengelilingi komplek.


"Winda, ayo sarapan dulu. Kamu pasti lapar udah jalan-jalan dari tadi pagi," ucap Aira.


"Iya mba," ucap Winda singkat lalu duduk di kursi untuk sarapan.


"Pada kemana ini mba, nenek sama Putra pada kemana," tanya Winda.


"Juan sama Putra udah berangkat, ibu masih di kamar. Tadi sih masih mandi, mungkin sebentar lagi ibu keluar dari kamarnya," jawab Aira menyimpan segelas susu untuk Winda minum.


"Terima kasih mba," ucap Winda menyeruput susu yang di beri kan oleh Aira.


"Iya sama-sama, habis kan ya makan sama susunya. Aku tinggal ngecek catering ya," ucap Aira.


"Iya mba, nanti aku bantu," ucap Winda.


Aira pun berjalan menjauhi Winda lalu masuk ke ruang catering.

__ADS_1


"Mba Sri, pesanan yang belum tinggal buat kirim kemana?" tanya Aira.


"Baru 1 bu yang sudah selesai, pesanan buat bu Andra tadi sudah di antar oleh pak Deri," jawab mba Sri.


__ADS_2