
"Aku ga janji ya, serapih apa pun rahasia ini aku simpan suatu saat jika Zaky besar pasti akan tau. Entah itu dari orang-orang terdekat atau bahkan dari orang luar sekali pun, aku pasti akan memberi tau kebenaran ini pada Zaky jika waktunya sudah tepat," ucap Aira.
Winda hanya tak ingin jika suatu saat Zaky tumbuh besar dan tau kenyataan yang sebenarnya bahwa Zaky hanya anak angkat dan tau Winda adalah ibu kandungnya, Winda takut Zaky membenci Winda karna sudah memberi kan Zaky pada Aira dan Juan.
"Mama harap suatu saat kamu akan mengerti dengan alasan yang mama punya saat ini dan jalan yang mama pilih adalah jalan terbaik untuk kita berdua nak, bukannya mama ga sayang sama kamu. Jujur hati kecil mama sakit saat mama harus memberi kan mu pada orang lain, yang bahkan mama pun tidak mengenalnya sama sekali. Semoga kamu bahagia selalu bersama orang tua baru mu dan semoga kamu ga pernah membenci mama nak. Tumbuh lah menjadi anak yang sholeh, penurut, pintar dan mandiri. Mama sayang sama kamu nak," batin Winda menangis sesaat sebelum Winda tertidur.
Kamar yang di tempati oleh Winda menjadi saksi bisu keluh kesah Winda selama tinggal di rumah Aira, rasa rindu terhadap keluarganya bahkan rasa marah pada lelaki yang sudah membuat Winda sengsara dan menanggung semuanya seorang diri. Rasa benci dan muak terhadap bapak kandung Zaky membuat Winda merasa trauma terhadap lelaki.
Melihat ibunya yang di sakiti oleh ayahnya dengan perselingkuhan yang di laku kan sang ayah, bahkan sampai menikah dan memiliki anak tanpa sepengetahuan ibunya. Dan sekarang Winda mengalami hal yang sama, walau pun tidak di khianati tapi ia merasa di kecewa kan karna sudah di paksa melaku kan hal yang telah di jaganya selama ini.
"Semoga kamu dapat karma dari semua ini, karna kamu udah buat aku menanggung derita ini sendirian. Menjalani kehamilan seorang diri tanpa ada yang tau, walau pun bukan dari tangan ku yang membalas kamu akan dapat balasan dari tangan orang lain," gerutu Winda dengan sumpah serapahnya.
Winda memang wanita yang kuat dan tegar tapi di balik semua itu ada hati yang begitu rapuh, menanggung semua penderitaan seorang diri tanpa mau berbagi dengan siapa pun meski dengan kakak atau sahabatnya sekali pun. Winda memang tertutup dengan masalah pribadinya.
...***...
Acara syukuran atas hadirnya Zaky di tengah-tengah keluarga Aira pun di gelar dengan mengundang anak-anak dari panti asuhan dan anak-anak yatim piatu di sekitar rumahnya.
__ADS_1
Kakak dan ipar dari Aira semua hadir begitu pun mertua dan sahabatnya Alycia datang untuk menjenguk Zaky dan membawa kado untuk Zaky.
Selesai acara, Aira memberi kan amplop yang sudah di isi uang pada setiap anak yang sudah datang untuk mendoa kan Zaky.
"Terima kasih ya semuanya sudah mendoa kan adek Zaky, semoga kalian sehat selalu dan bahagia selalu menyertai kalian semua," ucap Aira dan di amin kan oleh semua orang yang ada di dekat Aira.
Semua anak-anak pun pulang dari rumah Aira karna acara sudah selesai, tinggal lah Winda yang akan di wawancarai oleh mertua dan kakak-kakak Aira yang masih berkumpul.
"Tadi namanya siapa mba?" tanya pak Dedi.
"Nama saya Winda pak," jawab Winda penuh dengan rasa malu karna baru pertama kali bertemu dengan keluarga besar Aira dan Juan.
"Iya pak, saya bersyukur tidak salah orang. Saya menitip kan anak saya di sini pada mba Aira karna saya percaya mba Aira orangnya penyayang dan saya juga tau mba Aira menanti kan kehadiran seorang anak yang ke 2," ucap Winda dengan santai dan menimbang apa yang akan di kata kan pada keluarga Aira.
"Apa perlu kita buat surat perjanjian sebagai bukti legal adopsi?" tanya Ardy.
"Tidak usah kak, aku percaya pada Winda. Walau pun suatu saat Winda mau mengambil kembali Zaky, aku ga apa-apa karna Winda memang ibu kandung dari Zaky," ucap Aira saat keluar membawa Zaky ke tengah-tengah keluarga besarnya.
__ADS_1
"Ini untuk jaga-jaga aja dek," ucap Aira dengan Zaky di pangkuannya.
"Ga usah kak, aku juga ga mau kalau suatu saat nanti Zaky menemukan surat perjanjian itu dan mengetahui sebelum waktunya tiba. Aku ga mau merusak mental Zaky saat mengetahui hal ini," ucap Aira.
"Aku ga akan mengambil Zaky lagi kak karna aku ga bisa merawat Zaky, orang tua dan keluarga ku ga ada yang tau kalau aku hamil," ucap Winda dengan keyakinannya.
"Bukannya aku ga sayang sama anak ku sendiri tapi keadaan yang memaksa ku untuk berbuat seperti ini, ibu mana yang mau terpisah dengan anak yang sudah di kandungnya selama 9 bulan dan berjuang melahir kan dengan bertaruh nyawa hanya untuk melihat anaknya hadir ke dunia ini dan melihatnya tumbuh dewasa," sambung Winda setelah tidak ada lagi yang mau berbicara.
Semua orang terdiam mendengar apa yang di kata kan oleh Winda, Aira yang berada di dekat Winda mengerti apa yang Winda rasa kan karna setiap hari Winda bercerita tentang kehidupannya bersama keluarganya. Jadi Aira mengerti betul bagaimana perasaan Winda saat ini.
"Maaf kan kakak ku ya Winda kalau ada salah dalam ucapannya barusan, bukan maksudnya menyinggung perasaan mu," ucap Aira terus mengusap pundak Winda.
"Iya ga apa-apa mba, ada benarnya juga perlu jaga-jaga jika suatu saat aku mengambil Zaky dari mba Aira," ucap Winda sedikit menyindir perkataan Ardy.
"Aku percaya sama kamu, walau pun suatu saat nanti kamu mau ambil Zaky lagi itu juga hak kamu karna kamu ibu kandungnya. Aku hanya ibu pengganti untuk Zaky, aku ga perlu surat perjanjian di antara kita," ucap Aira.
"Terima kasih ya mba, mba Aira udah mau menampung aku selama aku hamil dan merawat anak ku untuk mba besar kan. Apa boleh kalau suatu saat aku mau bertemu dengan Zaky?" tanya Winda.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, kamu tinggal datang kemari. Aku ga akan menghalangi pertemuan antara ibu dan anak, aku dan Juan udah sepakat tentang hal ini," ucap Aira.
Obrolan terus berlangsung dengan pembahasan yang lain. Karna waktu sudah malam, Winda izin masuk ke kamarnya untuk beristirahat dan Aira pun melaku kan hal yang sama membawa Zaky ke kamarnya untuk beristirahat.