4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Lagi-lagi


__ADS_3

Saat hendak kembali ke kamarnya nampak Arsen berdiri di depan kamar, dari kejauhan Arsen nampak menatap Airin dengan tatapan mautnya sehingga membuat Airin sedikit takut namun Airin mencoba untuk tenang.


Setelah sampai di depan pintu kamarnya Arsen langsung saja meletakkan kedua tangannya di pundak Airin.


"Dari banyaknya pria kenapa harus Aaron hah! dia itu saudara aku," kata Arsen dengan nada yang tinggi.


Airin yang takut segera melepaskan diri dari Arsen dan masuk kamar dan namun saat dia hendak menutup pintu dia kalah cepat dengan Arsen, dan kini Arsen masuk ke dalam kamar Airin.


Arsen mengunci pintu sehingga membuat Airin takut.


"Duh si Febri kenapa nggak ada sih," batin Airin dengan memundurkan langkahnya dan kini badannya membentur dinding dan segera mungkin Arsen menghampirinya.


Kini Arsen berhasil mengunci tubuh Airin, terlihat dia sangat marah. "Kenapa harus Aaron?" tanya Arsen lagi yang membuat Airin memucat.


"Apa maksud kamu Arsen?" tanya Airin balik yang membuat Arsen tertawa


"Jangan pura-pura bego, aku tau kamu suka dengan Aaron kan?" kata Arsen dengan penekanan di akhir kalimat.


"Kalau iya kenapa? masalahnya dimana!" kata Airin dengan sedikit ngegas yang membuat Arsen mencengkeram pipinya


"Aku benci dikhianati apalagi kamu mengkhianati aku dengan saudaraku sendiri," kata Arsen lalu mencium bibir Airin, tak hanya bibir dia juga menciumi leher Airin, Airin meronta namun tenaga Arsen sangat besar sehingga tenaga Airin yang kecil kurang mampu melawan Arsen.


"Arsen lepas," pinta Airin dengan menangis.


"Nggak, aku harus memberimu pelajaran karena berani menghianati aku," kata Arsen lalu menikmati leher Airin lagi.


Arsen menghisap kuat kulit leher Airin hingga nampak warna merah-merah di leher Airin.


"Arsen lepas, please," pinta Airin lagi.


Arsen tengah bersemangat menikmati bibir dan leher Airin hingga Airin mengiba tidak dia lepaskan.


Setalah puas Arsen baru melepaskannya.


Plak


Sebuah tepukan mendarat sempurna di pipi Arsen.


"Apa begini cara kamu memperlakukan wanita Arsen!" maki Airin dengan mengusap air matanya.


"Dengar! meskipun di dunia ini hanya kamu lelaki yang tersisa namun aku tidak akan menyukai kamu apalagi mengejar kamu," imbuh Airin.


Arsen menatap Airin dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku tidak tau cara memperlakukan wanita itu bagaimana karena aku memang tidak pernah dekat wanita, jadi Please Airin jangan khianati aku dengan Aaron," pinta Arsen dengan lirih.


"Kamu sinting ya Arsen, Memangnya sejak kapan kita jadian, aku tidak pernah suka padamu," sahut Airin yang membuat Arsen kesal.


Memang sikap Arsen sudah ditebak,


"Apa maksudmu kamu tidak suka, kamu pokoknya harus suka," paksa Arsen.

__ADS_1


"Dasar laki-laki sinting tak berotak, bisa-bisanya memaksakan kehendak padaku," kata Airin.


"Memang harus seperti itu," sahut Arsen.


"Tapi aku tidak tertarik padamu," ucap Airin


"Karena Aaron?" tanya Arsen berteriak


"Dengan sikapmu yang seenaknya seperti ini bagaimana bisa aku menyukaimu. Kamu selalu marah-marah, kamu bersikap semau kamu, siapa pun nggak kan ada yang menyukaimu Arsen," ungkap Airin dengan mengelus dadanya.


Arsen terpaku, sakit hatinya mendengar kata-kata Airin, semua cewek di kampus sangat ingin dekat dengannya namun Airin malah menolaknya. Arsen yang merasa bersalah memeluk Airin, "Apa sih mau kamu Arsen," kata Airin yang mencoba melepas pelukan Arsen.


"Maafkan aku," ucapnya


"Percuma, kamu akan mengulangi kesalahan yang sama terus menerus," sahut Airin.


