4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Pergi ke hotel


__ADS_3

"Tapi aku yang nggak yakin sekarang, OMG gimana nih," batin Arcelo dengan raut wajah yang sedikit berubah.


Arcelo menghela nafas, dia memegang kedua pundak Febri dan menatapnya.


"Feb, look at me! (lihat aku)," titah Arcelo.


Febri kini menatap Arcelo dengan lekat,


"Itu mahkota kamu lo, yang mungkin suatu saat akan dipertanyakan oleh suami kamu, yang mungkin juga akan ditanyakan oleh mertua kolot yang menginginkan darah perawan saat malam pertama," kata Arcelo


"Biar, aku nggak perduli dengan semua itu. Aku mencintai kamu Arcelo, aku ingin membuktikan cinta aku padamu dengan menyerahkan yang paling berharga dari diri aku," ucap Febri yang membuat Arcelo frustasi, dia menyesal kenapa harus meminta Febri tidur dengannya.


"Oh my God, Febri. Pikirkan lagi," sahut Arcelo dengan frustasi.


Celo membuang pandangannya sembarang, dia meletakkan tangan di mulutnya. Otaknya kini berfikir bagaimana supaya Febri merubah pikirannya.


"Kenapa kamu yang gugup Arcelo?" tanya Febri


"Enggak, aku nggak gugup sama sekali. Aku sering melakukan ini mana mungkin aku gugup," jawab Arcelo berbohong.


"Kalau begitu ayo kita ke hotel," ajak Febri


"Feb, aku bertanya sekali lagi padamu, kamu yakin?"tanya Arcelo


"Aku yakin Arcelo, aku sangat mencintai kamu," jawab Febri yang membuat Arcelo frustasi lagi dan lagi. "Aku ini pria brengsek yang nggak pantas mendapatkan malam pertama kamu, nggak pantas mendapatkan hal yang paling berharga dari kamu jadi jangan nekat, kamu masih bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari aku," jelas Arcelo namun masih tidak menggoyahkan keinginan Febri untuk tidur dengan Arcelo.


Mereka berdua akhirnya pergi ke hotel untuk check in.


**********


Malam ini, Arsen dan Airin berputar-putar mengelilingi kota, mereka ingin makan tapi bingung mau makan apa, akhirnya Airin mengajak Arsen makan bakso langganannya.


"Please deh sayang, kenapa makan di sini," kata Arsen nggak setuju.


"Kalau kamu nggak setuju ya udah aku nggak mau makan," ancam Airin

__ADS_1


"Iya iya," sahut Arsen pasrah.


"Kenapa dia yang mengancam aku," gumam Arsen yang membuat Airin tertawa.


"Sekali-kali mengancam tuan muda seperti kamu," sahut Airin lalu dia turun yang kemudian di susul Arsen.


Arsen dan Airin memesan dua mangkuk bakso campur, dan dua es jeruk. Tak berselang lama pelayan membawakan pesanan Arsen dan Airin.


"Hemmm, lama nggak makan bakso," kata Airin lalu mencicipi kuah baksonya.


"Biasa saja kali makannya, seperti lagi buat konten makan bakso saja, lebay!" sahut Arsen


"Kamu itu sirik sekali," timpal Airin.


Mereka berdua akhirnya makan dengan lahap terlebih Arsen yang nambah lagi satu mangkok.


"Dasar! nggak sinkron antara ucapan dan perbuatan," kata Airin yang membuat Arsen tertawa.


Seusai makan, Arsen mengeluarkan kartu debitnya.


"Ini mbak," kata Arsen menyodorkan kartu debit pada kasir.


"Astaaga, dunia semakin modern tapi kenapa kalian masih kuno saja," omel Arsen yang membuat Airin mencubit Arsen.


"Berapa mbak totalnya?" tanya Airin


"Tujuh puluh lima ribu mbak," jawab pelayan.


"What, tujuh puluh lima ribu. Murah sekali apa kalian nggak rugi menjual makanan enak dengan harga murah, seharusnya satu mangkok bakso itu harganya tiga ratus ribu," sahut Arsen tak terima dengan harga bakso yang menurutnya terlalu murah.


Pelayan dan Airin menatap Arsen dengan tatapan yang tak biasa.


Si pelayan heran, biasanya customer mengeluhkan dengan harga yang terlalu mahal namun berbeda dengan Arsen yang justru marah karena menurutnya harga baksonya terlalu murah.


"Ini mbak uangnya, ambil saja kembaliannya," kata Arsen lalu menggandeng Airin keluar.

__ADS_1


Airin yang kesal ingin rasanya menabok Arsen, bagaimana bisa dia bersikap seenaknya seperti ini.


"Arsen kamu itu apa-apaan sih, malu tau," kata Airin


"Ngapain malu, kan memang benar. Tujuh puluh lima ribu itu murah banget lo sayang, kita makan meat ball dua biji di restoran harganya sudah dua ratus ribu ke atas iya kan, la tadi tiga mangkok bakso komplit dan es jeruk harganya nggak sampai seratus ribu, mungkin inilah penyebab UMKM di negara ini kurang bisa maju," ujar Arsen panjang kali lebar.


"Kan memang UMKM pangsa pasarnya kaum menengah ke bawah Arsen, beda dengan restoran yang pangsa pasarnya kaum menengah ke atas, kalau UMKM memberikan harga yang tinggi jelas tidak akan laku dagangannya," jelas Airin yang membuat Arsen manggut-manggut.


Seusai makan, Arsen mengantar Airin ke apartemen dan pulang.


Arcelo dan Febri kini sudah sampai di sebuah hotel bintang lima, di kamar baik Febri dan Arcelo sama-sama diam. Mereka sama-sama bingung, harus memulai dari mana karena Arcelo sendiri belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.


"Arcelo biasanya kalau kamu tidur dengan wanita gimana?" tanya Febri


"Gimana ya?" jawab Arcelo bingung


"Jangan-jangan kamu nggak pernah?" tanya Febri


"Pernah kok, cuma wanita yang tidur dengan aku sama-sama brengseknya dengan aku, kalau kita saat ini kan berbeda, kamu wanita baik-baik jadi aku bingung harus mulai dari mana," jawab Arcelo berbohong.


Febri langsung saja memeluk Arcelo, dan ini membuat Arcelo gugup dan panas dingin.


"Brengsek kenapa aku jadi panas dingin dan takut begini?" batin Arcelo.


"Feb, tunggu tunggu. Aku mau ke kamar mandi dulu," ijin Arcelo


"Ok," balas Febri


Arcelo nampak mondar mandir di kamar mandi, dia bingung harus gimana ini, "Aku bilang saja kalau sebenarnya aku nggak pernah tidur dengan wanita," gumam Arcelo


"Aarrrgggg nanti aku dibilang Cemen." Arcelo bermonolog dengan dirinya sendiri.


Arcelo yang frustasi membasuh mukanya dengan air, dia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.


"Semangat Arcelo, jika memang sampai di sini kamu menjaga keperjakaan kamu, ya sudah lah," kata Arcelo lalu dia keluar.

__ADS_1


Betapa kagetnya Arcelo saat dia keluar dari kamar mandi, Febri sudah ada di depannya.


"Feb, apa yang kamu lakukan?"


__ADS_2