Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah
Bab 59.


__ADS_3

Juan mengirim pesan pada ibu Ika perihal nama rumah sakit dan ruangan tempat Aira di rawat.


đź’ŚRumah sakit Harapan kasih ruang melati kamar 09


"Ini Juan sudah kirin nama rumah sakitnya sama ruangan dan nomor kamarnya," ucap bu Ika.


Pak Dedi lekas melaju kan mobilnya menuju tempat tujuan yaitu rumah sakit Harapan kasih dimana Aira di rawat.


Mobil pun berhenti di depan gedung besar dengan lahan parkir yang sangat luas.


"Ini kan ya rumah sakitnya," ucap pak Dedi.


"Iya yah, ini rumah sakit harapan kasih. Ayo masuk yah," ucap bu Ika meminta pak Dedi memasuk kan mobilnya.


Pak Dedi pun masuk dan mencari tempat untuk parkir, semua tempat sudah terisi dengan rapih sampai akhirnya pak Dedi mendapat kan tempat parkir yang jauh dari arah lobi rumah sakit.


"Kita jalan kakinya jauh bu, ga apa-apa ya," ucap pak Dedi.


"Bu siska maaf ya parkirnya kejauhan jadi jalan kaki sampai masuk lobi jauh, sekali lagi maaf ya bu," sambung pak Dedi.


"Ga apa-apa pak, yang penting kan bisa nengokin Aira," ucap bu Siska.


"Tas bawaannya di simpan di mobil aja dulu bu, kita juga pasti tidur di rumah anak-anak, Putra juga pasti sendirian di rumah," ucap bu Ika.


"Iya bu," ucap bu Siska.


Mereka pun turun dari mobil setelah mobil terparkir dengan rapih lalu berjalan menuju lobi rumah sakit.


Sesampainya di lobi rumah sakit, pak Dedi mencoba bertanya pada satpam rumah sakit tentang letang ruang rawat inap Aira.


"Permisi pak, selamat sore. Numpang tanya, kalau ruangan melati dimana ya?" tanya pak Dedi.


"Oh, ruangan melati ya. Bapak lurus aja di ujung lorong belok kanan, ruangannya ada di ujung lorong," jawab pak satpam dengan ramah dan sopan.


"Baik, terima kasih ya pak," ucap pak Dedi.


Ke 3 orang tua itu pun berjalan mengikuti instruksi yang di beri kan oleh pak satpam tadi.


"Lurus sampai ujung lorong terus belok kanan ruang melati ada di ujung lorong," gerutu ibu Ika.

__ADS_1


"Ah itu ruangannya, ada di ujung lorong ini," ucap bu Ika saat melihat ruangan yang di tuju.


"Eh iya, ayo bu," ucap bu Siska menarik tangan bu Ika agar berjalan lebih cepat lagi.


Sesampainya di depan pintu ruangan ada satpam yang menjaga dan pak Dedi kembali bertanya pada pak satpam.


"Permisi pak, saya mau tanya. Apa kami bisa menjenguk pasien atas nama Aira Yasmin di kamar nomor 09?" tanya pak Dedi sambil melihat isi chat dari Juan di ponsel bu Ika.


Pak satpam mengecek daftar nama pasien yang di pegangnya, dan memang ada nama pasien yang di cari.


"Ada pak, tapi masuknya satu persatu ya tidak bisa sekali gus masuk semuanya karna akan mengganggu ketenangan pasien," ucap pak satpam.


"Iya pak ga apa-apa yang penting kami bisa melihat anak kami di dalam," ucap bu Ika.


"Silah kan bu Siska, duluan masuk. Biar bu Siska lebih tenang setelah bertemu dengan Aira," ucap pak Dedi.


"Terima kasih ya pak atas pengertiannya," ucap bu Siska.


"Silah kan bu, kamarnya ada di sebelah kanan," ucap pak satpam membuka kan pintu untuk bu Siska.



