4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Diantar pulang Aaron


__ADS_3

"Astagfirullah, woy....!!!" teriak Arthur


Airin langsung mendorong tubuh Arsen dan segera bangun. Dia sungguh malu sekali dengan A4 meski nggak pertama kalinya terciuduk berciuman tapi Airin masih merasa malu.


"Kalian ini mengganggu saja," protes Arsen kesal karena dia belum puas menikmati bibir Airin yang menurutnya sangat manis dan kenyal.


"Bukan kami yang ganggu tapi kalian yang nggak tau sikon, tau sakit malah ciuman, ni juga si pesek tau Arsen sakit kok masih saja menggoda," omel Arthur lalu meletakkan parcel buah yang tadi dibelinya.


"Jaga bicara kamu Arthur, aku nggak goda Arsen," sahut Airin dengan melemparkan tatapan mautnya pada Arthur.


"Sudah, sudah. Pasti kalau bertemu seperti tom and Jerry, daripada bertengkar di sini nggak jelas lebih baik sana ikut casting tom and Jerry kasian pemainnya udah tua," maki Arcelo


Aaron hanya tertawa, ada benarnya juga perkataan Arcelo, tom and Jerry udah jarang nongol di layar kaca mungkin karena tom dan Jerry sudah tua jadi pensiun.


"Sinting," sahut Airin kesal


"Coba deh kita bayangkan," kata Arcelo yang membuat Aaron, Arsen dan dia sendiri membayangkan Tom and Jerry versi Airin dan Arthur.


Ketiga lelaki ini ngakak sendiri, sedangkan Airin dan Arthur berdecak kesal.


"Dasar teman laknat kalian, pasti ni otaknya traveling bayangin yang nggak-nggak," ucap Arthur dengan kesal.


Arthur yang kesal membuka parcel buah yang tadi dibelinya dengan Arcelo dan Aaron, dan ini membuat Arsen marah.


"Itu buah untuk aku kenapa kamu membukanya?" protes Arsen


"Minta satu, pelit amat," sahut Arthur santai lalu memasukkan jeruk ke dalam mulutnya.


Tak hanya Arthur, Arcelo dan Aaron juga mengambil buah milik Arsen.


"Kalian ini apa-apaan, nampak sekali kalau nggak...." belum sempat melanjutkan kata-katanya Aaron sudah memasukkan buah pisang ke dalam mulut Arsen.


"Lebih baik makan pisang daripada terus mengomel," kata Aaron yang membuat Airin tertawa.


"Ngapain sih kalian kesini?" tanya Arsen yang sudah menghabiskan pisang di mulutnya.


"Wah, parah ni anak. Kita daritadi nggak fokus kerja mikirin dia yang lagi sakit malah dia bilang ngapain kesini?" jawab Arcelo dengan menggelengkan kepalanya.


"Parah kamu Arsen, udah nggak anggap kita saudara ya," timpal Aaron


"Oh no Arsen, tega sekali kamu pada kami," ucap Arthur mendramatisir yang membuat Arsen muak.


"Astaga, lebay sekali kalian. Kalian itu my bestie lebih dari saudara," sahut Arsen.

__ADS_1


Mendengar perkataan Arcelo, Arthur dan juga Aaron seakan Arsen melupakan mereka hanya karenanya sehingga Airin yang merasa nggak enak beranjak dari tempatnya dan berniat pulang.


"Arsen sudah sore, aku pamit dulu," pamit Airin lalu mengambil tas dan kunci motornya yang dia letakkan di meja.


"Di luar hujan, lebih baik pulang nanti saja," sahut Aaron mencoba melarang Airin pulang. Namun Airin bersikukuh untuk pulang karena dia tidak ingin mengganggu quality time A4.


"Aku bawa mantel," timpal Airin.


"Sayang, kamu mau sakit sama seperti aku. Hujan gini nekat pulang," larang Arsen dengan marah.


"Ya nggak lah, tapi aku harus pulang. Kalau hujan gini rumah aku bocor semua," sahut Airin beralasana lalu dia bergegas keluar kamar Arsen.


Arsen nampak khawatir dan ini membuat Aaron menyusul Airin,


"Akan aku susul dia," kata Aaron lalu berlari keluar.


