
Tak sampai di hari itu rasa sakit yang di terima oleh Aira, perlakuan dari keluarga Juan kini terlihat jelas.
"Sayang tadi ibu telpon aku, katanya kita di suruh menginap di sana. Gimana kamu mau?" ucap Juan.
"Iya boleh," jawab Aira singkat.
Aira pun menyiap kan semua keperluan Putra selama menginap.
"Bu kita mau menginap dulu di rumah ibunya Juan," ucap Aira meminta izin ketika bertemu ibu di dapur.
"Iya, mereka pun sama sudah menjadi orang tua mu juga. Kamu pun harus menghormati mereka dan menyayangi mereka juga nak," ucap ibu.
"Iya bu," jawab Aira singkat.
Aira belum memberi tau siapa pun tentang kedekatan Juan dengan Amel karna Aira ingin membuktikan dulu kebenarannya.
Jadi ibu belum tau tentang apa pun yang terjadi di rumah tangga Aira dan Juan.
"Berangkat kapan nak," tanya ibu.
"Sore ini bu, ini tinggal berangkat," jawab Aira.
Aira dan Juan pamit untuk pergi ke rumah orang tua Juan dan pergi meninggal kan rumah Aira.
Sesampainya di rumah Juan, Aira di sambut oleh ibunya Juan dan langsung menggendong Putra.
"Cucu oma udah bisa apa ya?" tanya ibu Ika.
Putra hanya mengoceh ala-ala bayi karna sekarang usia Putra sudah menginjak 2 bulan.
__ADS_1
Setelah asyik bermain bersama oma, Putra pun nangis minta minum asi dari Aira.
Aira pun menyusui Putra di kamar Juan, tanpa sengaja Aira mendengar pembicaraan kakak dan adik Juan yang membicara kan penampilan Aira.
"Sabar Aira, nanti kamu bisa buktikan pada mereka kamu bisa lebih dari sekarang," batin Aira.
Aira menahan tangis dan memendam semua rasa di yang ada.
...***...
Pagi-pagi Aira sudah memandikan Putra dan menimang Putra di halaman rumah.
"Permisi mba, pak Dedinya ada?" ucap teman bapak.
"Ada. Sebentar saya panggil kan dulu ya pak," jawab Aira.
Aira mempersilah kan duduk di kursi yang ada di teras dan pergi ke dalam untuk memanggil kan bapak mertuanya.
Tak lama bapak pun keluar menemui tamu yang mencarinya, dan Aira di minta bapak membuat kan air minum untuk di suguh kan.
Tak sengaja Aira mendengar percakapan bapak mertua di luar saat Aira hendak menyaji kan minuman.
"Yang tadi tuh anaknya yang ke berapa pak?" tanya teman pak Dedi.
"Oh, bukan anak saya tuh yang laki-lakinya tapi yang di gendong itu cucu saya," jawab pak Dedi.
"Astaghfirullah jadi aku tidak di anggap anak di keluarga ini, kalau memang tidak setuju kenapa kita di nikah kan?" batin Aira.
Aira tak kuasa menahan tangis setelah menyajikan minuman untuk tamu pak Dedi, Aira segera pergi ke kamar Juan.
__ADS_1
Aira menangis tanpa suara karna takut membuat Putra terbangun.
"Semua orang sudah menyakiti ku, apa karna aku orang tak punya jadi mereka dengan sengaja menyakiti perasaan ku?" batin Aira.
Aira memandang wajah Putra dan menemukan kedamaian untuk hatinya.
"Nak kelak dewasa nanti kamu harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan mu, apa pun yang terjadi ibu akan selalu ada untuk mu nak. Tanpa ayah mu pun ibu mampu bertahan dan mencukupi semua kebutuhan mu," gerutu Aira sambil mengelus-elus rambut Putra.
Tak sampai di situ, rasa sakit yang di terima oleh Aira bertambah saat menemukan chat mesra di ponsel Juan.
Saat malam hari Juan sudah tertidur tapi Aira masih menyusui Putra, Aira melihat di ponsel Juan ada notif chat masuk.
[Sayang, kamu lagi apa?]
"Astaghfirullah, makin terang-terangan ya ni perempuan," batin Aira.
[Lagi diem aja, kenapa?] balas Aira.
[Aku kangen kamu sayang, bisa ketemu ga?]
Aira menetes kan air mata, betapa sakit di hatinya saat ini.
"Tega sekali kamu Juan," batin Aira.
[Maaf ya mba Juannya udah tidur tuh, ga malu ya cari suami orang malam-malam] balas Aira.
Aira menyimpan kembali ponsel Juan di atas nakas sebelah Juan.
"Besok aku harus coba bicara dengan Juan, tenang Aira kamu harus tetap tenang," batin Aira di ikuti tarikan nafas panjang.
__ADS_1