
"Oh ya kalian pulang dulu saja, aku ada urusan mendadak," kata Arcelo lalu bergegas kembali masuk ke dalam mall.
"Urusan apa dia?" tanya Arthur
"Entahlah, ayo kita pulang," jawab Aaron.
Awalnya ingin pulang tapi Arsen mengajak Arthur dan Aaron pergi ke apartemen, dia ingin memberikan dress untuk Airin.
"Ini apa Arsen?" tanya Airin
"Buka saja," jawab Arsen.
Airin membuka paper bag yang dibawa Arsen, dia melihat dress indah warna hitam.
"Bagus sekali Arsen," kata Airin
"Iya lah bagus, aku yang memilihkan," sahut Arsen
"Alah, kalau nggak dibantu Aaron kamu pasti salah membelikan dress," timpal Arthur.
Airin mencibirkan bibir, lalu dia melihat struk pembayaran yang lupa tidak dibuang.
"What! harganya semahal ini?" teriak Airin.
"Kenapa sayang?" tanya Arsen
"Harganya mahal sekali Arsen, ini terlalu mewah untuk aku. Mending kamu hadiahkan untuk tante Arini saja," jawab Airin lalu menyodorkan lagi dress serta paper bag nya
"Mama mana muat baju ini, lagian kamu itu nggak menghargai banget sih, aku dan kawan-kawan bersusah payah membeli baju ini tapi kamu malah menolak," gerutu Arsen
"Bukan seperti itu Arsen," ucap Airin
"Kalau nggak mau ya sudah, buang sana atau buat lap," sahut Arsen dengan marah.
Aaron hanya tersenyum, ya begitulah Airin dia tidak suka dengan barang mewah. Kesederhanaan Airin inilah yang membuat Aaron dan Arsen suka padanya.
Melihat Arsen yang merajuk membuat Airin, Arthur dan Aaron saling pandang.
Aaron dan Arthur mengangkat bahu mereka, yang artinya mereka nggak tau dan nggak ingin tau.
Arthur mengajak Aaron untuk ke ruang tengah, dia ingin melihat televisi dari pada nggak ngapa-ngapain.
Arsen merebahkan dirinya di sofa, dia memejamkan mata untuk meredakan amarahnya.
Airin perlahan mendekati Arsen di sofa, "Arsen maafkan aku," kata Airin
Arsen hanya diam tanpa menyahut kata-kata Airin, "Iya-iya Arsen, makasih udah membelikan aku dress indah ini," bujuk Airin
"Cuma makasih aja nih," sahut Arsen
"Memangnya kamu minta apa?" tanya Airin
Arsen menunjuk bibirnya yang tandanya dia meminta ciuman.
Tanpa aba-aba Airin langsung saja mencium Arsen, dan tak sengaja Aaron melihat adegan dewasa Airin dan Arsen.
"Kalian membuat aku iri," gumam Aaron lalu kembali lagi ke ruang tengah.
__ADS_1
Di sisi lain, Arcelo mencoba menghubungi Febri namun tidak Febri angkat.
Arcelo mencoba lagi dan Febri pun mengangkatnya.
"Feb," kata Arcelo
Di tempatnya Febri yang tau kalau itu Arcelo jadi membatu, mimpi apa dia semalam hingga Arcelo menghubunginya.
"Halo, Feb," kata Arcelo lagi
Kakak sepupu Febri yang kebetulan ada di dekat Febri pun menepuk pundak Febri.
"Kamu kenapa?" tanya kakak sepupu Febri.
Febri yang baru sadar segera menyahut Arcelo
"Iya Arcelo," sahut Febri
"Aku ganggu ya?" tanya Arcelo yang merasa gak nyaman karena mendengar suara pria.
"Nggak kok, ada apa?" jawab dan tanya Febri
"Bisa kita bertemu sekarang?" tanya Arcelo
Lagi-lagi Febri membatu, tumben Arcelo meminta untuk bertemu.
"Feb, kalau kamu nggak bisa ya nggak apa-apa," ucap Arcelo
"Eh bisa bisa, bertemu dimana?" tanya Febri.
"Ok," sahut Febri.
Tut Tut Tut, panggilan pun berakhir.
Febri yang masih sangat mencintai Arcelo sungguh sangat senang karena Arcelo memintanya untuk bertemu.
