
Sesudah mengantar Airin, Arsen segera pulang karena dia ingin segera berbicara pada papanya terkait kerjaan untuk Airin.
Arsen memarkirkan mobilnya sembarang, dia melemparkan kunci mobilnya pada sopirnya.
"Pak tolong parkir yang rapi mobilnya," kata Arsen yang langsung pergi begitu saja.
Arsen mencari papanya di ruang kerja tapi nggak ada, "Ah kalau sudah di kamar pasti lagi panjat memanjat," ucap Arsen
Arsen kemudian menelpon papanya namun tidak dijawab, Arsen tak putus asa, dia menghubungi papanya lagi dan lagi-lagi tidak diangkat.
Arsen yang kesal menghubungi lagi dan yang terakhir baru diangkat papanya.
"Ada apa sih Arsen, ah," tanya Papa Sean dengan sedikit mende*sah.
"Arsen mau bicara pa," jawab Arsen
"Besok saja, papa sibuk," sahut papa Sean, dan ada suara mamanya yang sedikit mende*sah juga.
"Sibuk apa? panjat memanjat kan?" ucap Arsen dengan penuh penekanan.
"Kamu anak kecil tau apa," sahut papa Sean
"Pokoknya Arsen ingin bicara sekarang, masalah Arsen lebih penting dari urusan negara jadi papa harus keluar, Arsen tunggu kalau nggak Arsen masuk kamar papa nih dan ganggu panjat memanjat kalian," ancam Arsen
"Iya iya," sahut papa Sean dengan nada yang berat.
Di kamarnya papa Sean melanjutkan panjat memanjatnya, papa Sean segera mempercepat laju rudalnya hingga dengan cepat dia mendapatkan pelepasannya.
"Arsen berengsek," umpat Papa Sean saat dapat pelepasannya.
__ADS_1
Papa Sean segera memakai pakaiannya, "Maaf ya sayang, cuma dua ronde," kata papa Sean
"Iya nggak papa," sahut mama Arini.
"Kamu menyelamatkan mama Arsen," batin mama Arini senang dengan senyum-senyum sendiri.
"Nanti lanjut lagi," kata papa Sean yang membuat mama Arini melemas.
Papa Sean membersihkan rudalnya dengan tisu basah dan kemudian beliau keluar untuk menemui Arsen.
Ternyata Arsen sudah menunggu di ruang kerja papanya.
"Ada apa sih Arsen?" tanya papa Sean
"Gini pa, Arsen mau tanya pekerjaan untuk Airin," jawab Arsen
"Iya pa, ini penting sekali buat Arsen dan bahkan lebih penting dari urusan negara," jawab Arsen
"Tapi nggak penting untuk papa Arsen," sahut papa Sean kesal
"Penting juga pa, kalau Arsen sedih kan papa dan mama ikut sedih juga," timpal Arsen.
Papa Sean hanya bisa menggelengkan kepala, debat dengan Arsen tidak akan menang.
"Jadi gimana pa?" tanya Arsen.
"Begini Arsen setalah papa diskusikan dengan om Nick, kelihatannya Airin tidak bisa bekerja di kantor mengingat kalian kerja kan juga hanya sebatas membantu, kami para papa mengikuti jam kuliah kalian, para pegawai mungkin bisa memaklumi posisi kalian tapi kalau ada orang lain papa takut menimbulkan iri," jelas papa yang membuat Arsen berfikir.
"Lalu bagaimana dong pa, kasian dia. Tadi habis saja dipecat. Lalu bagaimana dia membayar kuliahnya?" tanya Arsen
__ADS_1
"Gini saja, bilang pada Airin kalau nilai IP nya minimal 3,70 papa akan bicara pada pihak kampus supaya memberikan beasiswa penuh," jawab papa Arsen.
"Dan untuk lainnya kamu bisa menolongnya kan kamu sudah bekerja," imbuh papa Sean.
Arsen nampak tersenyum,
"Papa is the best, i love more pa," kata Arsen lalu mencium papanya.
"Kalau gini saja cium-cium," sahut papa Sean
Arsen terkekeh, bagi Arsen papanya memang the best, karena tidak ada yang dibicarakan lagi papa Sean kembali lagi ke kamar.
"sudah papa mau istirahat, jangan ganggu papa, OK!' kata Papa Sean lalu meninggalkan anaknya.
"Papa papa, tapi Arsen salut dengan papa yang selalu sayang ma mama," gumam Arsen lalu dia ke kamarnya untuk istirahat juga.
Keesokannya Arsen menyampaikan apa yang telah disampaikan papa Arsen padanya kemarin.
"Aku nggak enak Arsen, pasti kamu yang memintanya kan?" tanya Airin
"Kenapa nggak enak? kamu tinggal belajar saja supaya nilai kamu sempurna, sehingga kamu dapat beasiswa full," jawab Arsen
"Baiklah kalau begitu," sahut Airin.
"Kita bisa belajar bersama," timpal Arsen.
Saat asik mengobrol Arsen melihat Wanda cs, dia kini baru ingat kalau ada urusan yang belum selesai dengan mereka.
"Airin aku harus pergi karena ada urusan," pamit Arsen lalu dia menghubungi Arcelo dan juga Arthur untuk kumpul karena ada misi penting.
__ADS_1