Airin mendorong tubuh Arsen, lalu dia pergi duduk di tempat tidurnya, kamar Airin hanya ada tempat tidur berbeda dengan kamar Arsen yang lengkap fasilitas.


"Airin apa jika aku bersikap manis seperti Aaron, kamu akan menyukaiku?" tanya Arsen


"Tergantung kalau itu," jawab Arini asal.


Arsen ingin menyusul Airin duduk di tempat tidurnya namun terdengar pintu kamar diketuk sehingga Airin beranjak dan membukakan pintu.


"Ngapain saja sih Rin, daritadi aku berteriak namun tidak dibukakan," maki Febri lalu masuk ke dalam kamar.


Tiba-tiba langkahnya berhenti saat melihat Arsen bersanding di dinding.


"Tuan muda Arsen," katanya


"Apa yang kalian lakukan Rin?" tanya Febri dengan tatapan yang tak biasa.


"Jangan salah sangka Feb, kami nggak ngapa-ngapain," jawab Airin.


"Karena ada teman kamu kita lanjut di kamar aku," kata Arsen lalu menarik Airin keluar.


Airin mencoba melepas tangan Arsen namun Arsen tidak ingin melepaskan tangannya.


"Menurut saja," kata Arsen.


Saat Arsen menyeret tangan Airin banyak mata yang memandangnya, tentu banyak teman-teman Airin yang iri.


"Mau dibawa kemana tuh si Airin," kata Wanda


"Entahlah, mungkin mau dibuang ke laut si Airin," sahut lainnya.


"Kalau dilihat dari arahnya bukannya itu menuju kamar tamu ekslusif," timpal lainnya.


Wanda dan gengnya saling pandang, "Jangan-jangan, OMG," kata mereka barengan.


**************

__ADS_1


Beberapa hari kemudian mereka sudah sampai kembali ke kota mereka.


Airin merasa tidak enak badan memutuskan untuk tidak masuk dan itu membuat Arsen cemas.


"Wanita sekuat baja itu bisa sakit rupanya," kata Arcelo


"Sakit apa?" tanya Aaron


"Katanya kelelahan," jawab Arthur.


Arsen hanya diam, lalu dia pergi menemui Febri untuk bertanya dimana alamat Airin.


"Hey teman Airin, kamu tahu alamat Airin?" tanya Arsen


Febri nampak gugup, ini pertama kalinya Arsen bertanya padanya.


"Woy! ditanya malah bengong," maki Arsen yang membuat Febri tersentak.


"Airin tinggal di perumahan x block C1," jawab Febri.


Setelah mendapatkan informasi Arsen pergi ke rumah Airin secara diam-diam tanpa memberitahu A4 lainnya.


Airin dan ibunya kebetulan mengobrol di teras rumahnya, dan betapa kagetnya mereka ada mobil mewah berhenti di depan rumahnya.


"Aku seperti kenal mobil itu," batin Airin


Dan benar saja betapa terkejutnya dia kalau yang keluar dari mobil adalah Arsen dengan kacamata hitamnya.


"Airin, bukannya itu tuan muda Arsen?" tanya bundanya.


"Iya Bun, kenapa dia kemari ya," jawab Airin heran.


Airin segera keluar dan menemui Arsen.


"Arsen kamu ngapain kesini?" tanya Airin


"Menjenguk kamu lah memangnya ngapain lagi," jawab Arsen lalu dia masuk.


Arsen nampak tersenyum dengan ibunda Airin, "Halo ibu kantin," sapa Arsen.


Ya begitulah Arsen memanggil ibunda Airin, karena memang sebelumnya ibunda Airin memang berjualan di kampus.


"Halo tuan muda Arsen, ada keperluan apa sowan di rumah ibu?" tanya Ibunda Airin


"Menjenguk Airin, katanya dia sakit," jawab Arsen.


"Oalah, ini sudah baikan kok, besok mungkin sudah masuk sekolah," sahut Ibu.


Ibu pun pamit untuk membuatkan Arsen minum, dia juga rencananya menyiapkan makanan untuk Arsen.


Bagi ibunda Airin, Arsen adalah tamu kehormatannya.

__ADS_1


Bola mata Arsen berkeliling menatap pojok rumah Airin.


"Rumah kamu kecil sekali, bahkan kamar aku lebih besar dari rumah kamu," kata Arsen yang cukup mampu membuat Airin menghela nafas.


__ADS_2