4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Jadikan dia sekertaris pribadi Arsen pa


__ADS_3

Airin yang baru sampai di rumahnya kaget karena melihat banyak sekali makanan yang sudah berjejer rapi di meja yang terletak di teras.


"Ini pasti dari Arsen," gumam Airin dengan tersenyum.


Airin memarkirkan motonya lalu melihat makanan yang dikirim Arsen. Dia membuka satu-satu isi makanan yang ada di dalam styrofoam putih.


"Wah, makannya enak-enak sekali," kata Airin lalu menutup kembali dan membawa masuk semua makanan yang ada di meja terasnya.


Karena sudah lapar Airin langsung saja melahap separuh makanan yang dibelikan Arsen tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.


Dua bungkus makanan telah ludes dan kini Airin sangat kekenyangan.


"Kenyang sekali, jadi ngantuk deh," kata Airin.


Seusai makan Airin langsung masuk ke dalam kamar dan istirahat, dan dia lupa tidak menutup pintu rumahnya.


Waktu terus berjalan, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, kini waktunya untuk pulang bagi Arsen tak hanya Arsen saja, semua yang bekerja di kantor B.A grup bisa meninggalkan gedung saat ini.


"Arcelo jangan lupa tulis semua jadwal meeting untuk besok," kata Arsen lalu membereskan mejanya.


"Siap bos," sahut Arcelo lalu ikut membantu memberesi berkas-berkas yang berada di atas meja Arsen.


"Hey Arsen pulang sama papa ya, Arcelo biar pulang dengan om Nick," ucap papa Sean.


"Woke pa," timpal Arsen dengan menaikkan ibu jarinya.


Kini mereka berempat turun untuk pulang. Papa Nick pulang dengan Arcelo sedangkan papa Sean pulang dengan Arsen.


"Arsen kamu yang menyetir ya," pinta papa Arsen


"Papa saja ya, pikiran Arsen nggak fokus saat ini," tolak Arsen dengan terkekeh.


"Memangnya pikiran kamu kemana?" tanya Papa Sean


"Hehe ya ke Airin pa," jawab Arsen dengan terkekeh.


Akhirnya Papa Sean yang menyetir sedang Arsen duduk di samping papanya.


Suasana hening terjadi di antara mereka, Arsen sedari tadi memainkan ponselnya hingga pertanyaan papa Sean membuat Arsen kaget.


"Apa sikap kamu yang rajin tadi memiliki nilai tukar sesuatu yang ingin kamu ajukan Arsen?" tanya Papa Sean.


Arsen hanya terkekeh, papanya sungguh ajaib sekali bisa tau apa yang Arsen pikirkan.


"Begini pa, kan ayah Airin mengalami kecelakaan saat bekerja, sehingga bunda Airin menyusul ayahnya di kepulauan yang letaknya jauh dari kota kita," kata Arsen dengan menjeda kalimatnya


"Lalu?" tanya papa sean lagi

__ADS_1


"Apa boleh pa, Airin kerja dengan Arsen," jawab Arsen


"Karena Airin itu nggak mau kalau Arsen menolongnya dengan cuma-cuma pa," imbuh Arsen


Papa Arsen nampak tersenyum dengan permintaan anaknya, meski saat itu dia sudah menjelaskan alasan Airin tidak bisa bekerja di kantornya nampaknya tidak membuat Arsen berhenti meminta pada papanya.


"Kapan hari kan papa sudah menjelaskan Arsen alasan papa tidak bisa menerima Airin bekerja di kantor, apa kamu lupa," ucap papa Sean.


"Tapi kan kasian pa dia, sudah tinggal sendiri dia juga cari-cari pekerjaan untuk hidup, apa papa tega tidak memberinya pekerjaan," bujuk Arsen


"Papa sayang kan dengan Arsen jadi tolong lah pa beri dia pekerjaan, gajinya papa bisa potongkan dari gaji Arsen nggak apa-apa asal wanita Arsen bisa bekerja di kantor papa, tapi papa tambah gaji Arsen," imbuh Arsen dengan terkekeh.


"Sama aja bohong. Anak kok minta seenaknya sendiri," gerutu papa Sean kesal sekali dengan Arsen. Dia meminta potong gajinya untuk gaji Airin tapi minta tambah.


