4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
terlambat pulang.


__ADS_3

Setelahnya Airin dan Arsen menyuruh orang untuk memasukkan berang belanjaan mereka ke taxi online.


"Kenapa nggak kita masukkan sendiri sih Arsen," kata Airin


"Jangan nanti kita kelelahan," sahut Arsen.


Airin nampak melihat Arsen, dia tersenyum melihat pria yang selama ini dia benci.


Arsen sebenarnya tau kalau Airin menatapnya namun dia pura-pura nggak tau.


Arsen tersenyum senang, hingga barang semua masuk mobil namun Airin masih saja menatap Arsen dengan tersenyum.


"Aku ini sadar dan paham betul kalau wajahku tampan sehingga wanita yang melihatku akan kecanduan dan ingin menatapnya terus," kata Arsen yang sontak membuat Airin berdecak kesal.


"Siapa juga yang ngeliatin kamu," kilah Airin.


"Sudah ketangkap basah masih saja mengelak," timpal Arsen dengan tertawa yang membuat Airin semakin kesal.


Taxi online sudah berjalan terlebih dahulu kemudian Arsen membuka pintu mobilnya dan masuk. Airin segera menyusulnya dengan rasa kesal.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di rumah Airin.


Ibunda Airin sungguh kaget ada taxi online yang datang dan menurunkan belanjaan segitu banyaknya.


"Ini kamu yang belanja?" tanya bunda Airin.


"Iya bunda, jadi bunda nggak perlu belanja lagi," jawab Arsen.


Arsen sungguh paus melihat ibunda Airin bahagia, entah mengapa dia ingin selalu seperti ini.

__ADS_1


Karena sudah malam Arsen pamit untuk undur diri.


Arsen memeluk ibunda Airin dan juga Airin, Ibunda Airin dan Airin sungguh bingung dengan tingkah Arsen yang diluar nalar tersebut.


Di rumah Arsen nampak A4 lainnya sudah menunggu, mereka cemas dengan Arsen yang tiba-tiba menghilang dari kampus dan belum pulang.


Papa Sean dan mama Airin juga ikut menunggui di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian Arsen pulang dengan wajah yang berseri-seri.


"Malam Guys, malam pa, ma," sapa Arsen dengan bahagia.


Meraka semua yang ada di situ saling tatap, lalu Arsen mendekati mamanya lalu berjongkok di hadapan mamanya. Dia mengelus perut mamanya yang sudah nampak buncit.


"Halo adik, gimana di sana? pasti gelap ya. Dulu Kaka Arsen saat di sana juga gelap," kata Arsen yang lagi-lagi membuat mereka saling tatap.


"Oh ya, pasti papa sering jenguk kamu ya," seloroh Arsen yang membuat semua tertawa.


"Kamu kesambet dari mana Arsen?" tanya papa


"Kesambet gimana sih pa, kalau Arsen angkuh cuek papa dan mama marah sekarang Arsen mencoba ramah papa dan mama protes, maunya apa sih," jawab Arsen kesal.


Mama dan papa Arsen hanya tertawa namun mereka senang jika Arsen bersikap seperti ini lebih ramah.


"Heran saja Arsen," sahut A4 lainnya.


"Kamu dari mana sehingga baru pulang?" tanya Aaron.


"Ada deh, kepo aja kamu," jawab Arsen.

__ADS_1


Papa Sean yang pamit undur diri sebentar, karena dia mendapatkan panggilan dari rekan bisnisnya.


"Memangnya dari mana?" tanya mamanya


"Mama juga kepo ya," goda Arsen yang membuat mamanya kesal.


"Sama mama nggak ada rahasia-rahasia, cepat katakan!" titah mama Arini


"Teman Arsen ada yang sakit ma, jadi Sean menjenguknya," jawab Arsen


"Teman siapa?" tanya Arcelo


"Siapa lagi kalau bukan si pesek itu yang tingginya semampai," jawab Arthur dengan tertawa.


Mama Airin nampak curiga, dia bertanya menyelidiki pada Arsen.


"Siapa dia?" tanya mama Arini.


"Teman Arsen ma," jawab Arsen dengan melirik ketiga temannya supaya menolongnya.


Saat bersamaan datanglah papa Sean, dia nampak kesal dan ini membuat semua bertanya-tanya.


"Lebih baik kita pulang, bisanya kalau Om Sean nampak sekal seperti dia sedang tidak baik-baik saja.


"Iya betul ayo," sahut Arcelo.


Mereka bertiga pamit pulang, mereka akan pergi ke tempat nongkrong mereka tanpa Arsen.


"Woy tunggu aku," teriak Arsen.

__ADS_1


"Kamu di rumah saja, papa mau bertanya sesuatu padamu," kata Papa Sean.


__ADS_2