
Kepergian Juan.
Setelah selesai berbenah, Juan meyakin kan ibunya bahwa ia dan Aira akan baik-baik saja.
"Terima kasih ya bu, doa ibu selalu ada untuk ku. Ibu jangan khawatir apa pun yang terjadi antara aku dan Aira, tak akan merubah apa pun. Masih ada Putra yang harus aku cukupi segala kebutuhannya sampai Putra besar nanti, mudah-mudahan Aira bisa merubah semua keputusan dia," ucap Juan.
"Ibu harap kamu dan Aira masih berjodoh," ucap bu Ika penuh harapan dan di amin kan oleh Juan.
"Kamu hati-hati di sana ya, kalau ada apa-apa kabari ibu. Satu lagi, jangan sampai mengulang kesalahan yang sama," sambung bu Ika.
"Iya bu, aku janji ga akan mengulang kesalahan yang sama. Aku ga mau kehilangan Aira bu, apa lagi harus jauh dari Putra," jawab Juan.
Ibu Ika pun memeluk tubuh Juan untuk menguat kan hati anaknya yang sedang rapuh.
Sementara Aira mendatangi cafe dan atas kebaikan Gerry, akhirnya Aira bisa kembali bekerja sebagai waiters.
"Mulai besok kamu bisa kembali kerja di sini," ucap Garry.
"Serius nih, terima kasih ya Gerr atas kebaikannya. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan mu pada ku," ucap Aira kegirangan.
"Besok kamu masuk pagi aja, masih ingat kan tugas-tugasnya apa aja?" tanya Gerry.
"Siap bos, aku masih paham dengan tugas-tugas di cafe ini," jawab Aira dengan senyum lebar di bibirnya.
Aira pun pamit pulang dengan hati senang dan membawa kabar gembira untuk ibu dan anaknya Putra.
__ADS_1
Aira menaiki angkot menuju rumahnya karna itu lah kendaraan yang biasa Aira guna kan kemana pun Aira pergi.
Sesampainya di rumah, Aira segera mencari Putra tapi ternyata tidak ada di rumah.
"Bu," teriak Aira memanggil ibunya.
"Putra," teriak Aira
Aira mencari ke semua ruangan di rumahnya tapi Putra dan ibu tidak ada di rumah.
"Pada kemana ya?" gerutu Aira.
Aira duduk di kursi sambil memainkan ponselnya, saking asyiknya Aira tidak menyadari ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum Aira," ucap Juan.
"Walaikumsalam," jawab Aira sambil membukakan pintu.
"Eh, kamu Juan. Mau apa kamu ke sini?" tanya Aira ketus.
"Aku mau nengokin Putra. Putranya ada?" tanya Juan.
__ADS_1
"Putra lagi ga di rumah, lagi di bawa ibu pergi," jawab Aira ketus.
"Sekalian aku mau pamit, besok pagi aku mau pergi ke kota S. Aku pindah tugas ke sana, mungkin untuk waktu yang lama," ucap Juan.
Melihat Aira yang diam dan tak mau menjawab apa-apa semakin meyakinkan hati Juan bahwa keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang terbaik.
"Boleh aku nunggu sampai Putra datang? Sebelum aku pergi jauh dari kalian aku cuma ingin melihat kalian berdua," sambung Juan.
"Silahkan tapi tunggu di luar aja," jawab Aira.
"Aira, apa kamu masih menganggap ku suami mu? Apa kamu masih bisa merubah keputusan mu demi anak kita?" tanya Juan.
"Kamu tetap suami ku tapi pada saat kamu berduaan dengan wanita itu, apa merasa punya istri? Mungkin suatu saat aku bisa merubah semua keputusan ku tapi tidak untuk saat ini," jawab Aira.
"Sekali lagi aku minta maaf Aira atas semua kesalahan ku padamu, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Juan dengan kesungguhan hatinya.
"Dan perlu kamu tau, seminggu lalu aku sudah resign dari kantor dan HDR memberi tawaran bekerja di kantor cabang, aku ambil tawarannya karna aku masih punya tanggung jawab pada mu dan juga Putra," sambung Juan.
"Terus perempuan itu ikut pindah juga?" tanya Aira.
"Dia bahkan tidak tau kalau aku resign dari kantor apa lagi pindah ke kantor cabang," jawab Juan.
"Aku melakukan semua ini demi kamu dan Putra, aku ingin kita sama-sama lagi bukan kaya gini," sambung Juan.
Aira hanya terdiam mendengar semua penjelasan dari Juan.
__ADS_1
"Ingin rasanya aku menahannya pergi jauh tapi hati ini masih terluka karnanya," batin Aira.