
Sudah seminggu aku tinggal bersama Nenek. Kami banyak bercerita dan dia mengajarkan aku bagaimana memasak. Belasan tahun aku tidak memegang wajan, kini, aku cukup sering melakukannya. Aku sering membantu nenek memasak di dapur. Nenek bilang, menjadi seorang istri itu harus pandai memasak. Benar juga, bisa-bisa kalau aku tidak pandai memasak, suamiku di ambil orang.
Aku cukup kaget, ketika tahu nenek mantan seorang juru masak di salah satu restaurant terkenal. Pantas saja, tangannya yang lembut dan cekatan itu, bisa membuat semua masakan terasa sangat lezat.
Aku sangat bahagia ketika berjumpa dengan nenek. Aku tidak perlu takut kehujanan lagi, tidak perlu takut di kejar preman lagi, aku tidak perlu khawatir mencari tempat untuk tidur. karena sekarang, semuanya telah tersedia. Aku bisa tidur di kasur yang sangat empuk, setiap hari tidak khawatir akan makan apa bahkan bak mandi selalu terisi penuh. Seakan aku adalah seorang Ratu sekarang.
Pagi ini, aku diperintahkan oleh nenek untuk pergi ke pasar. Ya, kau rindu pasar sebenarnya. Tapi, karena aku berpakaian rapi, sensasinya jadi berbeda. Lagi pula, preman-preman tengil itu tidak akan mengenaliku bila aku berpakaian rapi dan bersih seperti ini. Aku menebar senyum kepada semua orang yang ada di pasar ini. Seakan mengejek mereka, karena aku tidak akan mengemis pekerjaan lagi sama mereka.
“Itu dia, kejar!!”
Aku terkejut ketika mendengar suara berat dari seorang laki-laki. Aku menoleh ke belakang dan sudah melihat mereka berlari ke arahku. Sial! Di saat menyenangkan seperti ini, kenapa aku harus bertemu dengan mereka. Yang benar saja!
Aku langsung berlari menjauh dari mereka. Menabrak orang-orang yang aku lewati dan sengaja menjatuhkan barang dagangan orang-orang di pasar. Maafkan aku.
Secepat mungkin aku berlari agar mereka tidak bisa menangkapku. Aku melewati ruko kosong dan menyeberang jalan. Aku tahu, badan besar seperti mereka pasti akan lelah jika mengejar aku yang bertubuh kecil ini.
Aku berhenti di persimpangan lampu merah, mengatur napasku. Aku menoleh ke belakang dan tidak melihat mereka. Aku membungkuk sedikit. Ya ampun, mereka sudah tua, tapi masih sangat bersemangat mengejarku.
__ADS_1
Saat aku mengatur napas, aku melihat seseorang dari dalam mobil sedan sedang menatapku. Kacanya yang tidak terlalu gelap, cukup jelas menampakkan wajahnya. Ah, aku ingat. Laki-laki yang menolongku waktu itu. Kenapa dia sering lewat di daerah sini ya? Apa rumahnya di sini atau arah kantornya lewat sini? Ah, mengapa aku memikirkannya.
“Oii!!!” teriak seorang laki-laki. Yang benar saja?!!
Mataku terpejam dan kembali lari menjauhi mereka. Aku masuk ke gang-gang kecil yang sepi lalu mencari tempat persembunyain. Aku bersembunyi di balik tembok. Aku menyandarkan punggungku dan mengatur napasku. Di depan, aku tidak lagi melihat jalan. Ini jalan buntu! Sial!
“Nah, ketangkap kan lo. Mau lari kemana lo?” kata mereka yang masih ngos-ngosan karena berlari mengejarku. Aku bingung harus apa, mereka mengepungku.
“Ini dia bos, yang waktu itu gertak gue, padahal itu untuk makan siang kita.” Katanya.
Astaga, kelamin saja laki-laki, tapi tukang mengadu.
“Lo tau sendiri kan, apa urusan kita-kita sama lo?!” katanya
“Gila ya, itu udah seminggu lalu. Lupakan saja, minggir. Aku mau pulang,”
Aku cukup santai di depan mereka meski aku terus memutar otak bagaimana agar aku bisa lari dengan preman-preman ini. Tapi, tentu saja, mereka tidak akan membiarkan aku pergi. Mereka tertawa mendengar kata-kataku.
__ADS_1
“Jangan pergi dong. Gimana kalau kita senang-senang? Lagi pula, lo mandi di mana? Kok makin cantik aja sih?” kata seorang laki-laki bertubuh kurus lalu mencolek pipiku. Sial, lancang sekali laki-laki ini. Aku tidak tinggal diam, aku langsung menamparnya dan mendorongnya.
“Gila, nyari gara-gara nih cewek! Pegang dia!”
Aku kewalahan, mereka terlalu banyak. Beberapa laki-laki memegang tanganku, aku sulit untuk melepaskan cengkeram mereka. Dua orang perempuan yang juga ikut mengerjaku, mereka tertawa cekikikan.
“Gila, cowok lawan cewek! Sini, dua orang itu gue lawan!” ajakku. Laki-laki itu melihat dua orang perempuan temannya dan tanpa aba-aba, mereka tiba-tiba memukul perutku.
Ah, sial! Bukan begini maksudnya. Laki-laki ini harus melepaskan cengkeram mereka. Kalau begini, tetap saja aku tidak bisa melawan.
Tapi, aku tidak kehilang akal. Aku menendang mereka asal lalu setelah tanganku terlepas, aku menumbuk dua cewek itu hingga hidung mereka berdarah. Tiba-tiba, lelaki bertato yang memiliki badan cukup besar melayangkan tumbukannya ke perut dan wajahku. Aku lunglai, pandanganku kabur karena tinjunya yang sangat keras.
Dua orang laki-laki yang memegangku tadi, mereka kembali meraih tanganku. Aku tidak lagi bisa melawan mereka. Kepalaku tertunduk, kepala dan perutku sangat sakit. Belum cukup sampai disitu, dua perempuan yang aku tumbuk tadi, balik melawan menumbuk wajahku berkali-kali dan menendang perutku. Sungguh, aku tidak sanggup lagi. Bahkan, pandanganku sudah tidak karuan ketika melihat mereka. Biarlah, mungkin ini akhir dari segalanya.
“Woi!”
Dua orang laki-laki itu tak mau melepaskanku, kepalaku tergantung. Aku lemas tak berdaya.
__ADS_1
“Siapa lagi nih orang?” kata salah satu dari mereka. Lalu, tiba-tiba mereka melepaskanku sampai aku tersungkur jatuh ke tanah. Bahkan memutar tubuhku pun aku tidak sanggup. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, mataku sulit untuk terbuka.
“Lo enggak apa-apa?” tanya seseorang yang wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Samar, aku melihat ujung bibirnya berdarah. Selebihnya, aku tidak bisa lagi memperhatikannya lebih dalam. Tiba-tiba, dia menggendongku. Aku hanya terpejam dan membiarkan orang ini membawaku. Bila memang ini akhirnya, aku ikhlas.