"Ah ini dia kamar nomor 09, pasti Aira di dalam," gerutu bu Siska.


Tok tok tok


"Masuk," ucap Juan dari dalam kamar.


Bu siska pun membuka pintu kamar dan matanya langsung melihat anak bungsunya yang terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus di tangan kanan dan selang transfusi darah di tangan kiri Aira.


"Eh ibu, sudah sampai bu," ucap Juan segera mengambil tangan bu Ika dan mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Sudah nak barusan, ayah mu menyuruh ibu masuk duluan untuk menjenguk Aira tapi Aira nya lagi tidur ya," ucap bu Siska.


'Ini gimana ceritanya Aira bisa sampai seperti ini nak?" tanya ibu Siska.


"Aku baru pulang kerja dan Aira lagi nyuci di tempat cuci baju, aku cari-cari di setiap ruangan tapi aku tidak menemukan Aira dimana pun. Tapi saat aku mendengar suara Aira yang menangis di tempat cuci baju langsung aku cek Aira di tempat cuci baju dan ternyata banyak yang mengalir dari kali Aira dan Aira hanya bisa menangis sambil memegangi perut bagian bawahnya." ucap Juan bercerita.


"Terus apa kata dokter nak?" tanya ibu Siska.

__ADS_1


"Aira hanya butuh istirahat bu untuk memulih kan kondisinya," jawab Juan.


"Rasanya ibu ga tega melihat Aira seperti ini," ucap bu Siska menahan tangis.


"Aku yakin Aira wanita yang kuat, Aira pasti bisa melewati semua ini. Aku akan lebih ekstra lagi dalam menjaga Aira," ucap Juan.


"Terima kasih ya nak, sudah menjaga Aira dengan baik. Ibu ga salah membantu mu kembali pada Aira, jangan kecewa kan ibu ya nak," ucap bu Siska.


"Oh iya, ayah dan ibu mu masih di luar menunggu giliran masuk. Tadi kata pak satpam ga boleh langsung semua masuknya, harus satu persatu," sambung bu Siska.


"Aku keluar dulu ya, biar ibu bisa masuk ke sini dan aku di luar sama ayah," ucap Juan.


Juan pun keluar dari kamar Aira untuk menemui orang tuanya di luar.


"Ayah, ibu," panggil Juan saat melihat kedua orang tuanya yang duduk di kursi ruang tunggu.


Tak lupa Juan mencium punggung tangan ayah dan ibunya lalu duduk di sebelah bu Ika.


"Putra di rumah sama siapa?" tanya bu Ika.


"Ada mba Sri bu, orang yang bantu Aira di catering. Aku titip Putra sekalian jaga rumah sama mba Sri," ucap Juan.


"Ibu mau masuk ke dalam? Biar aku di sini sama ayah," sambung Juan.


"Boleh ibu masuk, kan masih ada bu Siska di dalam. Nanti kalau pak satpam marah gimana," ucap bu Ika.


"Biar aku yang minta izin sama pak satpam," ucap Juan lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pak satpam yang sedang mengawasi ruangan dan area sekitar.


"Maaf pak, apa ibu saya boleh masuk ke dalam? Di dalam hanya ada ibu mertua saya di dalam," ucap Juan meminta izin.


"Iya boleh pak asal tidak menganggu ketertiban pasien lain aja," ucap pak Satpam.


"Terima kasih ya pak," ucap Juan.


Juan pun kembali dan memberi tau pada ibu Ika bahwa pak satpam sudah mengizin kan untuk masuk ke dalam ruangan.


Ibu ika pun berdiri dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam ruangan dan mencari kamar Aira.


"Silah kan bu, kamarnya ada di sebelah kanan ya bu," ucap pak satpam membuka kan pintu ruangan untuk bu Ika.

__ADS_1


"Terima kasih ya pak," ucap bu Ika.


__ADS_2