Kini Febri segera berangkat ke kafe, dia berdandan secantik mungkin untuk menemui Arcelo.
"Aku kok nervous ya," gumam Febri lalu masuk dalam cafe.
Bola mata Febri memutar dia mencari keberadaan Arcelo dan tak jauh dari sana Arcelo sudah menunggunya.
"Maaf Arcelo aku telat," kata Febri
"Nggak kok, aku juga baru sampai," sahut Arcelo
"Ada apa?" tanya Febri
"Ini," kata Arcelo lalu menyodorkan paper bag yang berisi dress.
Febri menerimanya lalu membuka paper bag dari Arcelo.
"Serius ini buat aku," kata Febri
"Iya," Arcelo
Febri sangat senang, begitu pula dengan Arcelo.
__ADS_1
Mereka berdua mengobrol kesana kemari, sehingga lupa waktu, dan tak terasa hari sudah gelap.
"Maaf Arcelo aku harus pulang," pamit Febri
"Iya, aku juga," kata Arcelo lalu mereka berdua memutuskan untuk pulang dengan kendaraan masing-masing.
***********
Hari ini beberapa murid B.A university menghadiri pesta Raisa, termasuk A4.
Airin berangkat bersama Febri, sedangkan Arsen berangkat dengan orang tuanya dan A3 berangkat bareng.
Airin melihat Arsen bercanda gurau dengan Raisa dan juga orang tuanya.
Sedangkan Arthur, Arcelo dan juga Aaron mengobrol dengan cewek cantik yang datang, bisa dibilang sekelas lah dengan mereka.
"Rin, orang miskin seperti kita nggak dilirik sama sekali, lalu untuk apa kita diundang, dari awal kita masuk kita nggak disambut sama sekali berbeda dengan yang lainnya, bahkan A4 melupakan kita," kata Febri
"Benar Feb, kelihatannya pesta ini nggak cocok untuk kita, bahkan Arsen juga asik bersama Raisa dan orang tuanya," sahut Airin
Sudah satu jam, tapi kita seolah nggak dianggap. Lihatlah Raisa yang mengadakan pesta juga nggak mengabaikan kita padahal daritadi dia melihat kita Lo," timpal Febri.
"Lebih baik kita pulang yuk Feb," ajak Airin.
Febri melihat Arcelo sekilas, nampak dia menggoda wanita cantik dan ini cukup membuat Febri sakit hati.
"Kemarin kamu membuat aku terbang ke awan dengan hadiah dress, tapi kini kamu seolah melempar tubuhku dari ketinggian ribuan kaki, yang lagi-lagi aku merasa sakit karena terabaikan. Apa mau kamu Arcelo," batin Febri dengan menitikkan air matanya.
Sebelum pergi Airin melihat Arsen sekilas nampak tangan Raisa bergelayut di tangan Arsen.
Airin pun tersenyum ketir, "Untuk apa aku kamu undang Raisa, dan untuk apa aku kamu belikan dress ini Arsen," batin Airin lalu keluar dari rumah Raisa.
Febri dan Airin berjalan dan duduk di bangku yang berada di depan rumah Raisa.
"Rin, kamu ingin di sini apa mau pulang?" tanya Febri
"Aku di sini dulu Feb," jawab Airin
"Ya sudah aku pulang dulu ya," pamit Febri
"Iya, hati-hati ya," sahut Airin.
Airin menatap langit, dia melihat banyak bintang bersinar terang.
"Kamu, dan teman-teman kamu itu ibarat bintang yang bersinar di langit, mustahil untuk aku gapai. Sikap manis itu hanya fatamorgana yang kenyataannya itu nggak pernah ada, mungkin sebaiknya aku nggak terlalu berharap sama kamu Arsen," gumam Airin.
"Memang, nggak sepatutnya kita berharap pada manusia, karena kekecewaan yang akan kita dapat," sahut Aaron lalu ikut duduk di samping Airin.
Airin menoleh
"Eh Aaron," sapa Airin
"Kenapa nggak masuk?" tanya Aaron
"Pesta ini untuk kalian para bintang bukan untuk pungguk seperti aku," jawab Airin.
Mendengar jawaban Airin membuat Aaron tertawa.
__ADS_1