
Juan dan Aira keluar dari kamar meninggal kan Putra yang tertidur pulas.
"Maaf ya, ibu cuma masak seadanya. Di kulkas cuma ada sisa ini aja," ucap ibu menyajikan makanan di atas meja makan.
"Iya bu ga apa-apa, aku udah senang banget bisa makan masakan ibu lagi. Aku kira aku tidak akan bisa kumpul dan makan masakan ibu seperti ini lagi," ucap Juan.
"Ibu hanya minta satu pada mu Juan, tolong jaga Aira dengan baik. Jaga lahir batinnya, jangan sampai Aira terluka lagi," pinta ibu pada Juan.
"Iya bu, aku janji akan menjaga Aira dengan baik dan ga akan membuat luka sedikit pun. Akan aku jadi kan ratu di hati ku," ucap Juan berjanji dengan menggenggam tangan Aira dengan erat.
"Beneran nih bakal di jadiin ratu," ucap Aira menyindir perkataan Juan.
"Iya pasti," ucap Juan tersenyum bahagia.
"Oh iya bu, aku mau minta izin untuk membawa Aira dan Juan pindah ke kota S dan menetap di sana. Aku ingin memulai hidup baru di sana bersama Aira dan Juan," sambung Juan.
"Tapi Juan, kerjaan aku di sini gimana? Aku ga bisa resign dadakan, lagian kalau boleh aku mau tetap bekerja. Aku juga mau jadi istri yang mandiri, tidak bergantung pada suami," ucap Aira protes dengan keputusan Juan.
"Sayang, gaji ku aja udah lebih dari cukup untuk mencukupi kehidupan kita bertiga," ucap Juan tanpa melihat ada ibu di depannya.
"Juan kamu harus ingat, aku masih punya tanggung jawab atas ibu ku yang telah melahir kan ku, aku masih harus mencukupi segala kebutuhannya dan keperluannya," ucap Aira.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan ribut lagi, kita bahas lagi nanti ya. Sekarang kita makan dulu ya, nanti keburu dingin makanannya," ucap ibu.
...***...
Setelah selesai makan, ibu masih sibuk di dapur memberes kan dapur yang berantakan.
Sedang kan Aira mengurus Putra yang terbangun dan menangis, Juan pun dengan sigap membantu Aira mengurus Putra.
"Biar aku aja yang gendong Putra, kamu istirahat aja," ucap Juan mengambil alih Putra dari gendongan Aira.
"Aku selesai kan dulu beres-beres kamar ya," ucap Aira.
"Oh iya, kamu kapan mulai kerja lagi?" sambung Aira.
"Ish apaan sih kamu, besok aku masuk kerja pagi pulang sore. Aku msh mau kerja dan masih banyak lagi yang ingin aku beli, kalau aku ga kerja ibu mau makan dari mana," ucap Aira.
"Aira aku janji akan menanggung semua kebutuhan ibu asal kamu mau ikut pindah dengan ku, aku pasti kirim uang untuk ibu tiap bulan," ucap Juan mencoba membujuk Aira.
"Mau ya sayang, ikut aku pindah ke kota S. Di sini aku ga tenang ninggalin kamu karna aku takut Amel akan berbuat nekat sama kamu," sambung Juan.
"Nanti aku pikir kan lagi dan coba ngomong lagi sama ibu, kalau ibu izin kan aku mau ikut sama kamu," ucap Aira mengalah.
__ADS_1
Tok tok tok
Terdengar suara pintu di ketuk, ibu yang mendengarnya segera berjalan menuju ruang depan untuk membuka kan pintu.
Tok tok tok.
"Permisi," teriak ibu Ika dari luar.
"Iya, sebentar," sahut ibu membuka pintu dengan perlahan.
"Eh, ada besan. Silah kan masuk bu," ucap ibu Siska.
"Silah kan duduk, sebentar ya saya panggil kan Juan dan Aira," sambung bu Siska langsung melangkah menuju kamar Aira.
Tok tok tok
"Nak, ada ibu kamu tuh di depan," ucap ibu siska dari balik pintu kamar Aira.
Aira pun membuka pintu kamarnya dan keluar dari kamar bersama Juan dan juga Putra yang masih di gendong Juan.
"Ibu ke dapur dulu ya, mau buat kan minum untuk ibu dan ayah mu," ucap ibu Siska.
__ADS_1
Aira dan Juan pun berjalan beriringan menuju ruang tamu untuk menemui orang tua Juan.