4 Penguasa Kampus

4 Penguasa Kampus
Ke pantai


__ADS_3

Mama Putri dan papa Daffa keluar, mereka heran dengan Aaron kenapa nggak bersiap padahal sebentar lagi pesawatnya berangkat.


"Aaron sayang, kamu nggak bersiap?" tanya Mama Putri


"Iya ma, ini mau berangkat," jawab Aaron


Kini mereka semua pergi bersama ke Bandara untuk mengantar Aaron, dengan sedikit mengebut akhirnya sampai juga di Bandara Internasional.


Aaron memeluk mama dan papanya nampak mama Putri bersedih karena akan ditinggal Aaron satu bulan.


"Pa aku cuti dulu ya," kata Aaron dengan terkekeh


"Iya, kamu itu apaan baru kerja sebentar udah cuti," sahut Daffa


"Maaf pa, maklum masih muda jadi masih labil," timpal Aaron yang membuat papa Daffa tersenyum.


Aaron mendatangi para sahabatnya, "Aku pamit ya guys, jika kalian rindu padaku sebut saja namaku tiga kali pasti aku muncul di hadapan kalian," kata Aaron


"Memangnya bisa begitu Aaron?" tanya Airin dengan polosnya.


"Dasar otak jongkok, ya nggak lah! mana mungkin bisa seperti itu," sahut Arthur kesal dengan kepolosan Airin.


"Mending aku otak jongkok, kan masih ada otaknya la kamu malah nggak ada otaknya jadi gak ada yang mengontrol tu bibir sehingga asal bicara," timpal Airin.


Aaron, Arcelo dan Arsen tertawa melihat kekesalan Arthur, memang sekali-kali harus disakmat tu Arthur.


"Bisa kok Airin kamu coba saja kalau kamu rindu padaku sebut namaku tiga kali aku pasti datang." Aaron menjawab pertanyaan Airin sebelumnya.

__ADS_1


Arsen nampak kesal dan itu hanya membuat Aaron tersenyum.


Karena pesawat akan segera lepas landas Aaron memeluk semua sahabatnya lalu Airin, meski Arsen kesal namun kali ini dia mencoba untuk tidak marah toh ini juga peluk biasa.


Aaron berjalan menjauh dari mereka semua sesekali dia menengok ke belakang dan melambaikan tangan.


Setelah Aaron masuk, mama Putri dan Papa Daffa pamit pulang terlebih dahulu begitu pula dengan Arcelo dan Arthur, mereka tidak ingin mengganggu Arsen dan Airin pacaran.


"Kami balik dulu," pamit Arcelo dan Arthur


"Ok," sahut Arsen dan Airin.


Arsen mengajak Airin jalan-jalan karena dia sungguh rindu dengan Airin.


"Kita jalan-jalan ke pantai yuk, sekalian lihat matahari terbenam," ajak Arsen


Sepanjang perjalanan mereka berdua nampak canggung, Airin melemparkan pandangannya ke luar jendela.


"Airin jangan keluar kampus ya," pinta Arsen


"Entahlah Arsen, ingin sekali aku keluar kampus B.A tapi bunda melarang aku," kata Airin yang membuat Arsen tersenyum


"Tapi aku akan menyakinkan bunda lebih keras lagi, supaya bunda setuju," imbuh Airin.


Setelah tersenyum kini Arsen nampak lemas, sungguh dia tidak membiarkan Airin keluar.


"Apa yang membuat kamu ingin sekali keluar? apa karena sikap aku?" tanya Arsen

__ADS_1


"Salah satunya itu tapi alasan utamanya karena aku nggak tega dengan ayah aku Arsen, mahalnya biaya kuliah di B.A membuat aku kasian dengan orang tuaku, lagipula masih banyak kampus bagus dengan biaya yang lebih murah," jawab Airin.


"Nggak kamu nggak boleh keluar, kalau masalah biaya jangan khawatir aku sudah bekerja sekarang, gajiku cukup untuk biaya kuliah kamu atau aku ngomong pada papa supaya kamu diberi beasiswa full nggak cuma separuh," sahut Arsen.


Airin hanya tersenyum, tentu dia tidak mau menerima bantuan dari Arsen. Arsen adalah orang lain, tentu sangat tidak pantas menerima bantuan orang apalagi yang nilainya cukup banyak.


"Kita lihat nanti lah," kata Airin ambigu.


Meskipun ambigu namun cukup membuat Arsen lega pasalnya masih ada harapan Airin untuk tidak keluar dari kampus.


Kini mobil Arsen sampai di pantai, mereka berdua turun dan berjalan menyusuri tepi pantai, Arsen menggandeng tangan Airin dengan erat seolah tidak akan melepaskannya.


"Berjanjilah padaku apapun yang terjadi jangan pernah sampai berubah, tetaplah di sisiku sampai nanti," kata Arsen yang mampu membuat Airin menghentikan langkahnya lalu menatap Arsen.


"Aku janji," sahut Airin.


Arsen yang senang tentu langsung memeluk Airin, mereka berciuman dengan background matahari terbenam sehingga para pengunjung lain pada iri dengan kemesraan meraka berdua.


"Kalau ciuman jangan disini dong, bikin pengen saja," kata pengunjung lainnya.


Arsen tidak menggubris kata-kata orang, dia tidak ingin melewati momen langka tersebut.


Puas berciuman mereka melanjutkan jalan-jalannya, Airin nampak malu dan untuk menguraikan rasa malunya Airin membasahi baju Arsen dengan air dan kemudian dia berlari, Arsen yang kesal mengejar Airin yang sudah jauh di depan.


"Hey sayang, awas kamu ya," teriak Arsen.


Airin menoleh dan menjulurkan lidahnya, Arsen yang gemas berlari dengan kencang dan hampir saja menangkap Airin.

__ADS_1


__ADS_2