Melihat Aaron menyusul Airin membuat Arsen hendak menyusul juga tapi Arcelo dan Artur memegangi tangan Arsen.


"Mau kemana?" tanya Arthur


"Ngejar Airin lah," jawab Arsen kesal, cemburu sudah merasuk dalam diri Arsen.


"Udah ada Aaron, jadi nggak udah macem-macem. Kamu masih sakit." Arcelo memarahi Arsen karena ingin menyusul Airin padahal kondisinya masih belum fit.


Airin menghentikan langkahnya dan membuat Aaron bisa menyusulnya.


"Hujan lebat begini jangan pulang," cegah Aaron


"Tapi Aaron, aku harus pulang. Maaf jika karena aku membuat mengurangi waktu bersama kalian," ucap Airin tak enak.


"Jadi karena itu?" tanya Aaron


Arini mengangguk, dan Aaron tertawa. "Kami memang seperti itu, jangan dimasukkan ke dalam hati. Ayo kembali ke kamar," jawab Aaron yang kemudian mengajak Airin kembali ke atas.


Namun niat Airin sudah bulat, dia ingin nekat pulang selain hari sudah semakin gelap dia juga nggak enak dengan papa dan mama Arsen.


"Kalau kamu mau pulang biar aku antar," kata Aaron


"Eh jangan nanti bisa-bisa Arsen marah," timpal Airin


"Tunggu," pinta Aaron lalu kembali ke atas untuk minta ijin pada Arsen.


Aaron mengambil kunci mobil dan pamit pada Arsen.

__ADS_1


"Arsen, aku kasian dengan Airin yang hendak pulang sendiri, apalagi keadaan cuaca di luar sungguh tidak ramah sekali, petir dan angin serta hujan lebat jadi aku mau mengantarnya," ijin Aaron dengan menatap Arsen.


"Nggak boleh," sahut Arsen kesal.


Aaron yang juga kesal dengan sikap Arsen memberikan kuncinya pada Arsen, "Silahkan kamu yang antar, cewek kamu nekat pulang. Kalau kamu dia safety, antarlah," kata Aaron


Aaron memberikan kunci mobil pada Arsen, kemudian Arsen turun dari ranjang dan berjalan. Baru beberapa langkah pandangan Arsen mulai kabur, kepalanya berputar-putar dan Arsen segera menuju sofa lalu duduk, dia memegangi kepalanya yang pusing.


"Masih lemah sok sok an ngantar Airin, kita ini bestie, nggak mungkin Aaron macam2 sama Airin," kata Arthur kesal.


"Baiklah ini kunci mobilnya." Arsen menyodorkan kunci mobil pada Arthur.


"Nih Aaron, kalau aku malas sekali ngantar si pesek itu apalagi hujan seperti ini," kata Artur dengan menyodorkan kunci mobilnya pada Aaron.


Aaron segera mengambil kunci mobil lalu bergegas turun, saat di bawah dia sudah melihat Airin basah karena mengambil motornya.


"Anak ini cari masalah," gumam Aaron lalu mendekati Airin,


"Parkir kembali sepeda kamu," titah Aaron.


Airin segera memarkirkan kembali sepeda motornya kemudian ikut Aaron masuk ke dalam mobil.


"Kamu keras kepala sekali, lihatlah baju kamu basah, kalau kamu sakit gimana?" tanya Aaron dengan kesal, Arsen sudah sakit kini malah Airin cari masalah lagi.


"Nggak kok Aaron lagipula cuma kehujanan sedikit," jawab Airin berkilah.


"Sedikit bagaimana basah sekali gitu kok," protes Aaron.


Airin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan terkekeh. Kini mereka berdua pergi meninggalkan rumah Arsen.


Aaron melajukan kendaraannya dengan pelan, karena jarak pandang yang lumayan dekat.


Tak berselang lama akhirnya mereka sampai juga di rumah Airin.


Airin segera turun dan menyalakan lampu karena rumahnya gelap gulita, naasnya listrik ternyata padam seperti kemarin.


"Mati lampu," kata Aaron


"Iya," sahut Airin.


Tiba-tiba suara petir menyambar dan itu membuat Airin kaget serta takut yang dengan reflek membuatnya memeluk Aaron.


"Aaron,"

__ADS_1


__ADS_2