
Setelah pulang dari kampus, Arsen pergi ke kamarnya, dia mencari jam tangan yang diberikan Airin saat ulang tahunnya kemarin.
"Mana ya," gumam Arsen dengan mencari jam tangannya.
Arsen yang tidak menemukan jam tangannya pergi keluar kamar dan bertanya pada art yang bertugas untuk membersihkan kamarnya.
"Bik, bik," panggil Arsen memanggil para art di rumahnya.
Para Art semua berkumpul karena mendengar panggilan Arsen.
"Siapa yang bertugas membersihkan kamar aku?" tanya Arsen.
"Saya, tuan muda," jawan salah satu Art
"Apa bibi tau jam tangan aku?' tanya Arsen
"Jam tangan apa Tuan muda? bukannya jam tangan tuan muda ada di dalam lemari Tuan," jawab art tersebut.
"Yang aku lempar di bawah," sahut Arsen
"Lo alah, jam itu. Ya udah saya buang. Jam tangannya remuk redam tuan," ungkap Art.
"Oh no." Arsen mengusap rambutnya dengan kasar, bagaimana nasibnya sekarang. Apa yang harus dia katakan pada Airin.
Art yang melihat Arsen juga takut, dia takut kalau Arsen akan memecatnya,
"Tuan muda jangan pecat saya," pinta art tersebut.
__ADS_1
"Nggak lah, aku bukan papa yang main pecat saat melakukan kesalahan, aku masih memiliki toleransi dan rasa kasian," jelas Arsen.
Art tersebut sangat lega karena Arsen tidak memecatnya.
Saat bingung dengan jam tangannya, Arcelo datang dengan pakaian formalnya.
"Arsen, kamu belum bersiap?" tanya Arcelo
"Belum, aku nggak ke kantor ya," jawab Arsen
"Kenapa?" tanya Arcelo
"Aku punya masalah yang menyangkut hidup dan masa depan aku," jawab Arsen.
"Apa itu?" tanya Arcelo lagi dengan raut wajah sedikit berubah,
"Aku menghilangkan jam tangan pemberian Airin," jawab Arsen.
"Lebih baik kamu bersiap, cepat kita sudah terlambat." kata Arcelo lalu mendorong tubuh Arsen.
Dengan malas Arsen membersihkan diri lalu bersiap dengan baju formalnya.
Kini mereka bersiap untuk pergi ke kantor, dan sepanjang perjalanan Arsen nampak bingung.
"Tenanglah Arsen, nanti kita beli jam tangan yang sama dengan yang dibelikan Airin," hibur Arcelo
"Tapi aku lupa bentuk dan modelnya Arcelo," sahut Arsen, "Entah apa merk jam tangannya, aku juga lupa," imbuh Arsen.
__ADS_1
"Ya bilang terus terang saja kalau gitu," sahut arcelo
"Aku takut dia akan marah, asal kamu tau dia sampai mengambil tabungannya demi membelikan aku jam tangan itu," ucap Arsen
"OMG," timpal Arcelo
"Jam tangan itu couple dengan miliknya, jika nggak sama kan ketahuan," kata Arsen
Arcelo nampak berfikir, sambil menatap arah depan, tak berselang lama sampailah mereka di kantor.
Arsen dan Arcelo turun dengan gaya khas mereka, meskipun masih belum dewasa namun gaya-gaya mereka cukup mampu membuat para pegawai jatuh hati.
Tak berselang lama Arsen dan Arcelo sampai di ruangan papa Sean.
Tanpa mengetuk pintu mereka langsung saja masuk, "Siang pa," sapa Arsen dengan lemas.
Melihat anaknya yang tidak semangat membuat papa Sean bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan anaknya.
"Kamu kenapa?" tanya papa Sean
"Arsen punya masalah besar pa," jawab Arsen
"Masalah apa?" tanya Papa Sean penasaran.
"Arsen menghilangkan jam tangan pemberian Airin saat ulang tahun kemarin pa," jawab Arsen
"Astaga Arsen! Arsen! papa kira karena apa la ternyata hanya masalah kecil begitu," sahut arsen heran.
__ADS_1
Mendengar kata papanya membuat Arsen melemas, bisa-bisanya papa Sean bilang kalau masalahnya hanya masalah kecil.
Arcelo membisikkan sesuatu pada Arsen yang membuat Arsen tersenyum.