4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Di tengok warga


__ADS_3

"Aaron," teriak Airin


Airin memeluk Aaron dengan erat, "Kenapa?" tanya Aaron dengan raut wajah yang khawatir.


"Aku takut petir," jawab Airin yang semakin mengerutkan pelukannya pada Aaron.


Aaron mencoba melerai pelukan Airin, dia tidak ingin ada salah paham lagi, meski dia ingin sekali membalas pelukan Airin.


Semenjak Arsen semakin dekat dengan Airin, perasaan Aaron terhadap Airin semakin jelas, perlahan Keira tersisih dari hati Aaron.


Dia paham betul, kalau cinta itu tak harus memiliki dan tidak bisa dipaksa.


"Trus bagaimana kalau aku pulang?" tanya Aaron


Airin menggelengkan kepala, dia juga tidak tau bagaimana nasibnya setelah Aaron pulang.


"Maaf kalau aku nggak segera kembali Arsen pasti marah, tau sendiri Arsen kalau marah," kata Aaron mengingatkan Airin.


Aaron membalikan badannya dan hendak keluar, lalu dia menoleh


"Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri?" tanya Aaron


"Nggak apa-apa kok," jawab Airin.


Sebenarnya Airin sendiri takut sendirian, tapi daripada Arsen salah paham lagi dengan Aaron lebih baik dia memberanikan diri, Airin mencoba mensiasati fobianya dengan menyumpal telinganya dengan headset.


Aaron kini sudah pergi, Airin bergegas mencari lilin dan menyalakannya.


Meskipun tertutup headset tapi suara petir masih bisa didengar bahkan getaran kaca masih bisa Airin rasakan.


Tiba-tiba pandangan Airin jadi kabur dan dia jatuh pingsan.


Di dalam mobilnya Aaron jadi galau, dia sungguh kepikiran Airin. Karena tidak tega dan cemas Aaron memutar mobilnya kembali dan sesampainya di rumah Airin dia segera masuk dan memanggil manggil Airin, tak ada sautan Aaron masuk ke ruang tengah dan betapa kagetnya Aaron, Airin sudah tergeletak di lantai.


"Airin, Airin," panggil Aaron sambil menepuk nepuk pipi Airin, namun Airin masih setia dengan tidurnya.


Aaron segera membawa Airin ke kamarnya, tak lupa dia menghubungi Arsen, bilang kalau Airin pingsan jadi belum bisa kembali.


Tentu Arsen seperti ayam yang kehilangan anaknya, dia ingin menyusul tapi Arthur dan Arcelo melarang Arsen, mereka bilang Aaron akan mengurus Airin.


Arsen yang tubuhnya memang kurang fit hanya bisa pasrah meskipun cemburu tapi Arsen mencoba untuk menghalau pikiran negatif negatif yang ada.

__ADS_1


Aaron mencari minyak angin atau Minyak kayu putih di kamar Airin, namun tidak menemukannya sehingga Aaron menggosok tangan Airin dan benar saja Airin langsung bangun.


"Aaron," teriak Airin lalu dia memeluk Aaron dengan erat.


"Aku takut," kata Airin lagi.


"Ada aku," hibur Aaron lalu dia membalas pelukan Airin.


Aaron yang merasakan kalau tubuh Airin panas pun melerai pelukannya kemudian mengecek dahi Airin dan benar suhunya tinggi sekali.


"Kamu demam?" tanya Aaron dengan panik


"Iya, sepertinya," jawab Airin.


"Lebih baik kita ke rumah sakit Airin," kata Aaron


"Nggak mau, lagian demam biasa ngapain harus ke rumah sakit,' sahut Airin menolak ajakan Aaron.


Aaron terus memaksa namun Airin bersikeras untuk tidak ke rumah sakit, sehingga mau nggak mau Aaron menuruti Airin. Dia menyuruh Airin berbaring lalu Aaron duduk di tepi ranjang Airin.


Mereka berdua nampak saling diam, kemudian Aaron meminta waslap pada Airin dan mengambil wadah diisi air. Aaron mengompres Airin dengan air dingin.


"Kamu kok ngomel sih Aaron seperti Arsen saja," sahut Airin.


"Sekali-kali harus aku marahi," timpal Aaron.


Airin terdiam kini, ternyata Aaron kalau marah menakutkan juga.


"Kamu nggak makan?" tanya Aaron melerai keheningan diantara mereka.


"Malas Aaron," jawab Airin


"Tapi kamu harus makan," kata Aaron


"Dia kok seperti Arsen sih," batin Airin dengan menatap wajah Aaron.


Aaron pun memesan makanan lewat online, beberapa saat kemudian kurir datang dengan membawa makanan mereka, melihat kurir yang kehujanan, Aaron memberi tips lebih pada kurir.


Aaron menyuapi Airin dengan telaten, dan ini membuat Airin nggak enak pada Aaron dan juga merasa bersalah pada Arsen.


"Maafkan aku Arsen," batin Airin.

__ADS_1


Setelah makanan habis, Aaron menyuruh Airin untuk minum obat kemudian tidur, karena dia akan menunggu Airin di luar.


"Ya sudah tidurlah, aku tunggu di luar jadi jangan takut lagi," kata Aaron


"Iya, jangan pergi ya," pinta Airin.


"Nggak, aku akan menemani kamu," sahut Aaron.


Aaron yang lelah terlelap di sofa ruang tamu, dengan pintu yang masih terbuka.


Airin yang pikirannya kemana-mana tidak bisa memejamkan matanya meskipun dia sudah minum obat. Dia beranjak dari tempat tidurnya lalu melihat Aaron, nampak Aaron meringkuk di sofa karena tingginya masih ikut tinggi orang bule jadi sofa yang cukup panjang nggak mampu menampung tinggi Aaron seluruhnya.


Airin mendekat dia menatap wajah orang yang pernah di hatinya dulu.


"Sama seperti dulu," gumam Airin


Puas menatap wajah Aaron dia kembali ke kamar dan mengambil selimut untuk menyelimuti Aaron supaya tidak kedinginan.


Airin kembali lagi ke kamarnya, tak berselang lama hujan reda dan listrik pun menyala.


Airin dan Aaron yang sudah nyenyak tidak sadar kalau listrik sudah menyala.


Satu jam kemudian, warga yang mendapat jatah ronda berkeliling memastikan komplek mereka aman apalagi habis mati lampu, saat melewati rumah Airin mereka melihat pintu rumah Airin terbuka, salah satu dari mereka mencoba memperingatkan, siapa tau penghuni rumahnya lupa tidak mengunci pintu.


"Permisi," teriak salah satu warga sambil mengetuk kaca jendela


Aaron yang mendengar teriakan warga terbangun dan bergegas melihat luar.


"Ada apa? tanya Aaron


"Ini pintu lupa nggak ditutup takutnya ada maling atau hewan masuk," jawab warga.


Warga yang menunggu di jalan ikut memasuki halaman rumah Airin.


"Anda siapa? kami nampak asing dengan anda?" tanya warga yang memang nampak asing dengan wajah Aaron apalagi wajah Aaron berbau bule.


"Saya teman Airin," jawab Aaron dengan santai.


Ya begitulah Aaron selalu santai saat ada apa-apa.


Warga pun saling pandang satu dengan yang lainnya, heran kenapa teman lawan jenis Airin bisa berada dalam rumah Airin.

__ADS_1


__ADS_2