Arsen terus memohon pada Papa Sean, bahkan kini dia memasang ekspresi puppy eyes untuk menarik simpati papa Sean. Melihat ekspresi Arsen yang memuakkan membuat Papa Sean bingung, dia sungguh tidak tega melihat anaknya yang terus memohon.


"Beri papa waktu untuk memikirkannya," kata papa Sean.


"Arsen tunggu kabar baiknya pa. Arsen sayang deh sama papa," sahut Arsen lalu mencium pipi papanya.


"Nggak usah menyogok papa dengan ciuman kamu, papa nggak butuh karena yang papa butuhkan ciuman dari mama," seloroh papa Sean yang membuat Arsen mencibirkan bibir.


"Papa ini, tua-tua masih me*sum saja. Apa nggak bosan dengan ciuman mama?" tanya Arsen.


"Nggaklah ciuman mama itu mood booster papa," jawab papa Sean dengan tertawa.


"Pa kunci mobilnya ya," kata Arsen


"Kamu nggak turun?" tanya papa Sean


"Nggak pa, mau ke rumah Airin," sahut Arsen.


Papa Sean hanya bisa menggelengkan kepala dengan kebucinan akut Arsen.


*********


Tin tin


Arsen membunyikan klakson mobilnya, Arsen heran dengan rumah Airin yang nampak gelap gulita dengan pintu terbuka.


"Kemana dia?" gumam Arsen lalu menyalakan lampu satu persatu.


Saat dia menengok kamar Airin nampak Airin sedang tidur dengan memeluk guling.


"Astaga sudah magrib masih saja tidur," ucap Arsen lalu duduk di tepi ranjang dimana Airin tidur.


Bukannya membangunkan Airin namun Arsen malah ikut berbaring yang membuat Airin kesempitan.

__ADS_1


Arsen langsung saja memeluk Airin dan mengecup keningnya.


"Aku pulang dari kerja langsung kesini untuk bertemu kamu tapi kamu malah tidur," gumam Arsen


Airin yang mengira Arsen adalah guling pun langsung memeluknya.


"Nyaman sekali guling aku." Airin mengigau sehingga membuat Arsen tertawa.


"Karena aku Arsen bukan guling," bisik Arsen yang seketika membuat Airin berteriak.


Aaaaaaaaa


"Arsen ngapain kamu di kamar aku?" tanya Airin lalu beranjak dari tempat tidurnya.


"Kamu tidur nyenyak sekali sehingga aku tidak tega membangunkan kamu," jawab Arsen.


Airin lalu melihat di luar jendela ternyata hari sudah gelap.


"Ternyata sudah gelap," gumam Airin lalu dia pergi keluar untuk menyalakan lampu namun Arsen sudah menyalakannya semua.


Airin kembali lagi ke kamar, dia melihat Arsen meletakkan tangannya di dahi dengan mata tertutup seakan ada yang dipikirkan.


Airin yang merasa kasian pun mendekat, saat di dekat Arsen dia melihat nafas Arsen yang teratur yang artinya Arsen telah tertidur.


"Kamu sangat tampan Arsen dengan pakaian ini," gumam Airin sambil menurunkan tangan yang Arsen letakkan di dahinya.


Arsen nampak tersenyum seolah tau apa yang kekasihnya katakan.


Karena hari semakin larut, Airin pergi mandi setelah mandi Airin keluar, saat melihat Arsen terlintas pikiran untuk mengerjainya.


Airin menggantung rambutnya yang basah tepat di wajah Arsen tentu aksi Airin ini mengganggu tidur Arsen.


Airin tertawa melihat Arsen terganggu tidurnya.


Perlahan mata Arsen terbuka, dia sungguh kesal sekali.


"Kamu apa-apaan sih sayang," gerutu Arsen dengan mengusap wajahnya yang basah akibat perbuatan Airin.


Airin terus tertawa hingga membuat Arsen menariknya dan dia jatuh dalam pelukan Arsen.


"Berani mengerjai aku jadi terima balasannya," kata


Arsen


Arsen mengungkung tubuh Airin dan langsung melahap bibir mungilnya.


Mereka berdua saling berpaut dan saling memburu hingga keduanya kehabisan pasokan oksigen.

__ADS_1


"Sudah Arsen nanti lagi,"


__ADS_2