Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 68


__ADS_3

Sesaat setelah Aira dan Juan pergi untuk membeli apa yang Putra mau, ternyata Ardy datang bersama Wulan.


Tok tok tok


"Bu..." panggil Ardy.


Mendengar suara yang memang tidak asing di telinganya, bu Siska segera bergegas berjalan menuju pintu untuk membuka kan pintu.


"Kamu sudah sampai nak," ucap bu Siska saat membuka kan pintu untuk Ardy dan Wulan.


Ardy mencium punggung tangan bu Siska dan di ikuti oleh Wulan.


"Apa kabar bu?" tanya Wulan sekedar basa basi.


"Kabar ibu baik nak, ayo masuk nak," ucap bu Siska mempersilah kan Ardy dan Wulan masuk.


Ardy dan Wulan pun duduk di kursi ruang tamu dan duduk berdampingan sedang kan bu Siska langsung ke dapur untuk mengambil kan minum untuk anak dan menantunya, Wulan merasa canggung dengan ibu mertuanya karna sejak menikah Wulan jarang mau ikut dengan Ardy untuk mengunjungi ibu mertuanya.


"Aira mana bu?" tanya Ardy.


"Aira lagi ke depan, beli apa tadi ya ibu lupa namanya. Putra yang mau tadi, katanya sih ga akan lama," ucap ibu Siska menyimpan secangkir teh manis hangat di atas meja dan duduk di kursi di depan Ardy.


"Anak Aira pasti udah besar ya, sejak Aira melahir kan sampai sekarang aku ga pernah bertemu anak Aira bahkan terakhir aku bertemu dengan Aira pas Aira menikah dengan suaminya. Namanya pun aku lupa," ucap Ardy.


"Namanya Putra, dia udah kelas 2 SD sekarang.p Usianya 8 tahun," ucap ibu Siska.


"Aku memang udah lalai jadi seorang kakak, aku terlalu sibuk dengan dunia ku sendiri sampai lupa dengan ibu dan adik ku," ucap Ardy menyadari kesalahannya.


"Iya nak, ga apa-apa. Ibu mengerti kamu sibuk dengan pekerjaan mu," ucap bu Siska.


"Sebenarnya ada hal apa ibu memanggil ku kemari?" tanya Ardy.


"Kita tunggu Aira dulu ya nak, biar obrolannya ga di ulang-ulang lagi. Kamu udah makan nak?" ucap bu Siska.

__ADS_1


"Udah bu, tadi sebelum kemari kita makan dulu di rumah," jawab Ardy.


"Sebentar ya, biar ibu telpon Aira nya," ucap bu Siska mengambil ponselnya yang ia simpan di atas meja setelah menelpon Ardy tadi.


📱"Halo nak, kalian masih dimana?" tanya ibu.


📱"Kami sedang makan dulu bu, sebentar lagi selesai," ucap Aira.


📱"Ini kakak mu sudah menunggu mu di rumah, kalian cepat pulang ya," ucap bu Siska.


📱"Iya bu, setelah ini kami akan segera pulang. Suruh kak Ardy tunggu aku ya bu," ucap Aira.


📱"Iya nak, jangan lama ya," ucap bu Siska.


📱"Iya bu," jawab Aira singkat lalu menutup telponnya.


Bu Siska menyimpan kembali ponselnya di atas meja dan kembali membuka perbincangan dengan anak dan menantunya.


"Apa kegiatan mu di rumah nak?" tanya bu Siska.


"Aku hanya melakukan kegiatan ibu rumah tangga bu, aku udah ga kerja juga. Tadinya biar istirahat, siap tau kan aku bisa hamil kalau aku banyak istirahat tapi masih belum ternyata," ucap Wulan.


"Mungkin belum saatnya nak, Aira juga baru sembuh dari kista ovariumnya. Sudah berapa kali program hamil tapi belum ada hasil," ucap bu Siska.


"Yang sabar ya, yang penting kita harus tetap berusaha dan berikhtiar untuk mendapat kan keturunan," sambung bu Siska.


"Iya bu, aku dan mas Ardy pun sudah beberapa kali konsultasi pada dokter kandungan tapi masih belum ada hasil yang menyata kan kalau aku hamil," ucap Wulan.


"Mungkin Tuhan berkehendak lain untuk kalian, kalian harus lebih sabar lagi ya mungkin suatu saat nanti kalian bisa memiliki seorang anak," ucap bu Siska.


20 menit kemudian, Aira pun datang dengan membawa sebungkus martabak kesukaan kakak sulungnya.


"Bu aku pulang," ucap Aira.

__ADS_1


Melihat kakak dan kakak iparnya yang duduk di ruang tamu, Aira mencium punggung tangan Ardy dan Wulan dan ikut duduk di ruangan yang sama.


"Suami dan anak mu mana dek?" tanya Ardy.


"Ada kak, tadi aku tinggal di parkiran," ucap Aira.


"Maaf kan kakak ya dek, selama ini kakak lalay terhadap mu dan ibu. Maaf kan aku ya bu," ucap Ardy memeluk adik bungsunya.


"Iya kak ga apa-apa, aku tau kakak sibuk berjuang untuk mencari nafkah," ucap Aira melepas pelukan Ardy.


Juan dan Putra pun datang dan langsung mencium punggung tangan Ardy dan Wulan.


"Ini anak mu dek? sini nak duduk dekat om dan tante," ucap Ardy Putra pun mendekat dan duduk di tengah Ardy dan Wulan.


"Om ini kakak dari ibu mu, om anak sulung dari nenek. Kamu pasti baru bisa ketemu sama om dan tante ya," ucap Ardy mencoba mendekat kan diri dengan Putra.


"Namanya siapa sayang," tanya Wulan.


"Nama ku Putra tante," jawab Putra.


"Kamu lucu deh, mau ikut ke kontrakan tante ga sayang. Biar tante ada yang nemenin," ucap Wulan memang terlihat begitu mengingin kan seorang anak.


"Besok aku mau pulang tante jadi aku ga bisa kemana-mana, apa lagi ikut sama tante," ucap Putra dengan kepolosannya menolak dengan Syam.


"Oh iya, begini kak aku dan ibu mau bicara sesuatu dengan kakak," ucap Aira.


"Rencananya aku akan membawa ibu pulang ke rumah ku di kota S dan aku minta sama kakak untuk tinggal dan menetap di rumah ini, itu pun kalau kakak ga keberatan," ucap Aira.


"Loh kenapa harus ke kota S, memangnya sekarang kamu tinggal dimana," ucap Ardy.


"Sejak putra berumur 10 bulan, aku memang sudah pindah ke kota S dan membuka usaha sendiri, aku memiliki usaha catering," ucap Aira.


"Iya nak, biar kalian tidak menyewa rumah, jadi uangnya bisa di tabung," ucap bu Siska.

__ADS_1


__ADS_2